
Dorttt.....
Suara petir menyambar terdengar begitu keras di hutan karangan tersebut.
Raja iblis sedang membatu sang istri untuk membuka pagar gaib namun mereka masih belum juga mampu.
Istriku kita harus mengambungkan kekuatan bersama para pengikut kita dan kau harus rela kehilangan seperu kekuatanmu Bila tetap memaksakan diri membuka Arai kono ini jelas sang Suami gaibnya.
"Apa tidak ada cara lain. Apa kau tidak mampu melakukan sendiri?"
"Kau tau aku baru saja pulih dari luka saat ini kekuatanku belumlah kembali."
Aku curiga yang ingin menghancurkan kerajaanmu adalah orang-orang Kyai di pesantren tebak Putri Arum.
Entahlah mereka tidak menampakkan wujudnya dengan jelas namun kekuatan mampu meruntuhkan sebagian pilar-pilar kokoh di kerajaanku dan membuat aku terluka. Jelas Raja Jin.
"Apa mereka jin dari golongan putih?" tanya Putri Arum lagi.
Aku tidak begitu yakin jawab Sang suami.
"Ayo putuskan kau tetap ingin masuk dan menyelamatkan Lasmi didalam atau menunggunya keluar sendiri?"
"Apa Lamsi bisa keluar bila kita memanggilnya?" tanya Putri Arum.
"Akan aku coba? " seraya membaca mantra untuk bertepati dangan sang putri. Namun hasilnya nihil.
"Tidak bisa ia tidak dapat mendengar suaraku." ujar Raja jin setelah beberapa kali mencoba.
"Ini jelas di sengaja rupanya mereka mempunyai persiapan yang matang, baiklah bila begitu akan ku lihat seberapa besarkah persiapanmu itu." Seringai putri Arum.
"Istriku kau yakin ingin tetap masuk meskipun resiko yang kau tanggung adalah kehilangan separuh kekuatan milikmu." Raja Jin bertanya untuk memastikan.
"Tidak masalah musuh kita lemah mereka kehilangan seluruh kekuatannya." senyum putri Arum mengambang ketika ingat Abi dan Dewi kehilangan kekuatan.
"Baiklah bila itu sudah keputusanmu tapi berlu kau ingat aku tidak bisa sepenuhnya membantumu karena kekuatanku juga akan menghilang sepempatnya tersedut oleh arai ini ketika kita membukanya nanti." ungkap Raja jin.
"Baiklah tidak masalah. Mari kita mulai." ajak putri Arum.
Keduanya berkunsentrasi penuh sambil kumat kami membaca mantra.
Sementara Dewi dan Abi hang berada di dalam bawah Air melintasi ruang waktu kedua muncul di sebuah gunung es yang tampak sangat indah ada pula kerajaan yang terlihat dari atas gunung tersebut kerajaan es.
"Kenapa aku muncul disini petunjuk apa ini." batin Dewi sembil menghela nafasnya.
Abi melihat sekiling kakinya terasa dingin menginjak serpihan Es otak berpikir keras.
"Ka Abi!!" teriak Dewi menyadarkan Abi dari lamunannya.
Dewi kau juga disini tanya Abi melihat Dewi yang berjalan kearahnya.
"Kaka Ayo naik seperti kita diberikan petunjuk cepatlah waktu kita pasti tidak lama." seru Dewi.
"Kau YAkin ini sebuah petunjuk." Abi bertanya dengan serius.
"Harusnya sih begitu." jawab Dewi tampak ragu.
"Bila bgitu mari kita cari penjuk apa yang akan kita dapat disini!! "
"Tentu saja Ka Mari."Dewi balik mengajak pergi ke puncak gunung." Mereka berdua muncul di tengah jalan pendakian.
Tidak perlu waktu lama keduanya sampai di puncak gunung dalam keadaan keinginan mereka mengawasi sekitar untuk mencari sesuatu mata keduanya saling bertemu setelah beberapa saat.
Tidak ada yang aneh disini celetuk Dewi.
Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka.
Keduanya kembali menindai sekitar.
"Apa itu mata hewan." gumam Dewi ketika pandangannya bertemu dengan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam.
