
Abi terdiam mendengar ucapan putri Larasati ia tau semua ini bukanlah hal yang baik bagi sang Ayah.
Dari arah sebuah kamar Zahra berlari sambil berteriak
Kyai, Tolong Abuya..!! Ucapnya sambil mengatur napas.
"Tanangkan dirimu nak Zahra, ada apa?" tanya Kyai Hasan ramah.
"Abuya kejang-kejang Kyai." sahut Cepat Zahra.
"Abi segera bergegas berjalan menuju kamar Ustadz Akbar di ikuti kyai Ahmad sedang kyai Hasan dan Wijaya menuju kamar Yusuf di ikuti oleh Larasati serta Devan.
" Bagaimana ini siapa yang akan membatu Amaira, bila semua masalah datang secara bertubi-tubi begini." gumam Devan terdengar oleh larasati.
"Dimana tepatnya? apa nama kampung Amaira berasa?" tanya Larasati sambil menghentikan langkahnya pertanyaan yang membuat Devan terperajat kaget.
Devan mengingat kembali nama Desa yang sempat ia lihat di gerbang masuk tempat Amaira berada.
" Desa Wisageni." cicitnya merasa kurang yakin.
" Wisageni Atau Wisesageni?" tanya balik Laras sambil menatap lekat Devan.
Deggggg.....
Devan tiba-tiba merasa kikuk di tatap oleh wanita cantik seperti putri Larasati.
"Maaf aku tidak hanya membacanya sekali lihat karena mereka menyeretku masuk dengan cepat." jawab Devan dengan raut wajah sendu.
"Aku akan membantumu, ayo ikut denganku..!!" seru Putri larasati sambari melangkah menuju belakang.
Mendengar Larasati ingin membantu Devan terkejut sekaligus senang, ia tidak menyangka namun jugay tidak terlalu yakin apa larasati benar-benar dapat membantunya.
"Cepat ikuti aku, atau bila kamu ragu aku mengubah keputusanku...!!" ancam putri Larasati.
Mendengar ancaman Larasati Devan segera menyusul Larasati yang berjalan menuju belakang rumah, disana terdapat kolom renang.
"Duduk saja kamu di kursi itu lihat dan perhatikan terus kolam renang ini bila ada teriakan minta tolong atau sebuah benda mengapung apapun bentuknya termasuk orang mengapung diatasnya seret ketepi kolam dan percikan air di botol ini." ujar Putri Larasati sambil membulak balik satu tangannya lalu muncullah satu botol air meneral.
Devan tercengang." apa wanita ini penyihir? " batinya bertanya.
" Aku bukan penyihir. " jawab Larasati sambil meletakkan botol berisi Air meneral kesampingnya sedang ia duduk bersila di lantai keramik.
"Jangan terlalu banyak berpikir ingat tugasmu dan laksanakan baik benda hidup ataupun benda mati yang kamu temukan percikan dengan air di botol itu sambil membaca bismillah." perintah Putri Laras detik berikutnya ia menyatukan kedua tangannya di dada dan memejamkan mata.
" Wanita ini tidak ada manis manisnya saat berbicara, perintahnya juga tidak masuk di akal, apa benar ia bisa membantuku? " gumum Devan sambil menatap kolam.
" Ikuti saja Dev, Laras bahkan wanita biasa aku yakin dia bisa melakukannya dan membawa Amaira dengan selamat..!!" seru Mars sambil melangkah mendekati sahabat lamanya.
" Mars memperhatikan Larasati wajah yang cantik putih dan mulus terlihat bercahaya dibawah cahaya sang rembulan." Sudut bibir Mars tertarik membentuk sebuah senyuman.
Devan yang menoleh mendapati sahabatnya tersenyum manis untuk seorang wanita mengerutkan dahinya.
Mars diam saja ia sedang melamun entah apa yang di pikiran oleh lelaki itu, namun matanya masih setia menetap Larasati dan senyuman dibibirnya tidak luntur.
" Seperti Mars menyukai wanita itu, baiklah Mars aku mengalah padamu jujur aku juga tertarik padanya berharap dia bisa menjadi istri terakhirku." batin Devan.
Di sisi lain, Yusuf dan juga Ustadz Akbar sedang berada di tepat puntri Arum barada tempat itu ternyata dijaga oleh banyak sekali para abdi setianya.
