
Mars berjalan dengan langkah lebar menuju rumah Defvan.
ting tong.....
bunyi bell dirumah Defvan menandakan seseorang sedang berkunjung kerumahnya.
'Ayah ada tamu." ucap Abi
"ya, asesten Ayah di kantor" ucap Defvan sambil meletakan sepiring kentang goreng untuk teman Abi menonton karton.
pembantu rumah tangga Defvan berjalan ke arah pintu masuk untuk membukakan pintu pada tamu sang majikan.
setelah pintu di buka terlihatlah Mars sahabat sekaligus asesten majikannya, pembatu itu segera mempersilahkan masuk.
"Dimana Defvan Mbuk?"
"Ada diruang keluarga bersama putranya." sahut Mbuk ijah
"Baiklah, saya akan kesana menemuinya." ucap Mars berlalu meningalkan mbuk ijah.
tak memerlukan waktu lama Mars kini sudah berada di ruang keluarga ia menyapa Defvan lalu ikut bergabung duduk di sofa.
"Mars lihatlah anakku bukankah dia sangat mirip denganku sewaktu kecil?" tanya Defvan.
Mars melirik sekilas Abi lalu menganguk.
"heyyyy! Mars, ada apa dengan wajahmu, kau terlihat kusut apa yang kau pikirkan?" tanya Defvan sambil menatap sahabatnya.
"Hari ini aku benar-benar di buat binggung dengan kejadian tak masuk di akal yang aku alami dan kuliahat." ungkap Mars dengan wajah datar.
Defvan mengerutkan kening tak mengerti.
"Ceritakanlah Mars, aku tidak mau hal itu membuat pekerjaanmu terganggu." perintah Defvan.
"Raka meninggal bukan karna keracunan obat dan overdosis tapi di bunuh." ucap Mars sambil melihat karton di televisi.
"Di bunuh." ulang Defvan terkejut.
Abi hanya ikut mendegarkan tanpa mau ikut menyela. akan tetapi otaknya kecilnya terus berfikir menangkap semua informasi.
"benar dugaanku, Raka terbunuh karna menyelidiki secara langsung kasus Reyana keylen, ia bertemu dengan dokter yang melakukan otopsi terahir Reyana keylen. dokter itu di nyatakan gila setelah dua minggu melakukan otopsi. keganjilan terjadi saat Raka bertanya tentang Reyana keylen dokter Ria menjerit ketakutan seperti melihat hantu. Raka tak menyerah ia betanya pada para pekeja di sana mereka mengatakan Dokter Ria selalu mengamuk setiap malam bulan purnama." cerita Mars.
"Raka di bunuh dengan ilmu yang tak terlihat atau tak kasat mata. Dada Raka hitam kebiruan seperti terbakar, saat di mandikan seorang Ustaz membacakan do'a dan mengusap dada Raka Warna biru kehitaman itu lenyap perlahan." lanjut Mars
"Ilmu gaib." celetok Abi membuat Mars dan Defvan saling pandang lalu menatap Abi.
"Abi apa maksudmu?" tanya Defvan.
"tidak papa Ayah, Abi hanya asal bicara." sahut Abi dengan bibir tersenyum simpul.
Sepertinya anak ini mengerti ilmu supranatural batin Mars.
"Oh ya aku belum mengenalmu nak, siapa namamu." tanya Mars ramah.
"Abimanyu Alfarizi Om." sahut Abi menatap sekilas Mars.
mendengar nama itu' membuat ekspresi wajah Mars berubah seketika teringat kembali tentang pesan yang di sampaikan oleh Ustaz Akbar.
"Defvan bisakah kamu mengambilkan aku air minum aku sangat haus." minta Mars.
"Biasanya juga Lo ambil sendiri." sahut Defvan acuh.
"Ayolah Def kapan lagi aku bisa memerintahmu, aku benar-benar sangat haus akan tetapi untuk berjalan aku lelah." rengek Mars memelas.
