
Marcella manjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat dimana Umi dan Yusuf dirawat.
saat mememasuki rumah sakit datak jantung Marcella berdetak lebih cepat.
Ada apa ini kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak batin Marcella.
"Anak itu ada disini Cella sebaiknya cepat selesaikan urusanmu lalu pergi." ucap Nek Cella melalui batin Marcella.
tok-tok Marcella menegetok pintu kamar rawat Yusuf dengan tangannya.
"Masuklah." ucap Yusuf.
Empat ornang yang berada didalam ruangan itu menegok ke arah pintu secara bersamaan dan menyambut Marcella dengan senyuman.
Dada Marcella terasa sesak tak kala bertemu padang dan Mata Kyai Hasan.
"Maaf mengganggu apa Saya bisa berbicara berdua saja dengan Dokter Yusuf." minta Marcella sambil berdoa dalam hati semoga Dua orang tokoh agama itu segera pergi.
Kyai Hasan tersenyum simpul lantas beranjak pergi diikuti oleh Abi dan Juga Ustzd Akbar.
Marcella mendekati Yusuf dan duduk di kursi yang berada di dekat ranjang pasien.
"Aku kesini karna ingin meminta Dokter mencabut tuntutan atas nama Defvan." ungkap Marcella langsung pada intinya.
Yusuf mengernyet binggung
"Ada apa dengan Defvan? saya tidak pernah melaporkan Devfan kepada Pihak berwajib." jawab Yusuf.
"Istri Anda yang melaporkan dan menuntut anak saya atas khasus penembakan hari itu." jelas Marcella.
Yusuf memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pusing. Yusuf mencoba menggingat kembali penembakan di sekolah Abi.
"Baiklah saya akan menjelasakan nanti pada polisi kronologi kejadiannya." tukas Yusuf.
"terimakasih Dokter, saya percaya Anda orang baik terlebih lagi Devfan adalah salah satu pasein Anda." sahut Marcella sambari tersenyum manis.
"Tapi saya tidak menjamin putra Anda bebas karna melakukan penyerangan dengan senjata tidak dibenarkan di negera kita." ucap Yusuf sambil menatap ke arah pintu kamar.
"Ya, tapi jika Anda selaku korban mencabut tuntutan bukankah Defvan akan bebas." Ucap Marcella sambil berdiri dari tempatnya duduk dan menatap mata Yusuf.
Yusuf tersenyum dan berucap "tak perlu menatap saya seperti bu, setelah selesai jam makan siang akan ada anggota kepolisian yang datang kemari untuk meminta penjalasan terkait dengan penembakan yang dilakukan oleh Defvan." jelas Yusuf ramah.
"Baiklah jika demikian saya permisi dulu, saya berharap Dokter mancabut tuntutan pada putra saya." minta Marcella latas berjalan pergi meninggalkan Yusuf seorang diri.
Sambil berjalan ia berkali-kali menarik napasnya lalu membuangnya kasar.
"Kenapa Dokter itu tidak terhepnitis oleh tatapan mataku." batin Marcella mengompat.
"Cella lelaki itu taat beribadah ia selalu menggingat Tuhannya setiap saat meski hanya di dalam hatinya." sahut Nek Cella melalui batin Marcella.
"bagitu rupanya, akan sulit bagiku menyelayapkannya." uangkap Cella dalam hatinya.
"gunakam cara yang lain." sahut Nek Cella.
Di sisi lain Abi dan Kyai Hasan sedang mengobrol akrab.
Nak Abi apa yang kamu rasakan saat Marcella berada di dekatmu tanya Kyai Hasan.
"Gelap, Nenek Dikelilinggi oleh sesuatu yang gelap." ucap Abi sambil tersenyum.
"kamu benar nak, sepetinya matamu peka terhadap sesuatu yang gaib." sahut Kyai Hasan
"ini hanya kebetulan saja pak Kyai." sangkal Abi
"pardalam lah ilmu Agamamu nak, suatu hari itu akan sangat membatumu nasehat." pak Kyai Hasan.
"Abi memang berniat ke padepokan untuk memperdalam Agama tapi Bunda belum mengijinkannya." sahut Abi.
"Banerkan." sahut Abi antusias.
"ya tentu saja nak." sahut Kyai Hasan.
Ustazd Akbar datang membawa beberapa bungkus makanan dan buah.