Ustadz Akbar melawan mereka dengan berakal ilmu agama yang selama ini ia pelajari. Sedang Yusuf mengunakan ilmu bela diri yang sudah ia pelajari dari Abi dan ilmu bila diri yang disertai oleh hati yang selalu berzikir, Yusuf percaya zikir yang ia baca dapat menjaga dirinya dari iblis.
Ustadz Akbar sudah mendapatkan luka-luka di sebagian tubuhnya namun tekatnya tidak berubah sedikitpun. Apalagi setelah menyadari Yusuf datang membantunya.
Jumlah mereka bgitu banyak salah satu diantara kami harus mengorbankan diri batin batin Yusuf.
Ia mengkis setiap serangan dan perlahan maju berharap bisa menghampiri Ustadz Akbar dan bebucara padanya.
Begitu sampai Yusuf segara berbisik "menyusuplah masuk cari tamat putri Arum rum melepas raga." ujar yusuf.
Ustadz Akbar yang mengerti maksud Yusuf mengangguk setuju.
Tiba-tiba seorang wanita berjubah merah muncul lengkap dengan topeng diwajahnya ditanganya ada sebuah tongkat. Auranya sungguh membuat semua abdi putri Arum menjadi patung.
Wanita memegang pundak Yusuf dan juga ustadz Akbar lalu membawanya menghilang secepat kilat.
"Cepat." ujarnya begitu sampai di sisi putri Arum.
Yusuf dan Ustadz Akbar bingung dan ingin bertanya namun wanita itu segera menunjuk putri Arjm yang duduk sendiri di sebuah batu.
Ustadz Akbar memberikan satu paku emas untuk Yusuf lalu menatapnya Yusuf mengangguk menurut secara bersamaan telapak kaki putri Arum.
Wanita bejubah merah melihatnya tersenyum lalu menggunakan kekuatan miliknya untuk memasukan paku emas agar tidak meyerap perlahan kekuatan milik putri Arum.
Wanita mengerakan tangkat miliknya mengarah ke arah Putri Arum sebuah mantra kono dibaca olehnya lambat sebuah cahaya biru muncul dari permukan tongkat detik berikutnya tongkat miliknya berubah bukan lagi kayu biasa tapi menjadi sebuah tongkat nan elegan bak tongkat seorang ratu di atas tongkat itu terdapat tiga buah batu putih merah dan biru batu itu nengeluarkan cahaya yang mampu menarik kekuatan putri Arum sekaligus menekan paku di kaki sang Wanita iblis itu masuk kedalam hingga menghilang di permukan kulit.
Sebalum tongkat itu berubah kembali menjadi tongkat biasa ia membuka sebuah fortal gaib lalu memerintah Yusuf dan Akbar masuk secepatnya.
Capat keluar dari sini aku hanya bisa melakukan ini untuk kalian serahakan tongkat ini pada kyai Ahmad ujarnya seraya menyerahkan tongkat itu pada ustadz Akbar lalu mundur kebelakang putri Arum.
"Ikutlah dengan kami." ajak Yusuf.
Tidak tugasku belum selesai cepat lihatlah fortal gaib itu sebentar lagi akan menghilang. Meski aku sendiri tidak tau dimana kalian akan keluar nanti setelah masuk tapi yang pasti tempat itu cukup jauh dari sini ujar Wnaita itu.
Akbar segera menarik Yusuf masuk sebelum fortal gaib itu menghilang tak lupa ia membawa tongkat milik wanita berjubah itu misterius itu.
Wanita berjubah merah itu sekali lagi membaca mantara, jubah ia gunakan berubah menjadi warna hitam dan ada pula tongkat besi ditanganya, wajahnya Terlihat pucat ia memeganggi dadanya yang terasa sesak dan sakit ternyata kekuatan yang digunakan untuk menarik kekuatan milik putri Arum sangatlah besar buktinya wanita itu terlihat lemas dan lelah.
"Ratu." ujarnya parau.
Wanita kemudian menaruh cincin berbatu merah tepat di hadapan putri Arum sedkan panah api yang sudah patah ia tempatkan di sisinya detik berikutnya ia memuntahkan darah segar keadaan di samping kubah terlihat kacau mereka kehilangan musuh yang menyusup sedang wanita di samping putri Arum sudah tidak lagi berdaya kukuatan terahirnya ia gauankan untuk membuat para abdi Arum tidak lagi membeku bagai patung. Meski lemah ia tatap melakukanya hingga akhirnya balasan yang harus ia terima adalah ia harus mengorbankan dirinya. Wanita itu tidak lain adalah wanita yang disebut putri Arum sebagai gadis buta.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya ia membaca dua kalimat syahadat.