"merepotkan saja." umpet Defvan beranjak menuju Dapur.
Mars mendekati Abi yang duduk di ujung sofa.
"Abi apa yang kamu tau tentang ilmu gaib?" tanya Mars.
"apa itu api banaspati?" tanya Mars.
"benar Om itu banaspati yang di kendaliakn oleh seseorang." sahut Abi.
"Mars membuka ponselnya lalu menunjukan fotonya berasama Raka pada Abi. Apa laki-laki yang ada dalam mimpimu ini?" tanya Mars.
"ya dia orang." sahut Abi.
Mars tercenggang mendengar jawaban Abi.
"k-kau bisa melihat masa depan melalui mimpimu." ucap Mars sambil menatap tak percaya.
"suttttt, jagan keras-keras om Ayah tidak tau itu hanya om yang tau ini rahasia kita." bisik Abi.
"oh maaf." sahut Mars ikut berbisik
"aku melihat mimpi itu karna seorang kakek membawaku melihatnya." ucap abi dengan suara pelan.
" kakek siapa namanya?" tanya Mars.
"aku tidak tau, aku selalu lupa bertanya pada kakek itu siapa namanya. ucap Abi polos.
"Baiklah Abi aku juga mengalami hal aneh hari ini aku pergi kesuatu tempat hersama seorang Ustazd menyelamatkan temanku yang sudah meninggal itu tapi setelah tamanku selamat dan kami bertinga mengobrol sebentar dan saat ustazd itu mengajakku kembali tiba-tiba saja aku sudah berada didalam mobil." cerita Mars serius.
"mongkin roh Om Mars memang melalukan perjalanan gaib bersama ustazd itu." sahut Abi.
"emang bisa begitu?" tanya Mars.
"tentu saja bisa, buktinya roh Abi juga melihat kejadian itu melalui mimpi." sahut Abi serius.
"oh ya Abi ustazd itu berpesan padaku, menyampaikan pesan pada anak yang bernama Abimanyu Alfarizi agar datang kepadepokan." tukas Mars.
"padepokan di mana?" tanya Abi binggung.
"astaga aku lupa bertanya padanya Abi." sahut Mars menepuk jidatnya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan." tegur Defvan.
"hanya mengobrol saja, kau lama sekali hanya membuat jus jeruk hampir setengah jam." geruntu Mars.
"maaf tadi Daddy nelpon." sahut Defvan.
Mars mengedipkan sebelah matanya untuk Abi, sedang Abi hanya membalas dengan senyum masam.
Mata Defvan bergantian meliahat Abi dan Mars. "Apa yang kalian rahasiakan dariku?" tanya Defvan.
"tidak ada untuk apa aku punya Rahasia dengan anakmu." sahut Mars sembil tertawa sumbang.
"Def aku tidak bisa meneruskan pencarian bukti pada kasus kematian ibumu, saat ini situasinya sangat berbahaya." ucap Mars.
"kau takut karna hal yang sama menimpamu?" tanya Defvan.
"aku masih sayang dengan nyawaku aku belum punya istri aku juga belum bertaubat." ucap Mars dengan wajah datar.
"hahahahhaha... Mars kau takut dengan ilmu yang tak terlihat itu, itu omong kosong Mars, mana ada hal yang seperti itu, kalaupun memeng ada tinggal minta aja jimat sama orang pintar beres." ucap Defvan.
"Dari kau tak berubah Defvan hanya umur yang bertambah tua." segut Mars.
Abi yang mendengar Mars mengomel tertawa kecil.
"muka om Mars lucu." ucap Abi sambil beranjak pergi kemarnya.
"Abi tunggu bisakah aku numpang istrahat di kamarmu." minta Mars.
"pulanglah sebelum aku melempar sendal ke mulutmu." ucap Defvan.
"baiklah jangan lupa mulai senin aku cuti." ucap Mars