"Assalamualaikum," sapa Ustzd Akbar
"Walaikum salam." sahut Kyai Hasan dan Abi hampir bersamaan.
"ayo kita makan bersama sama." ajak Ustzd Akbar sambil menyerahkan nasi bungkus pada Abi dan Kyai Hasan.
ketiganya makan dalam diam menikmati setiap sedokan yang masauk kedalam mulut mereka.
Di lain tempat terlihat Mars sedang mengobrol dengan Defvan.
Ibu tirimu itu sudah menenmukan lelaki yang menembakmu Defvan, ia menyuruh dan membayar seseorang mencari pengemis yang ingin menikam putramu. dan saat di jalan sebelum sampai ke kantor polisi mobil yang di kemudikan orang suruhan Marcella berhenti. kedua orang yang ada didalam kekuar dan terlibat cekcok lalu secara tiba-tiba pengemis itu kenikam orang suruhan Marcella dengan Belati. cerit Mars.
"apa mengemis itu mencoba kabur setelah berhasil melukai orang suruhan Marcella?" tanya Devfan.
"Iya Def tapi warga yang melihat kejadian itu dengan cepat bertindak higga pengemis itu tertangkap." ucap Mars.
"Aneh sekali mobil itu segeja dihentikan hanya untuk adu mulut dan berahir dengan luka. apa ini semua disegaja?" tanya Defvan.
"Maksud Anda orang itu segeja meminta pengemis itu menusuknya dengan pisau?" sahut Mars balik bertanya.
"ia tujuannya agar pengemis itu mendekam di penjara dan mengakui semua kejahatannya selam ini." tukas Defvan dengan wajah serius.
"apa ada iformasi lain?" tanya Defvan.
"saat ini aku sedang berusaha mencari informasi orang suruhan Ibu tirimu itu tapi aku kehilangan jejaknya." ungkap Mars.
"terus awasi pergerakkannya Mars aku takut dia mencelakai anakku." ucap Defvan.
"hemmmmm baiklah jika begitu aku pamit dulu, Ayahmu mengajakku bertemu. oh ya kemaren ibu tirimu itu menemui Dokter Yusuf di rumah sakit." cerita Mars.
"Sertinya wanita itu benar-benar memanfaatkan keadaanku saat ini." sahut Defvan.
"aku rasa begitu." ucap Mars sambil berlalu meningalkan Defvan.
Defvan memandang punggung sahabatnya yang sedang berjalan menjauh.
Di tempat lain Kyai Hasan dan Ustzd Akbar sedang membicarakan Marcella.
"Wanita itu seperti mengincar Yusuf, untungnya sebelum keluar dari dalam kamar perawatannya aku sempat membuat pagar gaib untuk melindunggi Yusuf." ucap Kyai Hasan bersyukur.
jika begitu kita berbagi tugas saya kakak kedua bagaimana jika Kyai melindunggi Yusuf dan Abi semantara aku melindunggi Umi dan Risa Dan Ratih. saran Ustzd Akbar.
"baiklah jangan sampai kita kecolongan seperti dulu." ucap Kyai Hasan.
"Ya aku akan menelpon kakak pertama dan membarikannya kabar, ia pasti kyawatir." lanjut Ustzd Akbar.
Ya nanti kita bicarakan dengan umi yusuf dan Risa tentang Abi yang harus kita bawa kepadepokan secepstnya Tukas kyai Hasan.
Di lain tempat Marcella sedang bersiap mengadakan ritual di sebuah kamar khusus miliknya
Kini Marcella membakar dupa meletakan sesajin kembang tujuh rupa kue 41 macam tak lupa sop tulang manusia sebagai makanan kesukaan putri Arum Nilam Cayha.
Marcella memakai pakaian kebaya serba hitam dan sebuah selendang warna merah darah Marcella menyalakan lilin lulu duduk dengan tangan disatukan di dada dan merapalkan sebuah mantara berharap bisa masuk kedalam batu tempat terkurungnya Putri Arum.
Marcella tiba-tiba di kelilingi oleh sebuah Asap hitam taklama kemudian rohnya ditarik masuk kedalam sebuah batu berwarna hitam yang terletak di altar pemujaan.
Mawar yang segaja dibuat tak sadarkan diri di letakan di sebuah peti mati dengan taburan bunga tujuh rupa Marcella juga sudah meriasnya hingga wajahnya terlihat begitu Cantik. baju kebaya putih nan elegan tampak melekat pas di tubuh mungilnya.