Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Anilasa Abi


Eko segera keluar dari mobil meski sempat bimbang ia tak merani melawan sang majikan.


Marcello berpindah kursi ke depan ia menyalakan mesin mobilnya belum terlalu jauh mobil berjalan ia merasa dadanya panas Willem membuka kancing bajunya guna mengurangi rasa panas dan membuka sebagian kaca mobilnya.


Dadanya semakin memanas, membuat Marcello tak bisa fokus menyetir dari Arah belakang sebuah truk menabrak dan dari dapan sebuah Pic up melaju dengan cepat kecelakaan tak lagi terhindarkan. Marcello nekat membuka pintu mobil dan melompat keluar dengan memejamkan matanya.


suara mobil saling menabrak terdengar cukup keras ditelinga Umi dan beberapa orang yang berada dalam mini market saat itu.


Eko yang penasaran berlari melihat kejalan betapa mengenali mobil yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. ia terkejut melihat kondisi mobil yang dikemudikan majikannya seperti ditabrak namun tak terlihat mobil lain berada di sana. Wajah Eko pucat seketika. Eko berlari dalam hati ia harus menolong sang majikan bagaimanapun kondisinya.


Ternyata Eko tak sendiri beberapa orang juga ikut berlari ingin membantu korban kecelakaan.


Yusuf menangis histeris sedang umi terduduk lemas dipinggir jalan.


Marcello yang melompat kepinggir jalan merasa badannya begitu sakit terutama wajahnya yang mencium batu kerikil jalan.


Marcello mencoba bagun lagi-lagi dadanya panas dan betapa terkejutnya ia kulihat bajunya di bagian dadanya bolong seperti terbakar.


Marcello berteriak kesakitan. matanya tiba-tiba melihat beberapa bola Api menyerangnya, tanpa tau dari mana asalnya membuat badan Marcello merasa seperti terpanggang. ia tak lagi kuasa menahan rasa sakit, dengan sisa tenaganya ia berjalan masuk kembali kedalam mobil berharap ACE Mobil masih berfungsi dan bisa meredam rasa panas yang dialaminya.


Harapan hanyalah Harapan beberapa detik setelah Marcello masuk mobil itu meledak.


Eko yang saat itu sudah hampir sampai, segera tersungkur dijalan. ia menyalahkan dirinya sendiri kenapa membiarkan majikannya yang leleh menyetir dan pergi sendiri.


Sabar pa ujar beberapa diantara orang yang ikut menyaksikan apa yang menimpa mobil didepan mereka.


"kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan bersabar yang menentukan adalah yang maha kuasa ini sudah janjinya jalan takdirnya." Kata seorang warga menasihati Eko.


"Ayo pak biar semua ini diserahkan pada polisi berdirilah baiknya bapak temani ibu dan anak yang ada didepan minimarket saya lihat keduanya begitu terpukul." ujar Seorang pemuda.


Eko segera tersadar ucapan Marcello untum membawa istri dan anaknya pergi jauh dari kota ini.


"Mungkinkah pak Marcello sudah mengetahui apa yang akan terjadi, meminta berhenti membeli roti hanya sekedar alasan. itulah mengapa ia meninggalkan pesan demikian." batin Eko sambil berjalan kembali ke minimarket.


Eko mendekati ibu dan anak yang terlihat meraung dan menangis sedih.


"Ayo Bu kita kemabli biar polisi yang mengurus semuanya disini." ujar Eko.


Suami saya di sana pak Eko bagaimana saya meninggalkannya begitu saja.


"kita akan menunggunya dibawa ke rumah sakit bu, kasihan Den Yusuf ia pasti sedih sekali." kata Eko sambil melirik Yusuf yang terus memanggil Ayahnya.


"Ayo bu jika bukan ibu siapa lagi yang menjadi sandaran anak ibu, ibu harus kuat." ucap seorang ibu yang berada di sana.


Umi bangkit perlahan dan memeluk sang putra Yusuf sambil menatap sang putra.


"Biar saya antar Bu." ucap seorang pemuda.


"terimakasih." sahut Umi.


