
Mbah Kasiman menjejarkan langkahnya disamping Abi.
"Nak siapa namamu?" tanya Mbah Kasiman ramah.
"Nama saya Abimanyu Mbah." Jawab Abi sopan.
"lihatlah bagunan berwana hijau disana di sutulah surau tempat kita akan melaksanakan ibadah wajib." ujar Mbah Kasiman sambil menunjuk bangunan yang tak jauh lagi dari mereka saat ini.
para peserta termasuk Abi melihat kearah yang ditunjuk oleh Mbah Kasiman.
langkah mereka terus bergerak maju menuju surau. Mbah Kasiman berpikir keras bagaimana agar ia dan Abimanyu bisa berbicara berdua serta memberinya bekal jika memang benar Abi orang yang di ijinkan masuk kedalam hutan terlarang di gunung.
sesampainya di surau teman-teman Abi bergantian mengambil whudu.
"Nak Abi bisakah nanti saya berbicara berdua denganmu?" tanya Mbah Kasiman sambil menatap Abi yang sedang melepas sepatunya.
"tentu saja Mbah nanti setelah selesai Sholat." sahut Abi sambil tersenyum ramah.
"terimakasih nak, Kamu memeng anak yang berbeda." ungkap Mbah Kasiman sambil menepuk pundak Abi sembari berlalu untuk mengambil Whudu.
Abi mengela napasnya sambil berjalan menuju tempat berWhudu.
Dari samping Surau sang Rubah memperhatiakan terus grak gerik juru kunci Mbah Kasiman.
"peria tua itu bukan orang sembarangan auranya sulit terdeteksi, Siapa sebenarnya lalaki tua itu." batin Rubah putih.
Selesai sholat Abi benepati janjinya mengobrol bersama Mbah kasiman sambil berjalan kaki dari surau sedang teman-temannya dibiarkan berjalan terlebih dahulu didepan.
"Nak apa tunjuanmu ikut berkemah?" tanya Mbah Kasiman.
"mengikuti Kagitan sekolah Mbah, karena akan ada nilai tambah dirapot Abi nanti." jelas Abi sambil terus melangkahkan kakinya.
"Tidak ada niat lain seperti mencari seseuatu yang tersimpan di kawasan gunung?" tanya Mbah Kasiman.
"Oh astaga sepertinya guru kunci ini orang hebat sampai tau niat yang tersembunyi dalam hatiku." monalog Abi.
"Hmmmm saya sebenarnya ingin mencari tanaman obat di pengunungan untuk Oma saya yang sedang sakit." sahut Abi jujur.
"Di gunung tidak ada tanaman obat langka nak, hanya banyak rumput liar. Dengan siapa kamu kemari sejak tadi aku merasa ada yang mengawasi." ujar Mbah Kasiman sembari mirik kekiri dan kanan.
"Apa Mbah Melihat Rubah yang terus mengawsi dari kejauhan." batin Abi.
"ya sudah jika kamu tidak ingin memperkenalkan temanmu yang terus menjagamu dan mengawasi grak grikku tidak apa. tapi jawan jujur pertanyaanku kau ingin mengambil bunga yang tumbuh di Danau beracun?" tanya Mbah Kasiman sambil memperhatikan ekpresi wajah Abi.
"Bagaimana Mbah tau?" Tanya balik Abi
"hutan terlarang bukanlah Area bermain atau ajang coba-coba untuk menguji nyali nak, disana banyak binatang buas dan juga tanaman beracun yang bisa nyebabkan penyakit kulit hingga berujung kematian." jelas Mbah Kasiman.
"saya tau Mbah tetapi hanya bunga itu satu-satunya harapan hidup untuk Oma yang sedang koma. untuk itulah Abi berniat mengambilnya dengan segala resiko yang harus ditanggung." sahut Abi sambil terus melangkahkan kakinya diikuti Mbah Kasiman.
"baiklah saya Akan mengijinkanmu masuk kesana tepat jam 1 malam kau harus mengikat ini sebagai tanda ijin dariku.sambil menyerahkan kain kuning yang ia bawa dari rumah. ini juga ambillah belati ini gunakanlah disaat kamu membutuhkannya. jagan lupa memohon pertolongan pada yang maha kuasa." tutur Mbah Kasiman panjang lebar.
"Iya Mbah terimakasih saya memeng berniat masuk kehutan terlarang bersama seikor hewan." Ucap Abi mekirik sekilas ekspresi wajah Mbah kasiman.
"bolehkah saya tahu hewan jenis apa yang kamu bawa nak?' tanya Mbak kasiman sopan
"Hanya seekor Rubah putih ber-ekor sembilan." jawab Abi.
