Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
tawaran Rubah licik


Sepasang suami istri terliahat berjalan sambil bergandengan tangan, menuju sebuah mobil yang menjemput mereka.


keduanya segera memasuki mobil yang didalamnya ada dua orang laki-laki berbeda usia yaitu Abi dan Gio. meraka berdua segaja menjeput Risa dan Yusuf karna mereka ingin memberikan kejutan hadiah pernikahan.


"Bunda!!" seru Abi


"sayang ibu sangat merindukanmu nak." sahut Risa sambil memeluk sang putra didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.


Abi mencium pipi Risa dengan sayang. setelah itu ia memeluk Yusuf dengan erat.


"kamu baik-baik saja kan nak, apa Grandma sakit?" tanya Yusuf pada anaknya.


"Abi baik-baik saja Ayah begitu pula dengan Grandma." sahut Abi.


"jika kamu baik-baik saja kenapa ada hansaplas yang menempel ditanganmu,luka apa ini?" tanya Yusuf pertanyan itu berhasil membuat Risa meliat ke arah tangan sang putra.


"ini hanya luka kecil saja ayah sudah tidak papa." sahut Abi kemudian tersenyum.


"kenapa kamu bisa terluka Abi?" tanya Risa sambil melirik sang putra.


"itu karana Gio yang mengijinkan Abi untuk makan dan mengobrol bersama Defvan pengusaha kaya itu." jelas Gio menimpali.


Risa dan Yusuf terkejut mendengar Abi dan Defvan saling mengobrol.


"Defvan bibicara apa? hingga kamu memberikan ijin untuk Abi saling mengobrol?" tanya Risa.


Awalnya dya mencari mas Yusuf dan kak Rusa, karana tidak ada. setelah itu dya mengajak Abi mengobrol di sebuah Cafe yang ada didepan Rumah sakit." sahut Gio sambil menatap lurus kejalan.


"Gio memberikan ijin sabagai ucapan rasa terimakasih karena ia menolong Abi yang terjatuh di resepsi pernikahan kaka." lanjut Gio menjelaskan.


"tenanglah Bunda pa Defvan sudah membawa Abi kerumah sakit setelah Abi terluka karna terkena gelas yang pecah tiba-tiba." ucap Abi menenangkan Bundanya yang wajahnya terlihat cemas.


"nanti sesampainya dirumah akan Ayah periksa kemabali." ucap Yusuf sambil mengacak rambut Abi.


Abi tak mejawab ia hanya mengerucutkan bibirnya saja sambil melihat pemandangan dijalan.


"kita kemana Gio ini bukan jalan menuju ruamah?" tanya Risa


Yusuf juga binggung kanapa Gio tak membawa mobil yang mereka tumpangi kerumahnya.


Abi hanya diam saja tak menanggapi kebinggungan Bunda dan Ayahnya.


Risa menatap sang putra yang seperti tau sesuatu.


"kemana kita Abi?" tanya Risa serius.


"sebentar lagi sampai oma dan Grandma suduh menunggu kita disana." sahut Abi dengan senyum manis dibibir kecilnya.


Risa dan Yusuf saling lirik wajah mereka menujukan kebinggungan atas jawaban sang putra.


mobil yang mereka tumpangi berhenti disamping sebuah rumah sakit swasta.


Risa dan Yusuf semakin binggung dalam hati mereka bertanya tanya-tanya.


kenapa Abi membawa kemari Apa Ibu sakit lagi. batin Risa.


siapa yang sakit apakah ibu. ucap Yusuf dalam hati.


"tenanglah Ayah, Bunda ayo keluar." ajak Abi.


Risa membuka pintu mobil disampingnya dan keluar di ikuti oleh Abi dan Yusuf.


Gio sudah berjalan menuju roko yang diberinama toko kue Bunda Clarissa.


membaca nama toko itu membuat Yusuf dan Risa saling lirik. dalam hati mereka bertanya tanya apa maksud semua ini.


"suprise!!" ucap Gio, Abi, Ratih, dan Umi bersamaan


"selamat datang ditiko milik Clarissa oktaviani." ucap Ratih dan Umi hampir bersamaan.