Abi yang mendengarnya segera mengikuti arah pandangan Sang adik namun tidak menemukan apapun.
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Entah tadi aku seperti melihat sepasang mata yang mengawasi kita namun hilang dalam sekejap." jelas Dewi.
"Ayo kita kembali saja Ka tidak ada apapun disini aku takut ayah dan Bunda diserang." Ajak Dewi teratai.
Abi mengangguk setuju seraya berjalan mengikuti Adiknya yang berjalan selang labih dulu.
"Tunggu kalian tidak bisa pergi begitu saja setelah sampai di puncak gunung ini." ujar sebuah suara wanita suara terdengar merdu dan lembut secara bersamaan.
Abi dan Dewi tersentak mereka menoleh namun tak ada seorangpun yang mereka lihat.
Dengan kening mengerut Dewi dan Abi saling pandang berbicara lewat mata.
Seekor burung Angsa putih terbang mendekat dan mendarat di tepat di hadapan Abi serta Dewi.
"Oh Dewi Teratai ahirnya kau dan pemuda ini datang juga aku menunggu dalam waktu yang cukup lama aku bahkan hampir putus asa." keluhnya.
"Kau mengenalku?" Dewi bertanya dengan Heran.
"Tentu saja kau adalah Dewi bunga teratai emas dan pemuda ini adalah Abimanyu salah satu keturunan Dewi Lasmini. Dewi Lasmini adalah Dewi penyembuh terhebat dimassanya." ceritanya
Dewi dan Abi tentu saja begitu terkejut mendengar cerita Angsa putih itu.
"Kalian berdua cobalah untuk ikhlas menerima kekurangan dan kelebihan kalian masing-masing. Semua mahluk tercipta dengan masing-masing kekurangan dan kelebihan satu lagi ikhlaskan apa yang telah hilang dari diri kalian. Jangan pernah takut apalagi marah dan emosi lalu menyelahkan orang lain, semua sudah sesuai takdir ya masing-masing." nasehatnya.
Lihatlah aku ini aku tidak memiliki ilmu atau kekuatan tapi aku bisa menjadi memimpin bagi semua hewan-hewan yang hidup di daerah ini bukan karena aku cantik karena bulu putih bersihku ini. Kau tau karena apa? Ia justru bertanya di akhir kalimatnya.
Dewi menggeleng begitu pula Abi.
Angasa itu mental langit menarik napasnya sebelum menjewab.
"Karena aku memiliki kecerdasan di dalam otakku meski aku tidak memiliki akal bukan berarti aku bodoh cicitnya."
"Lasmi dan Arum memiliki kekuatan yang kuat dan bahkan memiliki ilmu keabadian. Namun apa kalian yakin keduanya mengunakan otaknya dalam bertindak?"
Pertanyaannya membuat aku dan Dewi terkejut.
"Dinding pembatas itu sudah menghilangkan. Sebagian kekuatan Arum dan suami gaibnya. Itu adalah bantuan yang di berikan oleh yang maha kuasa untuk mempermudah jalan kalian sisanya gunakan otak kalian sebagaimana aku mengunakan otakku untuk menaklukkan para predator di wilayah kekuasaanku." ujarnya sambil melihat Abi dan Dewi bersamaan.
Terima kasih kau membuka mata hati kami yang gelap tukas Abi.
" Itu sudah tugasku sekarang pergilah." usirnya.
Dewi segera menarik tangan sang Kaka untuk beranjak pergi namun angsa itu kembali berbicara.
" Bisa jadi yang hilang tidaklah hilang hanya saja berubah cara untuk menggunakannya." ujarnya seraya terbang meninggalkan Abi dan Dewi yang terpaku mendengar ucapan terakhir dari Angsa putih itu.
"Apa maksudnya itu?" gumam Dewi.
"Entahlah. ayo kita kembali bunda dan Ayah pasti cemas." Ajak Abi.
Tidak menunggu lama kedua tersedu kembali kedalam telaga dan muncul dipermukaan.
"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang melihat kakak beradik muncul dari telaga dalam keadaan tidak kurang apapun.