Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Siapa sebenarnya?


Pangeran Wijayakusuma dan juga Rubah sedang menunggu dengan perasaan tak menentu.


Disisi lain Abi dan Dewi Sekar masih mengobrol.


"Bunga Saloka unggu ambilah satu kelopaknya dan masukan segera kedalam mulutmu" perintah Dewi Sekar Arum sambil melihat Abi yang memandang bunga ditangannya dengan Ekspresi takjub.


"Lakukanlah, untuk memulihkan stamina mu. sepulang dari sini berendam di telaga dan kau praktikkan di sana apa yang kau pelajari didalam labirin itu. Setelah selesai semua teknik beladiri itu kau praktikan kau akan merasakan manfaatnya." Ujar Dewi Sekar Arum.


Abi menurut tanpa kata, ia memasukan kelopak bunga itu kedalam mulutnya, terasa sensasi unik yang sulit digambar dingin hangat manis dan tentunya membuat energi Abi terisi penuh kembali.


"Terimakasih Dewi, sudah saatnya saya kembali." pamit Abi sambil menatap Dewi Sekar yang berada dihadapannya.


"Baiklah, aku yakin kamu akan datang kemabli nanti!. aku punya hadiah untuk ibumu bawalah dan berikan padanya." Ucap Dewi Sekar sambil tersenyum manis.


"Untuk Bundaku." sahut Abi.


"Ya untuk Ibunda Mu rendamlah bunga teratai emas ini dengan Air terjun yang berada ditempat Kakek buyut Mu, bari minum Ibunda Mu setiap hari, sampai bunga ini mekar jangan memindahkan dari air." ungkap Sang Dewi serius.


"Apa manfaatnya?" tanya Abi bingung.


"kau harus memiliki saudara nak, saudaramu akan menjadi lawan dari anak wanita Iblis itu kelak." tukas Dewi Arum sambil tersenyum penuh misteri.


Abi menerima teratai emas yang diberikan Dewi Sekar dengan perasaan dan hati tak menentu.


"pejamkan matamu kau akan ku antar kembali." perintah Dewi Sekar Arum


"Abi dengan cepat melakukan."perintah Sang Dewi karena mengingat Waktu yang semakin sempit, meski dalam hatinya masih banyak pertanyaan.


Air di danau terlihat melakukan pergerakan gelombang besar terjadi hingga munculah sosok Abi membawa setangkai bunga Ungu nan cantik dan bercahaya.


"Tuan Abi!!.... teriak Rubah girang


Pangeran Wijayakusuma segera memerintah gagaknya menjemput Abi, agar Abi dapat segera sampai ke tapi danau.


gagak menggigit baju Abi di bagian leher membawa terbang ke sisi pangeran Wijayakusuma yang menantinya dipinggir danau.


"maafkan saya jika membuat cemas." ucap Abi sambil cangar cengir.


" Anda berhasil mendapatkan bunganya Tuan?" tanya Rubah menimpali dengan eskpresi bahagia


"Ya aku berhasil meski banyak rintangan yang harus ku lewati." Jawab Abi sambil tersenyum kecut.


"pangeran Wijayakusuma terimakasih atas bantuannya kami harus segera kembali." ungkap Abi.


"tidak perlu sungkan ijinkan kami mengantarmu sampai ke depan hutan ini." ujar Wijayakusuma sambil tersenyum tulus.


"Apa itu tidak merepotkan Mu?" tanya Abi sambil melirik gagak hitam yang bertengger di bahu Pangeran Wijayakusuma.


"Tidak sama sesekali Tuan kami berdua bahkan berniat mengabdikan diri pada Tuan." sahut Pangeran Wijayakusuma mantap.


"mengikuti?" tanya Abi memastikan pendengarannya.


"Benar Tuan Abi pangeran Wijayakusuma sudah menceritakan niatnya pada saya." ungkap Si Rubah membenarkan.


"Bagaimana dengan orang tua pangeran, alangkah lebih baik jika pangeran meminta ijin terlebih dalu. dan pastikan Adik perempuan pangeran ada yang menjaganya setiap waktu." Tukas Abi sambil berjalan mendekati burung gagak yang telah mengubah ukurannya menjadi besar.


"heeeemmmm baik, setalah memastikan Tuan selamat keluar dari hutan ini saya akan kembali ke istana. Apa ada yang ingin mencelakai adikku itu?" tanya Wijayakusuma penasaran.


"Ya adik perempuan pangeran sengaja dibuat lumpuh entah untuk tujuan apa!" tegas Abi.