"Ayah Bunda ayo masuk ini toko milik bunda mualai dari sekarang." jelas Abi sambil mengandeng tangan bundanya untuk mengikutinya masuk kedalam toko.


Risa mengikuti langkah kecil Abi matanya berkaca-kaca melihat sebuah toko yang sudah lengkap dengan isinya atas nama dirinya.


"bukankah roko ini milik Bara?" tanya Yusuf pada Gio.


yang dikatakan Gio semua benar, Bara meberikan Roko ini pada Abi kemudian Bara juga memberikan sertipikat kepemilikan toko yang sudah dibalik namakan atas nama Clarissa oktaviani. sahut Umi


"terimasih sayang ibu janji akan merawat dengan baik toko ini." ucap Risa berkaca-kaca.


"Bunda tak hanya dapat toko ini tapi juga karyawannya." sahut Abi sambil melirik grandma dan Omanya.


jawaban itu membuat Risa menatap Binggung.


"oh ya Mana?" tanya Risa muka menoleh kekiri dan kanan mencari karayawan yang dimaksud sang putra


"hehehhee tapi maaf karyawannya sudah tua semua." ucap mulut Abi semabari melirik Ratih dan Umi dengan bibir tersenyum.


"grandma dan juga oma sudah siap menjadi karyawan tetep bunda disini." Abi berbicara sambil menghampiri Oma dan grandmanya.


"yang dikatakan Abi benar kami akan membantu disini." sahut Ratih yang diangguki oleh Umi.


"terkmaksih ibu." ucap Risa sambil tersenyum kepada mertua dan orang tuanya.


"Baiklah kita lanjutkana saja ngobrolnya dirumah kasian Bunda dan Ayahmu mau istirahat." ucap Gio.


"hehehee sampai lupa Abi jika Banda dan Ayah baru dari perjalanan jauh."


"Ayo kita pulang dan makan bersama." ucap Umi mengajak.


mang dadang sudah menunggu didepan mobil menjeput Ratih dah Umi.


semantara dilain tempat Defvan dan Yana sedang berbicara serius.


"Yana kamu harus hadir dipersidangan minggu ini." ucap Defvan.


"Aku tidak mau sayang aku mencintaimu aku tak ingin berpisah darimu." ucap Yana sambil terisak.


"Yana sudah kukatan aku tak mencintaimu, kau dan keluargamu juga membohongiku selama ini, Amira bukan anakku untuk apa lagi aku mempertahankan rumah tangga ini."


aku akui aku memeng membohongimu Def, tapi seiring waktu berjalan aku mulai menyukaimu dan jatuh cinta padamu. Yana berbicara masih sambil terisak dengan Air mata buayanya.


jika kamu benar-benar mencintaiku kamu tidak akan mengubah surat kepemilikan Villa itu atas nama Amira tanpa sepengatahuanku." ucap Defvan.


cepat sekali dia tau jika surat kepemilikan itu sudah berpidah atas nama Amira. batin Yana.


Asal kamu tau Yana selama ini kau bertahan karna Amira.


Akan kuberikan kamu sebuah villa jik kamu mau berpisah denganku.


"Villa." tanya Yana sambil menyapu airmata buanya.


"Ya Ambilah Villanya dan bercerailah denganku uku."


"baiklah tapi aku punya satu syarat." ucap Yana memberi penawaran.


"Apa itu katakanlah." sahut Dedvan.


"kau harus melayaniku selama tiga malam berturut-turut sampai aku puas." ucap Yana sambil melirik penuh Arti.


Defvan menarik napasnya lalu membuangnya kasar.


"carilah syarat yang lain." sahut Defvan.


"tidak aku hanya ingin itu saja." ucap Yana datar.


Defvan berpikir keras apakah ia harus menuruti Rubah yang satu ini.


"maaf yana sepertinya aku tiadak basa menuruti keinginanmu itu sahut Defvan."


ucap Defvan sambil melihat sekilas ekspresi wajah Yana.


"jika kamu tidak mau maka aku juga tidak mau berpisah denganmu." sahut Yana tegas.


"Yana apa kamu memilih masalah ini sampai kepihak berwajib?" tanya Defvan.


"Apa maksudmu?" tanya Yana balik.