Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Massa lalu


kilat menyambar di sertai angin dan hujan datang tiba-tiba pertanda Alam mendengar ucapan Kakek Zahra kala itu.


Putri Arum tertawa mendengar perkataan Kakek Zahra.


"Kakek tua aku tidak akan takut meski seluruh keturunanmu akan menjadi musuhku aku akan tetap berdiri dan melawannya." seru putri Arum lantang.


Kakek Zahra melihat semua orang yang berkumpul di sana dengan rasa iba. Sembari menarik napasnya ia berjalan untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Haiiii......Kakek tua.....!!! Enak saja mau pergi setelah apa yang kamu lakukan kau harus mendepatkan hukuman....!!!" Seru putri Arum.


Dangan bahasa isyaratnya putri Arum memerintah, beberapa warga segera menarik pakasa Kakek Zahra.


Zahra dan lelaki tua yang membawanya melihat kejadian massa lalu sang Kakek mengikuti kemana Kakek Zahra akan mereka bawa.


Kakek Zahra di bawa ke gapura Desa disana Kakek Zahra di ikat pada seluruh warga di wajibkan melemparinya dangan batu.


Putri Arum tertawa senang kala melihat darah keluar dari tubuh Kakeknya Zahra.


Kakak Zahra terus saja berzikir dangan tasbih yang selalu berada ditangannya tanpa peduli rasa sakit karena luka akibat lemparan batu yang di derita oleh tubuhnya.


"Lihat dia... Dia itu gila bukannya minta dilepaskan dia seakan menikmatinya. Ayo lempari dia lebih banyak lagi." perintah putri Arum.


"Dia bisa mati jika terus dilempari batu..." seorang warga menyahut.


"Itu bagus kalau dia mati dia tidak akan menyebarkan ajarannya itu pada kalian semua." Jawab putri Arum dengan senyum tipis.


Warga Desa saling pandang seakan meminta pendapat satu sama lain.


"Kenapa kalian ragu melemparinya batu dan takut dia mati..? Apa kalian tidak marah...? saat penolong kalian ini di hina olehnya. Si tua itu menyebut aku iblis. Aku menolong kalian membari pekarjaan tempat tinggal yang layak untuk kalian tapi dia dengan lantang menyebut aku ini iblis." cicit Putri Arum dengan ekspresi wajah sedih.


Warga Desa sekatika murka mereka melempari Kakek zahra dengan beringas.


Angin ribut tiba-tiba saja datang warga yang berkumpul seketika berhambubaran menyelamatkan diri masing-masing.


Dor......dor.......dor........!!! Suara guntur megelegar membuat putri Arum tersentak kaget. Ia mundur dari tempatnya berdiri.


Kakek Zahra masih setia memengang tasbih sambil berzikir ia tidak bergeming meski angin kencang dan suara guntur terdengar.


Putri Arum tidak mau membuang kesempatan saat melihat bambu yang ujungnya cukup runcing.


Dengan sekuat tenaga ia menikam Kakek Zahra tempat di dada.


Zahra sempat berteriak dan mendorong putri Arum sayangnya ia tidak mampu mencengahnya. Zahra tidak bisa menyantuh tubuh milik putri Arum.


Kakak Zahra membuka matanya melihat ke arah putri Arum yang masih menusuk bambu tajam di dadanya.


"Kau adalah Iblis Arum, Kau musuh manusia. Kembalilah ke neraka Arum." cicit Kakek Zahra kemudian mengucap dua kaliamat shyadat dan memejamkan matanya.


"Kenapa-kenapa Kakek tidak melawan...." teriak Zahra melihat ke arah Kakeknya.


"Karena waktunya sudah tiba Nak, tidak ada satupun mahluk di dunia yang mampu melawan takdirnya." sahut Kakek tua di samping Zahra.


"Maksudmu takdir Kakek memang mati di tangan Wanita itu?"


Lelaki tua di samping zahra mengangguk membenarkan.


"Sekarang tugasnya di gantikan olehmu bawa wanita itu memeluk agama yang sama atau binasakan dia." tukas Kekak tua kemudian memengang pundak Zahra seketika keduanya membari ke tempat mereka semula.


