Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Memberi pengertian


Meski malam semakin larut di rumah sakit tempat Umi dan Yusuf di rawat masih ada beberapa perawat berlalu lalang melakukan pekerjaan mereka.


"dua peria tua itu selalu menghalanggiku." ucap Seorang Wanita muda sambil menatap Ustzd Akbar dan Kyai Hasan.


"sepertinya aku perlu berbuat sesuatu." batinnya menyerigai licik.


Padepokan Al Azam.


tiga orang santri mendadak merasa panas seperti terbakar dan sesak tak beberapa detik berikutnya meraka jatuh tak sadarkan diri. santri lain segera membatu mengangkat tiga orang tersebut dan membaringkannya di kasur.


"kanapa bisa seperti ini?" tanya Salah satu santri.


"sebulumnya Aku melihat mereka memakan roti bersamaan tak lama setelahnya mengeluh panas dan sesak lalu lemas dan tak sadarkan diri." tutur Santri yang bernama fatimah.


Seorang Ustazah datang memeriksa tiga anak santri yang sedang tak sadarkan diri.


Astatagfirullahhalazim gumamnya lantas ia beranjak pergi meninggalkan kamar itu.


"Ada apa ya kok wajah Ustazah Emma begitu?" tanya salah seorang yang berada disana.


"iya aku bikin penasaran aja." sahut Santri bernama Dita.


"jangan-jangan mereka dirancun." sahut Alma menimpali.


"Racun!!" seru cerempak Dita dan Fatimah.


beberapa menit berlalu Ustazah Emma dan Kyai Ahmad datang untuk melihat tiga orang santri yang sedang tak sadarkan diri.


Kyai Ahmad memandang tiga santri yang sedang terbaring di atas dipan.


Astagfirullahalazim batin kyai Ahmad.


"Ambilkan Air putih tiga gelas." perintah Kyai Ahmad.


Dita dan Fitri segera mengambil tiga gelas Air dan meletakan di dekat Kyai Ahmad duduk.


Kyai Ahmad segera membaca beberapa doa dan meniupkan kedalam air. ia kemudian meminta bantuan utazah Emma meminumkan Air untuk ketiga santrinya.


"mereka masih tidak merespon." Kyai ucap Ustazah Emma.


"kita harus meminta bantuan dokter untuk segera menetralisir racun yang menyebar di dalam badan ketiganya." tukas Kyai Ahmad.


"baik Kyai saya akan segera menelpon dokter untuk segera datang kemari." sahut Ustazah Emma segara berlalu menelpon Dokter.


"untuk kalian semua jangan jangan menerima makanan yang di berikan oleh orang luar apapun bantuknya." tegas Kyai Ahmad.


"baik Kyai." sahut Santri yang ada disana serempak.


"sepertinya orang itu segaja mengacau dipadepokanku." gumam Kyai Ahmad.


Dari badan ketiga anak yang tak sadarkan diri muncul bintik-bintik merah diseluruh badannya.


"pak Kyai! lihatlah badannya." Seru Dita.


belum sempat kyai Ahmad mejawab Ustazqh Emma datang bersama seorang dokter wanita.


"silahkah Dokter Amanda." kata Ustazh Emmea Ramah.


Dokter Amanda melakukan pemeriksaan dengan teliti secera nergantian kepada tiga santri yang masih setia menutup matanya.


"Sepertinya ini bukan racun tetapi virus." tukas Dokter Amanda pelan.


"Virus?" tanya Utazah Emma.


"iya virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. untuk memastikannya harus melakukan permeriksaan lebih lanjut dirumah sakit." terang Dokter Emma.


"baiklah Dokter jika itu yang terbaik maka lakunlah." jawab Kyai Hasan.


Tak menunggu lama ketiganya segara dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pennganan lebih lanjut.


semantara Di rumah sakit tempat Umi dan Yusuf dirawat.


Kyai Hasan dan ustazd Akbar sedang mengobrol dengan Risa,Yusuf, dan Abi.


"kedatangan kami kemari juga berhubungan dengan itu." ucap Kyai Hasan menimpali.


"Apa Ayah meninggalkan pesan pada pak Kyai?" tanya Yusuf sambil melihat Kyai Hasan.


"Ia Marcello meminta kami memberikan bekal ilmu Agama pada Abi." tukas Kyai Hasan.


"untuk itulah Saya dan Kyai Hasan ingin meminta ijin membawa Abi kepadepokan." Ustazd Akbar menempeli.


