
Mars tiba di kediaman Dokter Yusuf. ia pun segera turun dari motor lalu menyapa Abi yang kebetulan ada diteras rumah.
"Assalamualaikum Abi." sapa Mars sembari berjalan mendekati Abi.
"Walaikum salam Om Mars." Sahut Abi melihat ke arah Mars yang mendekatinya.
"Silahkan masuk Om Mars." Abi membawa keruang tamu dan mempersilakan Mars duduk sementara dia pamit mengambil air minum ke dapur. Abi Segera berlalu meninggalkan Mars duduk kursi tamu sendiri.
Mars memainkan ponselnya sampai sebuah suara datang menyapanya.
" Om Mars untung saja Om ke sini ada yang ingin Dewi tanyakan." ujarnya sambil berjalan cepat menghampiri Mars lalu menghampaskan badannya duduk di sofa samping Mars.
Mars meletakkan ponselnya di meja ia menoleh ke arah Dewi dangan menakutkan kedua alisnya.
"Om ada yang dititipkan sama Kakek Ahamd Halim pada om." tanyanya membalas tatapan mars.
"Dari mana anak ini tau? aku belum sempat buka mulut ia sudah bertanya begitu." batin Mars matanya masih mentap Dewi.
"Tenang Om tidak perlu melihat Aku seperti itu. Tadi malam Kakek Halim datang dalam mimpiku, ia memintaku untuk mengambil benda yang ia titipkan ke Om." ungkap Dewi
Belum sempat Mars menjawab Abi datang membawa minuman dan kue kering.
"Silahkan diminum Om Mars." ujar Abi kemudian meletakan minuman dan kue di atas meja. ia pun ikut bergabung duduk di sofa.
Abi melihat Dewi yang mengambil kue kering di meja lalu memasukan kedalam mulutnya.
Abi menatap tajam Melihat kelakuan sang Adik.
"Dewi Kakek Halim menitipkan ini untukmu." ujar Mars sambil mengambil sebuah kotak kecil dari saku jaket yang ia pakai.
Dewi menghentikan kegiatan ngemilnya, ia mengambil kotak yang berada di tangan Mars lalu membukanya.
Mata Dewi berbinar kala melihat sebuah keris berukir huruf Arab.
"Akhirnya aku menemukanmu di dunia fana ini." gumam Dewi didengar oleh Mars yang menatap Dewi penuh tanya.
"Apa itu milikmu sebelumnya?" tanya Mars.
"Ya benar, ini milikku dulu kris ini sepasang entah dimana pasangan sekarang." jawab Dewi sambil mengambil keris yang berada dalam kotaknya.
"Untuk apa benda itu." sela Abi.
"Tentu saja untuk membunuh." Sahut Dewi dangan tegas.
Mars terkejut mendengar ucapan Dewi begitu pula Abi keduanya saling pandang seakan bertanya satu sama lain.
"untuk membunuh wanita seperti putri Arum dan Juga William. Mereka tidak bisa dilukai dengan benda lain karena ilmu yang dimiliki keduanya." Jelas Dewi membuat dua orang didekatnya mengerti.
"Sayangnya pasangannya belum ku temukan somoga secepat bisa ku dapatkan kembali." lanjutnya.
"Apa benda itu tidak bisa digunakan bila tidak ada pasangannya?" tanya Abi, Mars juga terlihat menunggu jawaban Dewi teratai.
"Bisa tapi hanya satu yang bisa dibunuh olehnya, keris ini wanita itu artinya yang bisa dilukai ya adalah laki-laki yaitu William." Ungkap Dewi.
"OM Mars, Ka Abi jalan salah mengartikan. keris ini hanyalah benda mati jangan menuhankan benda, bila keris ini bisa melukai bahkan membunuh itu karena adanya campur tangan yang maha kuasa. Apa kalian paham maksudku?" tanya Dewi sambil melihat Abi dan mars.
"Ya kami paham, kris itu hanyalah perantara." Sahut Mars di angguki Abi.
Setelah bulan berlalu Dewi sudah mendapatkan pasangan kris miliknya yang ternyata di titipkan dengan Kyai Ahmad.
"Assalamualaikum ka." Sahut Dewi melalui sambungan telepon
"Ayah dan Bunda sudah berangkat ke pesantren jemput Kaka." ujarnya.
