Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kisah dua saudara.


Hasan dan Ahmad terlihat sibuk menurunkan barang belanjaan dari pasar bersama Memang sedang Si Mbok masuk ke dapur untuk merapikan semua bahan yang ia beli dari pasar.


Willem hanya menengok sesaat tanpa berniat membatu ia mengerucutkan bibirnya menetap sekilas Hasan dan Ahmad yang wajahnya terlihat berkeringat dan berminyak.


"Mau-maunya jadi kuli, ia kalo digaji ini mah enggak." hahahaha tawa Willem dalam hati.


"mereka berdua pasti haus saatnya beraksi." batin Willem sambil mengambil air yang ia siapkan bercampur ramuan ia baru buat.


"kalian berdua harus menjadi kelinci percobaan ku." monolog Willem.


Willem berjalan menghampiri dua sahabat sang Adik.


"Hasan, Ahmad kalian pasti lelah silahkan diminum air di meja tamu sudah ku siapkan." ujar Willem.


"Ya sebaiknya kami mandi dulu tangan dan badan kami kotor Will baju kami juga penuh keringan kami balik dulu lupa bawa baju." Tolak Hasan.


"kau yakin tidak haus minumlah dulu." rayu Willem.


"begini saja masukan dalam kulkas nanti saat kami kembali airnya dingin pasti lebih segar diminum." ucap Ahmad sambil menatap Willem.


"baiklah, secepatnya kalian kembali." tegas Willem


"Aku tidak bisa memaksanya saat ini bisa-bisa membuat mereka curiga." batin Willem.


Hasan membawa ke dapur minuman yang memasukan ke kulkas.


"Mbok tolong minumannya jangan diminum itu buatan Willem." ujar Hasan mengingatkan.


"lalu untuk apa didalam kulkas aku dan Ahmad beralasan nanti meminum airnya setelah pulang dan mandi. Bisa Mbok bantu ganti air yang sama." minta Hasan berbisik sambil menatap sekeliling waspada.


Si Mbok mengangguk setuju.


"terimakasih." Mbok ucap Hasan


"San, lama amat jadi pulang gak." teriak Ahmad dari sambil berjalan ke dapur.


"Hehehehe Maaf Gue kebelet jadi ke kemar kecil dulu." sahut Hasan cengengesan sembari membenarkan resleting celananya.


satu jam pulang ke rumah Ahmad dan Hasan kembali lagi ke rumah Willem dari kejauhan nampak mobil dari petugas kepolisian berada di depan rumah Willem.


"San, liat to Mobil polisi kita ke sana atau nanti saja." tunjuk Ahmad.


Liat aja yuk, penasaran gimana proses penangkapan Willem.


Sesampainya di rumah Willem Yusuf tak mendapati Willem sebagai pemilik rumah hanya ada petugas kepolisan dan juga pembantu rumah tangga.


"kemana Willem." batin Ahmad.


Petugas mencari keseluruhan kamar dan belakang rumah tetapi hasilnya nihil.


Mbok dan Memang pun tidak tau kemana Willem karena tak melihat willem keluar rumah.


"Apa dia tau akan ditangkap, siapa yang memberi tau?" tanya Hasan dalam Hati sambil melirik Ahmad.


Seakan tau pertanyaan Hasan. Ahmad mengangkat kedua bahunya bersamaan perda ia tidak tau.


petugas memeriksa kembali TKP mencari sesuatu yang mencurigakan dan bisa menemukan sidik jari Willem.


Akhirnya polisi membawa seprei penuh darah di kamar itu untuk diperiksa lebih lanjut. kursi roda Istri Wiraja juga dibawa petugas.


"Nak apa kamu mengenal Willem dekat?" tanya petugas pada Hasan dan Ahmad.


"Tidak terlalu dekat pak hanya sesekali kami bertegur sapa kami lebih dekat dengan Marcello." sahut Hasan.


Bisakah saya berbicara dengan kalian sebentar mungkin diluar saja ajak seorang petugas.


Willem yang berapa di ruang sempit bawah kolong kasur mendengar sejak tadi pembicaraan petugas dan Sahabat sang Adik.


"Apa ini?" tanya petugas bernama Rama.


