Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
tak menerima


Risa berjalan keluar dari cafe dengan wajah kesal dan marah.


siapa wanita yang tidak marah, ketika anak yang telah ia jaga sendiri sejak dalam kandungan hingga lahir kedunia ingin di ambil darinya, meski itu Ayah kandungnya tetap saja Risa merasa tak rela.


kau memang Ayah kandungnya Defvan, tapi aku ini ibu kandungnya, aku lebih berhak atas Anakku. batin Risa


laki-laki tidak tau malu, tidak memiliki perasaan bisa-bisanya mulutnya itu memintaku menikah dengannya, dia pikir dengan harta yang banyak itu aku akan tertarik dan membawa serta Abi besamaku. jagan mimpi kau Defvan. umpet Risa.


"Clarissa tunggu aku belum selesai bicara denganmu." ucap Devfan yang sudah berada didepan Risa.


Risa yang berjalan sambil mengumpat dalam hatinya tak menyadari jika Defvan mengejarnya.


Ahhhh sial sekali aku, laki-laki ini sejak kapan ada dehadapanku. batin Risa.


"tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, aku tidak tertarik sama sekali dengan tawaran anda. Aku hanya memberikan ijin anda bertemu dengan putraku satu kali seminggu." jelas Risa.


"tidak tidak adil kau bisa bersamanya siang dan malam, sedangkan aku hanya satu minggu sekali aku tidak setuju." tolak Defvan ketus.


"kau ingin bertemu dengannya satu kali seminggu, atau aku tidak mengijinkannya semasekali." sahut Risa tegas sambil menatap tajam Defvan.


Defvan membalalakan matanya tak percaya dengan apa yang di didengar boleh telinganya.


Dia berani menolakku terang-terangan benar-benar wanita yang menarik, kau membuatku semakin tak sabar untuk memilikimu seutuhnya. Batin Defvan.


"kau yakin menolakku, liatlah baik-baik wajahku aku lebih tampan dari suamimu. aku juga seorang pemilik perusahan besar dikota ini, massa depanmu dan Abi akan terjamin kau tak perlu repot-repot bekerja sepeti sekarang." ucap Defvan sombong.


"aku tidak tertarik sama sekali padamu dan hartamu." jawab Risa dengan sedikit nada tinggi.


"kita lihat saja siapa yang akan bisa memiliki Abi, kau atau aku?" ucap Defvan sambil berlalu pergi.


Risa terdiam mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh Defvan padanya.


apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu untuk merebut Abi dariku. gumam Risa sambil berjalan kembali ketoko kue miliknya.


aku akan ceritakan pada mas Yusuf masalah ini. batin Risa


Defvan menyetir mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata ia begitu marah mendapat penolakan dari Risa.


Baru kali ini ada wanita yang menolakku secara terang-terangan. ini tidak bisa dibiarkan, kau membuatku malu Clarissa kau lihat saja akibatnya.


kenpa kau membuat semuanya jadi sulit Clarissa, kenapa tidak kau terima tawaranku maka semuanya akan selesai. ucap Defvan berbicara sendiri di dalam mobilnya.


kau membuatku gila memikirkanmu siang dan malam, belum lagi Deddy yang menuttutku segera membawa Abi padanya.


tak ku duga membujukmu begitu sulit. batin Defvan.


Defvan menghentikan mobilnya tepat didepan pintu pagar rumah milik Willem.


satpam segera membukakan pintu pagar, telah melihat melihat mobil milik anak dari majikannya.


setelah samnpai kehalaman rumah orang tuanya Defvan masuk kedalam rumah dan bertemu Marsella sedang berjalan menuju pintu keluar.


"Dimana Daddy!! tanya Defvan nada kesel.


sedang diperusahan ia bilang ada rapat penting" sahut Marcella.


setelah mendapat jawaban dari ibu tirinya Defvan segera pergi kenuju ruang kerja milik ayahnya.


Defvan merabahkan dirinya diatas sofa diruang kerja Ayahnya.


Defvan membuka Ponsel miliknya dan mengirim pesan untuk Willem.