"Abi mesih sekolah Smp tak bisakah menunggu sampai Abi lulus." pangkas Risa.


"tidak bisa, saat ini Ada yang selalu mengincar nyawa Abi dimanapun ia berada. saya mohon mengertilah bu Risa ini demi kebaikan Abi." Tutur Ustazd Akbar.


"sebernarnya masalah apa yang akan anak saya hadapi hingga ia harus memperdalam ilmu Agamanya sedini mongkin?" tanya Risa penuruh rasa penasaran.


"Abi sudah di pilih oleh nenek moyang Yusuf untuk menyelasikan tugasnya didunia yaitu melawan iblis berbentuk manusia, atau lebih tepatnya Manusia berhati Iblis yang ingin menguasai dunia." jelas Kyai Hasan.


mendengar itu tampak jelas rasa cemas diwajah cantik Risa.


"tenanglah bu Risa kami tidak akan meninggalkan Abi sedirian, kami akan membatunya untuk itu ijinkan kami memberikan bekal ilmu untuk padanya." terang Ustazd Akbar sambil meliahat wajah Risa.


"Kejahatannya harus di hentikan jika tidak akan semakin banyak korban yang berjatuhan. Jika Dunia di pimpin oleh mereka pasti akan hancur." cetus Kyai Hasan


"baiklah meski berat saya akan mengijinkannya demi kebaikan semuanya. tetapi saya mohon jangan biarkan anak saya menanggung sendiri bebannya." ujar Risa sambil menatap Yusuf yang sedang tersenyum mendengarkan penuturan sang istri


Abi tersenyum senang, ia tau ibunya pasti akan membarinya ijin tetapi ia tak menyangka secepat ini.


"Bunda Abi menyanggimu, tenanglah Bunda selama do'amu menyertaiku semuanya pasti bisa Abi lewati." tukas Abi samberi tersenyum manis.


"cabut saja tuntutanmu terhadap Defvan. mengertilah Defvan juga menyayanggi Abi. Aku rasa hal yang wajar ia berusaha melindunggi anaknya dari orang yang berniat jahat tak perduli dengan cara apapun tarmasuk menembak jika itu bisa menyelamatkan orang yang disayanginya." kata Ustazd Akbar.


Yasuf mengelus pundak risa perlahan sambil berucap.


"Bunda apa yang di katakan Ustzd Akbar benar, setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri menunjukan kasih sayangnya." tukas Yusuf.


Risa memajamkan matanya sembari mencerna semua ucapan sang suami, mengingat kembali kejadian yang saat Yusuf terkena peluru yang di tembakan oleh Defvan.


"baiklah Bunda akan mencabut tuntutannya." pungkas Risa.


Drattttt drattttt


ponsel milik Kyai Hasan bergetar


Kyai Hasan segera mengangkat penggilan telpon yang ternyata dari sahabatnya Kyai Ahmad.


"Assalamulaikum kak." sapa Kyai Hasan.


"Waalaikum salam, bagaimana kundisi Yusuf dan juga Umi salamah?" tanya Kyai Ahmad


"Alhamdullilah Yusuf dan umi sudah lebih Baik kak." sahut Kyai Hasan.


"Skyurlah jangan sampai kamu lengngah Hasan, jaga baik- baik keluarga Mascello, seorang membuat kekacauan disini untuk membuatku sibuk." jelas kyai Ahmad.


"Apa yang terjadi Kak?" tanya Kyai Hasan penasaran.


"seseorang mengirim virus untuk menyeranh tiga santri kita." tukasKyai Ahmad.


"Virus?" tanya Kyai Hasan


"ia mereka sudah di rumah sakit semoga saja virus itu bisa dikalahkan oleh obat-obatan yang di berikan dokter." harap Kyai Ahmad.


belum sempat Kyai Hasan menjawab kyai Ahmad kembali bertanya.


"kamu bersama salamah?" tanya kyai Hasan.


"tidak kak kamar Rawat Umi salamah dan Yusuf berbeda!" Jawab Kyai Hasan


"cepat periksa keadaannya sekarang!!" seru Kyai Ahmad tegas.


Kyai Hasan dapat membayangkan raut wajah kakak seperguruannya itu cemas dan kwatir yang berlebihan.


tanpa barucap sepatahkan katapun kyai Hasan cepat berllu keluar dari kamar Yusuf dan pergi kekamar milik Umi salamah.