"Saya akan membimbingmu untuk sampai ketujauanmu Nak."tukas Mbah Kasiman tanpa keraguan.
"terimakasih Mbah." sahut Abi sembari tesenyum manis.
"Mbah Kasiman menghela nepasnya sejenak kemudian berucap. Saya akan menyiapkan beberapa hal untuk itu dan mintakan ujin pada kaka pembina pramuakamu nanti. kita akan bertemu di depan hutan larangan tepat jam satu malam." tutur Mbah Kasiman
"Baik Mbah Abi akan usahakan datang tepat waktu." sahut Abi.
"Harus tepat nak, karna jalan yang kamu lewati hanya bisa terbuka jam satu malam tepat. jam 4 pagi kamu sudah harus kembali." ungkap Mbah Kasiman.
"Baik mbah." sahut Abi.
"Bergabunglah bersama temanmu nak, Mbah harus pergi dulu kepasar untuk membeli beberapa barang." Ujar Mbah kasiman.
"baik Mbah Abi pamit Assalamualaikum." ucap Abi sambil mengulurkan tangannya kemudian mencium punggung tangan Mbah Kasiman.
Mbah Kasiman mengusap puncak kepala Abi sambil berucap. "pergilah Nak Mbah akan siapkan semua keperluanmu." ucapnya.
Abi segera berlalu meninggalkan Mbah Kasiman yang menatap dari kejauhan dengan tersenyum tipis. tak lama Mbah kasiman beranjak menemui anaknya meminjam motor untuk pergi kepasar.
semua peserta kini sudah berkumpul kembali. ka Jenny memberitaukan pada semua peserta untuk bersiap-siap mendaki kegunung.
Abi dan taman-temannya sibuk memastikan barang bawaan mereka tanpa ada yang tertinggal. memastikan tali sepatu terikat dengan kuat ada juga yang membawa tongkat untuk menopang tubuh saat leleh.
selesai berpamitan dengan Mbah kasiman Semua pembina serta guru meninggalkan rumah Mbah Kasiman berjalan menuju gunung yang akan mereka jadikan sebagai tempat berkemah.
kurang lebih 1 jam mereka berjalan kini telah sampai ketempat yang mereka tuju. disana sudah ada beberapa tenda yang berdiri pertanda ada kelompak dari sekolah lain yang juga sedang berkemah.
Selesai mendirikan tenda Abi dan teman-temannya di persilahkan istrahat oleh kaka pembina pramuka.
beberapa kegiatan mereka ikuti sesuai perintah pembina pramuka hingga malam menunjukan anggka jam 11 Malam. semua dipersilahkan masuk kedalam tenda dan beristirahat kegiatan akan kembali dilanjutkan besok pagi.
waktu terus berjalan maju dan tak terasa menunjukan angka 12.50 Abi keluar daru tenda ketika mendengar suara Mbah kasiman berbicara dengan Ka jenny.
"Nak ayo ikut Mbah sekarang." ucap Mbah Kasiman yang melihat Abi keluar tenda.
"Ka Abi ikut Mbah Kasiman boleh?" tanya Abi sambil melihat wajah tua Mbah Kasiman.
"Boleh tapi harus kembali sebelum pagi." tutur ka Jenny yang diangguki rekannya.
"Terimakasih ka." sahut Abi segera berpamitan mengucap salam lantas berlalu meninggalkam tenda bersama Mbah Kasiman.
"Mbah memang pandai membuat Alasan." ungkap Abi sambil berjalan menuju hutan larangan.
"hehehehe saya hanya membatumu Nak, ayo lebih cepat lagi kita diburu waktu." sahut Mbah Kasiman.
sesampainya di depan hutan Larangan Mbah Kasiman segera menacapkan bambu Runcing berwana kuning mulutnya kumat kamit seperti membaca mantara tak lama terlihatlah sebuah jalan setapak terbuka dari pohon besar yang tiba-tiba terbelah.
Abi mengucak matanya seakan tak percaya dengan penglihatannya.
"Ayo nak masuklah ikuti jalan setapak ini akan membawamu ketuajuanmu ingat berhati-hati dan waspadalah. Mbah hanya bisa mengantarmu sampai disini dan menunggumu hingga kembali di tempat ini." tutur Mbah Kasiman.
"satu lagi Abi jalan ini memiliki cahaya garis kuning disisi kiri kanannya.jalan inilah yang harus kamu ingat ikuti hingga kembali jangan sampai kau terpedaya oleh ilusi mereka." pesan Mbah Kasiman.