"Baiklah Kaka siap-siap dulu." jawab Abi mengucapkan salam dan mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Oh ya Ampun aku belum sempat bicara banyak." umpet Dewi.
"Sebaiknya aku menunggu di ruang perpustakaan ayah." ujarnya sambil berjlan menuju ruang perpus kecil di samping ruang kerja ayahnya.
Di tempat lain Putri Lasmi membuat Devan pusing setiap hari ada saja kekacauan yang di buat anak itu. bahkan dalam setagah bulan terakhir sudah duapuluh pengasuhnya berganti karena tidak sanggup mengurusnya.
Devan segara pulang dari kantor untuk menemui menemui anaknya setelah mendapat telpon dari ART dirumahnya.
Sesampainya di rumah Devan disunguhkan pemandangan yang membuatnya memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Bagaimana tidak baju-baju sudah terpotong menjadi potongan kecil, tidak hanya baju miliknya tapi juga baju semua penghuni rumah tersebut termasuk baju pelayanan yang bekerja dirumahnya semua barang berhamburan di lantai.
"Putri Arum." teriak Devan dari lantai bawah.
"Maaf Tuan nyonya tidak ada dirumah." jawab seorang pelayan.
"Kemana dia?" tanya Devan dengan nada ketus.
"Saya tidak tau Tuan nyonya tidak bilang mau pergi kemana." Sahut pelayan itu menunduk takut.
Devan melihat sekeliling aura kemarahan semakin terlihat, mana kala ia melihat Putri Lasmi sedang menggunting sebuah dasi yang dilu diberikan oleh ibunya sewaktu masih hidup.
" LASMI." panggil Devan mengagetkan pengasuh Lasmi yang sedang membujuk anak majikannya untuk makan.
Putri Lasmi tidak meneloh meski mendengar ia tatap asyik dengan kegiatannya.
"LASMI letakkan dasi Ayah sekarang." bentak Devan.
"Maaf tuan, kami semua dirumah ini sudah membujuk Non Lasmi untuk bermain yang lain tapi ia tidak mau, bahkan rambut Bi Netty juga ikut di gunting oleh Nona Lasmi." adu Salah satu pelan.
Mendengar itu kemarahan Devan semakin memuncak sedangkan pelayanan yang mengadu pada Devan terlihat begitu pucat melihat putri Lasmi menatapnya sambil menyerigai.
Putri Lasmi berdiri lalu melompat mencekik Pelayanan yang mengadukan perbuatannya.
"Lasmi lepaskan dia." teriak Devan penuh amarah.
Merasa anaknya tidak mau mendengar Devan menarik paksa putrinya namun bukan tertarik Devan justru terpelanting hanya dengan sekali tangkis Lasmi.
Melihat itu pelayan dirumah Devan tidak ada yang berani mendekati, pasalnya mereka juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari putri tuannya itu.
Devan terkejut melihat kekuatan putri Lasmi yang baru saja dilihatnya, biasanya ia hanya mendengar dari orang lain dan tidak mempercayainya baginya mustahil Lasmi bisa melawan orang dewasa apalagi sampai melakuatan perbuatan kasar.
Pelayanan yang di cekik Lasmi sudah kejang-kejang, nafasnya juga mulai pendek. Devan berusaha bagun dibantu oleh pelayanan laki-laki dirumahnya.
"Ayo cepat kita bantu pelayanan itu perintah Devan." Pelayanan saling pandang satu sama lain. "Ayo cepat, kalian mau pelayan itu mati." bentak Devan lagi.
Lasmi yang duduk di pundak pelayanan yang ia cekik tersenyum, ia menggigit telinga pelayan itu. dengan bantuan lima orang pelayan Devan menarik kedua tangan putri Lasmi namun kembali ia terpental begitu pula dengan kelima pelayanan yang membatunya.
Merasa Orang yang di cekiknya sudah tidak bernapas, putri Arum melompat turun. Saat bersamaan tubuh pelayanan itu ambruk kelantai dengan darah segar dari telinga yang sebagian ada di mulut Putri Lasmi.
Para pelayan termasuk Devan yang melihat secara langsung kejadian didepan mata dibuat syok, mereka tidak dapat berkata-kata terlabih badan mereka terasa remuk akibat terhempas kuat.
Visual. Putri Lasmi