Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Licik


seorang Ayah dan anak masih terlihat mengobrol disofa sebuah kantor.


"tenanglah ded aku berniat memidahkan semua surat berhaga yang ada dirumah kerumah deddy" ucap Defvan dengan wajah serius.


baiklah aku tunggu nanti malam kau harus menyerahkan semuanya pada Deddy ucap Willem menatap sang putra.


"baiklah, ohya ded bagaimana dengan mereka yang menanam saham di perusahan Rajenra apa deddy sudah mengurusnya?" tanya Defvan.


"Ya banyak diantara mereka yang beralih menanam sahamnya keperusan milik Deddy." ucap Willem sambil tersenyum.


"harus kuakui Deddy memang pintar memanfaatkan situasi." sahut Defvan.


"Bukankah Deddy sering mengatakan gunakan kesempatan sebaik mongkin selagi kesampatan itu ada didepan mata, janganlah kau sia-siakan." Willem berbicara sambari beranjak dari duduknya


"berkerjalah dengan baik Def jangan sampai membuatku kecewa, kau itu anakku dalam waktu enam bulan kau harus dapat menjadi pengusaha muda tersukses diseluruh indonesia." ucap Willem alexsander


"apa enam bulan tak bisakah kau memberiku waktu lebih banyak itu bukan sesuatu yang mudah utuk dicapai." ucap


Defvan.


tidak mudah bagi orang lain, tapi mudah bagimu, kau memiliki pesona wajah yang dapat memikat banyak orang Defvan, kau harus pandai berbicara memanfaatkan situasi, ingat Defvan didunia bisnis bukan dunia tempatmu bermain-main.


"Defvan tau Ded, sejauh ini Defvan sudah bisa menjadi pengusaha sukses dikota ini." sambil mematap sang Ayah.


"itu belum cukup Defvan untuk mengantikanku yang menjadi pengusha sukses yang dikenal diseluruh indonesia kau harus setara danganku, dan satu lagi kau juga harus memiliki anak laki-laki dari darah dagingmu sendiri." ucap Willem serius.


"akan aku usahakan ded." sahut Defvan.


"hmmmm." ucap Willem kemudian pergi dari ruangan sang putra.


sematara dirumah Hermawan. Hermawan terlihat berpamitan pada sang istri sirinya


"Vania sayang aku karus meninggalkanmu selama dua hari keluar kota." ucap Hermawan melirik sang istri yang tengah duduk dikursi untuk sarapan bersamanya.


"dua hari Mas tak bisakah kamu meminta orang lain menggatikanmu." sahut Vania dengan senyum palsunya


pergilah selama mongkin Hermawan aku tidak perduli justru itulah yang ku inginkan agar aku bisa leluarsa menggeledah rumahmu ucap Vania dalam hati.


"kau tau kan Mas tidak mempercayakan urusan bisnis pada orang lain, karna itulah Mas harus pergi sendiri." ucap Hermawan sambil menatap sang istri.


"tapi mas aku beru beberapa hari tinggal dirumahmu aku masih belum terbiasa disini sahut Vania." sambil mengaduk makanan yang ada dimeja.


"tenanglah sayang mereka tinggal dirumah ini hanya pembatu dan satpam saja mereka tak akan berani macam-macam denganmu yang berstatus istriku." ucap Hemawan lembut sekilas ia menatap sang istri yang mengaduk makanan.


"apa kau tidak suka makanannya?" tanya Hermawan.


"aku sadang tidak berselera makan karna kau akan pergi meningglkanku." ucap Vania manja.


"aku akan menyuapimu." ucap Hermawan mendekiti sang istri.


"makanlah aku tidak akan pergi sebelum kau menghabiskan sarapanmu." ucap Hermawan sambil memandang wajah cantik Vania.


"aaaaaa bukalah mulut manismu sayang." ucap Hermawan menyudurkan senduk berisi makanan.


Vania menuruti membuka mulutnya mengunyah dengan perlahan makanan dimulutnya sambil menikmati rasa masakan mbuk Asih.


"Bagaimana enak tidak?" tanya Hermawan.


"hmmmm." ucap Vania. "hanya saja aku terbiasa sarapan roti jika pagi." lanjutnya."


"Mbuk Asih mulai besok siapkan roti untuk sarapan Vania." teriak Hermawan yang melihat mbuk Asih sendang membawa cucuian kotor.


"Baik tuan." ucap Mbuk Asih berhenti melangkah.