"Itu minuman sirup yang entah mengapa Willem repot menyiapkan untuk saya dan Hasan minum kami khawatir ada yang beres." jelas Amad.


"Kalian meminta saya memeriksanya?" tanya pak Rama.


"iya benar pak, jika benar dugaan kami artinya ia memiliki niat tidak baik terhadap saya dan Hasan." sahut Ahmad.


"Baiklah saya akan meminta rekan saya menyamar jadi rakyat biasa untuk mengawasi penghuni rumah ini terutama Willem." ucap Rama.


"itu ide bagus pak. terimakasih pak." ujar Hasan.


"ya jika begitu saya permisi berhati-hatilah kalian." kata Rama sambil menepuk pundak Hasan.


sepeninggalan petugas kepolisian Ahamd dan Hasan menemui Mbok di dapur menanyakan Willem


"Haiiiiiii apa aku melewatkan suatu pertunjukan." ujar Willem menyeringai.


"Apa maksudmu Will?" tanya Hasan.


"Kau dan pembantu rumah ini bersekongkol ingin mengungkapkan kejahatan ku." ujar Willem menatap tajam Mbok Jamilah seorang Art.


pertanyaan itu membuat Mbok Jamilah gemetar ketakutan bahkan tangannya terluka teriris pisau.


"Hahahaha, Mbok Jamilah apa kau bosan hidup hingga melukai dirimu sendiri hah. kau ingin Aku membantumu agar kau cepat bertemu Tuan Rumah Wiraja." tukas Willem.


"Tidak-tidak Den." sahut Si Mbuk terbata.


"Apa kau, dan dua orang sahabat Marcello ini memang merencanakan sesuatu untuk membalaskan kematian Wiraja." ucap Marcello penuh selidik kau terlihat begitu takut Mbok sambil mendekati Mbok Jamilah.


Mbok jamilah terlihat tegang membeku ditempatnya dengan keringat dingin sudah membanjiri badannya.


Hasan segera memberi isyarat pada Ahmad untuk mencari bantuan takut akan hal yang tak diinginkan terjadi.


Wajah Willem merah padam jiwa iblisnya telah bangkit kembali.


dengan cepat ia mengambil pisau di atas meja dapur tempat Mbok Asih berdiri.


Ahmad menyelinap keluar dengan langkah perlahan namun hal itu disadari oleh Willem


"Ahmad berdiri di tempatmu akan aku tunjukan sebuah pertunjukan menarik." seringai Willem tegas dengan mata merah menatao Ahmad.


Mamang tukang kebun yang hendak kedapur mendegar suara ribut ia menghentikan langkahnya dan menguping kenyadari ada yang tidak beres ia segera keluar rumah mencari bala bantuan.


"Aku Tidak akan membiarkan Den Willem melakuakan perbuatan itu lagi." batin Mamang sambil celingak celigok mencari orang yang bisa ia membantunya.


"keberuntungan memihak padanya seorang petugas yang menyamar mendekati Mamang dan bertanya anda mencari sesuatu pak bisa saya bantu." ucapnya.


"Tolong saya pak. tolong teman-teman Den Marcello." ucap Mamang secepatnya. berlari kerumah diikuti petugas.


sesampainya di dekat dapur petugas yang menyamar berjalan mengadap-endap ia sambil mengintip ia melihat Hasan dan Ahmad terikat di kursi makan sedang Mbuk Jamilah berada didepan Wilem. Willem menguris tangan Mbuk jamilah.


"Willem apa kau sudah kehilangan akal sehat heh dia itu pembantu dia mencari nafkah disini untuk keluarganya.di mana hati nuranimu." Teriak Hasan.


"Diam kau Hasan jika kau masih bicara aku bisa membautanya tiada saat ini juga." Ancam Willem.


petugas yang mendegar itu segara mengeluarkan pistornya dari saku jaketnya bersiap menembak Willem jika berani bertidak.


"Mbuk kenapa kau membuang air minum yang kubuat dan menggantinya dengan yang baru. Apa maumu kau bosan hidup." teriak Willem menuh Amarah.


"Jawab." pekik Willem dengan suara mengelegar.


"Apa masalahnya minumannya samakan kenapa kau marah begitu?" tanya Ahmad.


"karna kalian adalah kelinci percobaanku." sahut Willem sambil terkikik.