"Ayo pak Eko." ajak Umi.


didalam perjalanan Pemuda itu bertanya kemana ia harus mengantar Umi.


Eko segera menjawab bisakah saya mint kamu mengantar kami ke stasiun kereta minta pak Eko.


pak Eko apa maksud pa Eko saya harus mengurus pemakaman suami saya disini sahut Umi salamah.


"Bapak berpesan agar saya membawa ibu dan Den Yusuf pergi jauh dari kota ini. ini dompet milik bapak dititipkan ke saya untuk ibu."ucap Pa Eko sambil megambil sebuah dompet dari sakunya.


Saya akan mengantar stasiun kereta lanjutnya.


"saya tidak yakin masih ada kereta yang berangkat sudah jam segini." sahut Umi sambil melihat jam ditangannya.


"Bagaimana jika ibu saya antar ke Desa B kebetulan saya ada perlu juga ke sana." ujarnya sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Apa tidak merepotkan kamu." jawab Umi.


"tidak sama sekali saya juga ada perlu dengan nenek saya di sana." sahutnya ramah.


"Baiklah saya akan ke sana terkasih nak." ujar Umi sambil menatap jalan.


"Apa kita perlu ke rumah ibu dulu?" tanya pemuda itu.


"Tidak Bu jangan saya takut terjadi sesuatu biar saya saja nanti yang akan mengambil keperluan ibu dan Den Yusuf setelah memastikan ibu Aman di kota B." Ucap Eko melarang.


Umi salamah menghela napasnya kemudian ia mengangguk setuju.


Beberapa hari berlalu beberapa stasiun telivisi mengungkit massa lalu Marcello dan Willem seseorang teman Willem di massa lalu menceritakan kejadian naas yang menimpa keluarga Marcello akibat olah Willem ulah saudara kembarnya sendiri.


Willem yang mengetahui publik dibuat heboh oleh orang tersebut tak bisa berpikir panjang ia segera mengemas beberapa baju dan berkas penting kedalam koper dan pergi menggunakan helikopter pribadinya sebuah pulau di negri tetangga.


walau belum terlalu mahir menjadi pilot Helikopter Willem tidak gentar sedikitpun. Dalam hatinya lebih baik ia celaka dari pada malu dan mendekam dalam penjara serta semua kejahatannya terbongkar.


Willem sengaja melarikan diri dimalam hari karena ia yakin jika menunggu pagi kesempatan akan semakin kecil untuk kabur.


keesokan harinya terdengar berita mengejutkan Willem orlando dinyatakan tewas dalam kecelakaan Helikopter pribadinya jatuh ke sungai.


Kaki kiri korban ditemukan terputus sedangkan badannya diduga dimakan oleh hewan laut.


flashback of.


"Jadi saudara kakek meninggal?" pa Kyai tanya Abi.


"Saya belum yakin sampai saat ini." sahut Hasan.


"Apa pak Kyai curiga kecelakaan itu hanya alibi saja, sedangkan orang yang bersangkutan sehat dan melarikan diri." ujar Abi.


"Entahlah, saya tidak bisa menuduh sembarangan tanpa bukti." sahut Kyai Ahmad.


"Analisa Mu bisa jadi benar Abi mengingat beberapa kejadian yang menimpaku. Orang itu takut jika kejahatannya terbongkar." tukas Umi salamah menimpali.


"Orang yang menyebarkan berita tetang Willem, saya dengar hilang beberapa hari dan temukan gantung diri di dalam gudang di samping rumahnya." Cerita Kyai Hasan.


"Apa itu terjadi setelah Willem dinyatakan tewas." Tanya Yusuf.


"Iya benar." sahut Kyai Hasan.


"Ada kemungkinan Analisa Abi benar." gumam Risa.


Yusuf dan Umi melihat Risa sekilas.


"Saya akan menemui Mars untuk meminta bantuannya mencari informasi tentang Willem." Ungkap Kyai Hasan.


"Jika orang itu hidup ia pasti memiliki kaki buntung. jika dia berada di kota yang sama dengan kita saat ini besar kemungkinan ia menggunakan identitas palsu." Cetus Abi sambil menatap gelas teh yang berjejer di meja.