"apa ada lagi tuan." tanya mbuk Asih sopan.


"akan saya belikan nanti dipasar." nona ucap Mbuk asih.


"tidak-tidak jangan membelinya dipasar aku takut itu tidak bersih." belilah disuper market" ucap Vania dengan senyuman paslunya.


"oh ya untuk sarapan mbuk hanya perlu menyiapkan bahannya saja nanti saya akan membuatnya sendiri." ucap Vania sambil melirik Hermawan.


Hermawan yang dilirik Vania tersenyum kearah Sang istri tercinta.


"tidak sayang biarkan mbuk Asih yang membuatnya jangan mengutori tanganmu, kau bisa saja terluka karna pisau dan tangan mulusmu itu bisa saja kasar karana kau memasak." ucap Hermawan penuh perhatian.


Dalam hati Vania tertawa melihat Hermawan yang mudah sekali masuk dalam perangkapnya.


sedangkan mbuk Asih berjalan menuju mesin cuci ia tak mau meliat istri muda Hermawan yang terlihat sombong itu.


setelah selesai makan keduanya beranjak dari meja makan dan berjalan keluar rumah.


"Sayang jagalah dirimu baik-baik, aku akan memberimu kabar jika aku sudah sampai." ucap Hermawab menatap sang istri yang mengantarkannya keluar rumah.


"tentu saja mas, mongkin aku akan keluar sesekali untuk menghilangkan Rasa bosanku menunggumu dirumah." sahut Vania.


"Tidak masalah asal kau tak bermain dengan peria lain dibelangku." ucap Hermawan.


"aku tidak akan meninggalkan dirimu mas, oh iya apa aku boleh menukar beberapa perhiasan milik istri lamamu?". tanya Vanaia.


"Maksudmu perhiasaan milik Ratih?" sahut Hermawan.


"iya mas aku ingin memakainya tapi perhiasaan itu terlihat kono model lama jadi aku berniat menukarnya dengan yang baru, apa boleh?". tanya Vania.


"oh, tak masalah, tentu saja itu perhiasaan lama Ratih tak pernah membeli perhiasaan lagi semenjak Risa keluar dari rumah ini." jalas Hermawan.


"Risa siapa?" menatap tajam Hermawan


"sayang itu anak perempuanku." sahut Hermawan tersenyum kau begitu cemburu mendengar nawa wanitaku sebut pikir Hermawan.


"Baiklah aku pergi dulu." cup sebuah kecupan lembut mendarat di kening Vania. "kau tenang saja sayang tak akan ada yang bisa menggatikanmu disisiku." ucap Hermawan sambil tersenyum menawan.


Vania menganggukan kepala sebagai jawaban.


Dasar peria tua bau tanah aku hanya mengincar Harta milikmu, pergilah aku pastikan surat beraga milikmu akan berada ditangan Dimas. ucap hati Vania mengumpet kesal.


Hermawan melambaikan tangannya setelah mobil melaju keluar dari rumahnya.


Ayo Vania kau pasti bisa menemukan surat-surat berharga milik lelaki tua itu ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Vania segera menuju kamarnya bersama Hemawan, ia mengeledah sumua lemari milik Hermawan, dan pakaian melik Ratih.


oh astaga baju-baju ini tak ada yang bagus. ucapnya mengelengkan kepala melihat baju-baju milik Ratih.


tanpa menunggu lama Vania sudah berhasil kenemukan sertipikat rumah Hermawan yang disimpan dibawah kasur.


"kerja bagus." Vania ucapnya memuji diri sendiri.


tak membuang waktu, Vania segera menghubungi Jeck untuk mengajak bertemu disebuah salon tempatnya melakukan perawatan.


maaf jeck aku harus mengajakmu bertemu disalon, karna aku tak mau kita bertemu dan mengobrol lama, aku yakin setelah aku memyerahkan surat rumah milik Hermawan kau akan pergi, karna tau mau melihat para ibu-ibu disana merayumu.


Vania menganti hajunya, memasukan perhisan milik Ratih kedalam tasnya beserta dengan surat rumah Hermawan.


setelah selesai ia segera berjalan keluar dari kamarnya.


"mbuk Asih tak usah membuatkan makan siang untukku, aku mongkin akan lama melakukan perawan disalon, aku akan makan diluar nanti." ucap Vania yang milihat mbuk Asih membersikan lantai tangga.


"baik non." ucap mbuk Asih singkat.