30 menit menunggu Willem datang menyapa sang putra.


"Defvan apa yang membuatmu menungguku?" tanya Willem memulai obrolan.


"Dad ibu dari anak itu tak mau aku mengambil putraku darinya?" adu Defvan.


"apa yang kau katakan hingga ia tak mengijinkanmu membawanya?" tanya Willem.


"lalu ?" tanya Willem.


"Clarissa menolak, dia mengatakan aku hanya boleh bertemu dengan anaknya Abi satu kali satu minggu untuk memberikan kasih sanyangku, tidak boleh membawanya tinggal bersamaku." lanjut Drfvan sedih.


"tak perlu sedih nak, wanita itu hanya belum bisa mempercayakan anaknya padamu." ucap Willem menenangkan.


"sebagai orang tua wajar jika ia merasa cemas dan takut mempercayakan anak semata wayangnya pada orang lain." tukas willem sambil menatap wajah sedih sang putra.


"tapi aku bukan orang lain, aku Ayah kandungnya." sergah Defvan dengan nada sedikit tinggi.


Willem tersenyum kecut.


"ya kau memang Ayah kendungnya tapi ibu dan anak itu baru saja mengenalmu tentu saja dia takut dan cemas." sahut Willem


"apa yang harus kulakukan?" tanya Defvan.


"kau mendekati anak itu dan mengambil hatinya. ingat Defvan jengan bertidak gegabah." ucap Willem tegas.


"


aku juga mengiginkan ibu dari anak itu." ungkap Defvan.


"berpikirlah seblum bertidak, jangan sampai tidakanmu mempersulit dirimu dimasa yang akan datang." nasehat Willem sambil melirik putranya.


"maksdmu Dad?"


"kau tak bisa memiliki kuduanya Defvan terimalah kenyataan itu!!" ucap willem kemudian meminum kopi yang beru diantarkan oleh pembatu rumahnya.


"tapi Dad wanita sangat menarik,wanita yag tak tertarik dengan harta dan wajah tampanku ini hanya dia, aku harus mendapatkannya." tukas Defvan.


Willem mengelengkan kepalanya mendengar keinginan sang putra yang ambisius.


kau persis seperti diriku sewaktu muda apa yang ku ingin harus kudapatkan bagaimanapun caranya. batin Willem.


"sudahlah Def, diluar sana masih banyak wanita lain, kenapa kau tertarik pada istri orang?" tanya Willem.


"aku tidak tau Dad, yang aku tau, aku ingin aku Abi dan Clarissa menjadi sebuah keluarga." sahut Defvan degan wajah serus.


"apa kau sudah memberitahukan keinginanmu itu padanya Def?"


"sudah Dad Clarissa tetap menolakku." sahut Defvan.


"lepaskanlah, jagan membuat kesalahan sepertiku. kau akan menyesalinya nanti." ucap Willem kemudian pergi dari ruang kerjanya.


kesahan sepetiku, apa maksud Daddy? tanya Defvan pada dirinya sendiri.


Dad, ucap Defvan yang sekarang sudah berada dihalaman belakang rumah menyusul sang Ayah.


Willem berbalik menatap sang putra dengan penuh tanda tanya.


"Dad apa maksud ucapanmu apa ini ada hubungannya dengan Mommy?" tanya Defvan penasaran.


Marcella metap tajam sang suami.


"Sudahlah Def, tak perlu dipikirkan aku hanya asal bicara." sahut Willem datar.


"Daddy katakanlah padaku." minta Defvan serius.


"Def aku sangat lelah nanti kita bicara lagi." sahut Willem dengan sedikit membentak.


"Kau wanita ular kuperingatkan padamu jika sampai terjadi sesuatu pada Daddy aku tidak akan memberimu ampun." ancam Defvan.


"Defvan jaga cara bicaramu?" bentak Willem.


"aku hanya mengingatkannya saja, jika dia tak ada maksud jahat padamu tentunya tak perlu marah." sahut Defvan sambil menatap ibu tirinya tanpa ekspresi.


setelah itu Defvan segera pergi dari rumah orang tuanya.