"Baiklah akan ku penuhi takdirku." Jawab Zahra.


"Itu bagus duduklah aku akan memberikan sedikit kamu bekal." perintah Kakek tua sembari menatap Zahra.


Zahra menurut ia duduk di ruang gelap itu. Kakek tua itu segera menempalkan tangannya pada punggung milik Zahra.


Tangan lelaki tua itu bersinar putih. energi yang ia masukan kedalam tubuh Zahra, pelan tapi pasti energi itu terus di serap oleh tubuh Zahra hingga kini seluruh tubuh Zahra bersinar warna putih ruangan itu terang sekatika.


Zahra membuka matanya dan terkejut melihat tubuhnya mengeluarkan cahaya putih.


"Apa ini Kek...? Kenapa dengan tubuhku?" zahra bertanya beruntun.


"Itu adalah energi yang di tinggalkan oleh leluhurmu Nak, gunakan dengan baik. Semoga kau lulus dalam ujian ini." tukas Kakek tua itu tersenyum misterius.


"Kak tubuhku ini kenapa bisa bersinar dan bagaimana mengendalikan energi ini?"


"Apa tadi tubuhmu terasa sakit saat aku memasukan energi itu...?" Bukan menjawab Kakek itu justru balik bertanya.


"Awalnya terasa hangat kemudian mati rasa seperti kesemutan dan yang terahir dadaku rasanya seperti terbakar." jelas Zahra


"Apa kau juga merasa apa semacam arus listrik di tubuhmu...?"


"Tidak....!" jawan Zahra


"Sekarang coba kamu pusatkan energi itu ketelapak tanganmu." perintah Kekek tua.


Zahra memejamkan matanya sembari mengucap bismillah ia memusatkan energi itu pada tangannya.


"Bayangkan saja energi itu menjadi sebuah belati...!!! seru Kakek tua di samping Zahra memerintah.


Zahra mengikuti ia membayangkan energi itu menjadi sebuah benda yaitu belati.


Sekarang buka matamu cicit Kakek tua.


Zahra membuka matanya pelan dam betapa terkejutnya dia melihat tangannya menggam sebuah belati kecil yang terlihat tajam.


"Kak ini belati...!!! seru Zahra.


Iya nak itu belati bisa melukai iblis yang kau lawan nanti tidak hanya itu saja Kau juga bisa membuat senjata jenis lain dengan energimu saat ini.


Sekarang hilangkan itu dari tanganmu masukan semua energi itu kembali pada tubuhmu minta Si Kakek tua


Tanpa menjawab zahra melakukannya. Senyumnya mengambang mana kala ia berhasil melakukan sesuai perintah si Kakek tua.


Zahra tersentak saat ponakannya menyentuh bahunya.


"Tante Zahra aku lapar...!" rengek ponakan Zahra.


"Ia sayang, maaf tante tadi ketidurannya.? tanya Zahra.


"Iya Tante Zahira udah dari tadi tungguin tante sholatnya lama sekali." cicit Zahira polos.


Zahra segera memberesakan sajadah dan mengkena miliknya. Kemudian menyajak ponakannya untuk kedapur.


"Kamu lapar sekali ya sayang...?"


"Iya tante perut Zahira sampai bunyi" keluh Zahira.


Kalo gitu kita makan diluar aja yuk sekalian belanja ajak Zahra.


"yeeee.... Iya tante....!!!" Teriak zahira girang karena diajak belanja.


Di markas Abi masih duduk tidak beragerak sedikitpun dari tempatnya hingga saat ini.


"Berapa lama lagi Abi akan seperti itu. Aku khawatirkan badannya tanpa asupan energi akan sakit." ucap putri Larasati sambil menatap punggung Abi dari pintu kamar milik Abi.


"Iya dia sudah dua hari tidak makan dan minum hanya duduk sembari berzikir." sahut Wijaya kusuma.


"Apa jalannya menuju tampat iblis itu belum juga ia temukan hingga harus meminta petunjuk dengan cara seperti itu." celetuk Putri Larasati.


"Entahlah tadi Risa menelpon menanyakan kabar Abi. Dia juga bilang Kyai Ahmad akan datang kemari." jelas Larasati sembari menutup kembali puntu kamar Abi.