Abi dan pangeran Wijayakusuma segera mengikuti. sang gagak segera terbang menuju telaga sesuai instruksi Rubah.


"sebaiknya aku membawa serta Dewi Saraswati keluar dari istana, percuma hidup di istana tapi tak pernah dianggap, hanya melakukan kesalahan kecil kami akan mendapatkan hukum berat layaknya rakyat jelata. Aku dan Adikku terlahir dari rahim seorang selir Romo itulah yang membedakan kami dengan pangeran Wiranggeni." cerita Wijayakusuma sambil memandang kosong lurus ke depan.


"Biarkan Wijayakusuma dan Dewi Saraswati ikut denganmu mereka akan menambah sekutu kita melawan wanita berhati Iblis itu." suara Raden Mas terdengar jelas ditelinga Abi meski hanya melalui telepati.


"Pangeran aku mengijinkan Pangeran serta Dewi Saraswati ikut bersamaku tapi setalah aku memastikan tempat tinggal yang layak dan Aman untuk kalian." ucap Abi melirik sekilas pangeran Wijayakusuma.


"Benarkah Tuan bersedia mengajak kami ikut bersama?" tanya Wijayakusuma memastikan pendengarannya sambil menatap Abi.


Abi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul.


"Terimakasih Tuan Abi" sahut pangeran Wijayakusuma sambil mencabut satu bulu gagak yang mereka tunggangi membuat sang Gagak mengeram.


"Ambillah bulu gagak ini dan panggil aku mengunakan itu dengan cara melemparkannya ke udara sambil memanggil namaku." jelas Wijayakusuma menyerahkan satu bulu hitam gagak.


Abi mengambilnya lalu memasukan kedalam saku celana miliknya.


sang Gagak menukik turun hingga sampai ditepi telaga.


tak ingin berlama-lama Abi masuk kedalam telaga sambil memejamkan mata mengingat kembali teknik pedang yang ia pelajari didalam labirin beberapa saat yang lalu.


Dengan perlahan Abi menggerakkan tangannya begitu ia ingat jurus pertama.


Abi terus bergerak lincah didalam telaga air di sana tak lagi tenang jurus demi jurus ia praktikan di sana membuat tiga pasang mata berdecak kagum.


mata Pangeran Wijayakusuma tak berkedip kala melihat permukaan air di danau mengambil sepersekian detik berikutnya menjadi serpihan Es.


"Elemen Es." gumam pangeran Wijayakusuma pelan.


Abi bahkan mampu membaut senjata dari Es yang membeku. selesai mengunakan satu jurus Abi lanjut ke jurus yang kedua ia duduk di atas air danau yang membeku.


Pangeran Wijayakusuma menatap dengan seksama apa yang akan Abi lakukan selajutnya.


Tangan Abi bergerak seperti mengngapak berdiri dengan satu kaki air yang semula beku mencair hanya dalam hitungan detik. Daun Aceng gondok yang tumbuh didalam telaga layu akibat Air yang yang mendidih didalam telaga.


"Elemen Api." tutur Wijayakusuma di angguki Rubah.


Jurus yang ketiga Abi membuat tanah di hutan bergetar dan membetuk satu buah pedang lalu terbang menebang satu pohon tak jauh dari telaga.


Angin berhembus kencang menerbangkan dedaunan daun-daun itu menjadi tajam dan mampu menggores batang pohon ada pula yang mencap di pohon.


"Elemen tanah." Terang Rubah sambil memamerkan giginya.


Elemen Api dan tanah serta elemen listrik dan badai lima Elemen itu dikuasai oleh Abi selesai mempraktikkan semua sajak kutukan didalam telaga Abi meringankan tubuhnya dan berjalan di atas Air dengan santai.


Ayo kita keluar dari hutan itu sebelum waktuku habis ajak Abi.


Pangeran Wijayakusuma melihat aura Abi begitu menakutkan ia baru pertama kali melihat manusia menguasai begitu banyak elemen dan mampu mengendalikannya dengan sempurna.


belum lagi aura dewa penyembuh dimiliki oleh Abi membuat Wijayakusuma bertanya dalam hatinya siapa sebenarnya pemuda yang ada dihadapannya ini.


kulit Abi menjadi lebih bersih sorot matanya menjadi tajam membuat siapa saja yang berdekatan dengannya melihat aura dimilikinya bergidik ngeri.


saat semua mata tertuju padanya termasuk beberapa binatang yang ada didalam hutan Abi memejamkan matanya berbicara pada kakeknya untuk menutup Auranya segera.