
Yusuf menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Abi.
"Ayah perhatikanlah baik-baik ini tanaman ada di tempat tanaman obat milik kakek." tukas Abi
"buku yang aku temukan ini semantara waktu tudak bisa di bawa keluar Ayah, Abi takut ada orang yang melihat dan mengenali buku nenek moyang ini. kekek buyut sudah mempercayaan buku-buku ini padaku." ucap Abi sambil melihat sang Ayah
"Abi Ayah ingin menceritakan sesuatu padamu." ucap Yusuf dengan wajah serius menatap Abi.
"Baiklah Abi akan mendengarkan ceritakanlah sekarang." sahut Abi sembari tersenyum simpul.
Dulu kekek marsello pernah menceritakan pada Ayah, tenteng penglihatannya di masaa depan. kekek mengatakan akan ada seorang anak yang nanti akan mengantikannya mempelajari semua ilmu kedoktoran, ilmu kimia, fisika dan juga farmasi otak anak itu sangatlah pintar hingga membuat banyak orang berdecak kagum akan kemampuannya dalam berbagai hal. akan tetapi tak semua orang menyukainya sama halnya denganku saat ini. nah yusuf tugasmu adalah membatunya mempelajari 4 kitab yang berasal dari nenek moyang kita dan 1 buku dariku. pastikan ia mengerti dan memahami dasar-dasar ilmunya dahulu setelah itu barulah anak itu bisa mengembangkannya sendiri. kau akan bangga padanya nanti nak kata kakek Maesello saat itu.
"jadi kesimpulannya Adalah, Ayah mengangap akulah anak yang di maksud oleh Kekek?" tanya Abi.
"iya nak seseorang telah berkali-kali memberimu petunjuk, membuat Ayah begitu yakin jika kamulah orang yang di maksud oleh Kakek." ujar Yusuf sambil mengusap lembut kepala Abi.
"Jagan takut nak, Ayah akan selalu ada untuk mengajarimu, jangan sungkan untuk bertanya apapun itu Ayah akan menjawabnya sesuai dengan yang Ayah tau." tukas Yusuf.
"Abi bosok Ayah akan menelpon teman kakek Marsello dan memintanya menjadi guru farmasi untukmu." lanjut Yusuf.
Abi menanggapi dengan anggukan semabari nyengir.
milihat itu membuat yusuf gemas ia mencubit pipi gambel Abi.
"kamu nanti juga harus belajar ilmu bela diiri agar bisa melindungngi dirimu sendri suatu hari nanti." saran Yusuf.
"siap komandan." sahut Abi sambil membuka kembali lembaran buku yang ia temukan.
Yusuf berdiri meninggalkan Abi ia mengecek kembali pekerjaannya.
Abi membaca lembar demi lembar buku milik kakeknya sesekali ia mengangguk paham.
kekek kenapa sih Abi harus belajar melalui buku kenapa tidak kakek saja yang datang setiap malam di mimpi Abi untuk mengajari Abi. gumam Abi sambil melihat tulisan dan bahasa-bahasa ilmiah pada buku sang kakek.
sebaiknya Abi ajak ayah melihat taman obat kakek di mo
ruang perpustakan batin Abi sambari berdiri.
"Ayah masih sibuk tidak? tanya Abi hati-hati dengn suara cempengnya.
"Ada apa nak?" tanya Yusuf.
"Abi mau ngejak Ayah melihat tanaman obat kekek"' rengek Abi.
"ada yang ingin kamu cari di sana tanya?" Yusuf.
"sebenarnya Abi mau memetik beberapa tanaman obat untuk diteliti." tukas Abi.
"baiklah tunggu Ayah membersihakan semua alat yang Ayah gunakan." sahut Yusuf.
"Abi mengerucutkan bibirnya. apa kakek akan selalu keluar dari sini untuk memetik tanaman obat bukankah itu sidikit merepotkan baginya. jangan-jangan disini ada pintu menuju kesana" ucap Abi sambari beranjak dari tempatnya duduk.
Yusuf yang mendengar samar-samar Abi berbicara sendiri menoleh dan menegur
"Abi mau kemana nak?" tanya Yusuf.
Abi berjalan sambil melihat dinding kramik sekeliling laboraturium matanya menatap 6 kramik berbeda ukuran. "mongkin di sana." ucapnya dalam Hati.
tak mau membuang-buang waktu, Abi segera mendekati enam keramik yang berbeda ukuran itu ia mencoba meraba-raba kramik itu menggunakan tangan kanannya. ia melihat celah kecil dikramik paling bawah jari tangan kecil Abi segera masuk mengaitnya kedepan tapi tak ada pergerakan apapun pada enam kramik di depannya. tangan kecil Abi lalu mendorong kramik itu dari bawah, keramik itu sedikit terdorong. "ini permulaan yang bagus." fikir Abi dengan sedikit menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Apa yang kamu lakukan nak?" tanya Yusuf menghapiri Abi.
"Ayah bantu Abi mendorong pintu ini tenaga Abi tidak cukup kuat mendorongnya." pinta Abi dengan wajah serius.
"Baiklah kapten prof kecil." sahut Yusuf sambil mendorong pintu yang ditutupi enam kramik di dapan Abi.
Abi tertawa mendengar panggilan dari Ayahnya, tak bisa di ungkapkan betapa senangnya hati Abi saat ini. cita-citanya menolong banyak orang dengan kemampuan yang ia miliki perlahan-lahan akan terwujud.
pintu yang Yusuf dorong akhirnya terbuka terlihatlah lorong gelap tanpa ada penerangan.
"Tunggu di sana Abi, Ayah akan mencari saklar lampu disekitar sini." ucap Yusuf sambil menyalakan senter pada ponsel miliknya untuk mencari seklar lampu.
Abi tak jadi melangkahkan kakinya masuk dengan sabar ia menunggu sang Ayah menacari saklar lampu.
Begitu menemukan yang ia cari tak mau membuang waktu Yusuf sengera menekannya. menyalalah lampu- lampu berbentuk obor menjadikan lorong gelap yang terlihat seram menjadi terang menderang.
Abi segera masuk dan menghampiri Yusuf yang masih memandang takjub pada lampu-lampu obor yang meyala saat ini.
"Ayah lampu ini sepertinya di buat oleh Kakek sendiri." ucap Abi mengagetkan Yusuf.
"Ayo Ayah kita jalan kedepan." ajak Abi lalu melangakahkan kaki mendahului Yusuf.
Yusuf segera mengikuti putranya berjalan di dibelakangnya.
langkah Abi terus bergerak maju hingga sampai pada sebuah pintu terbuat dari kayu jati dangan perlahan ia mendorong pintu kayu yang tak terkunci itu.
"Abi, mongkin kamu harus menggesernya bukan mendorongnya!" seru Yusuf.
tanpa menjawab Abi mencoba mengesir pintu kayu di depannya namun tak bergeming sedikitpun.
Yusuf yang melihat itu segera membatu Abi yang kesulitan mendorong pintu didepan mereka.
dengan di bantu Yusuf pintu itu bergeser dan dapat mereka lewati. betapa senangnya Abi setelah tau di dalam sana adalah hamparan tanaman obat milik kakeknya.
Yusuf kembali terpukau melihat tanaman tubuh subur disana. ia menghirup udara segar sambil tersenyum dan melirik Abi.
"Abi, ayo ambillah tanaman yang kamu cari." ajak Yusuf
dengan mata berbinar Abi memasuki jalan kecil yang memisahkan berbagai jenis tanaman. tak segaja matanya meliahat sepasang mata memperhatikannya di balik daun-daun tanaman yang tumbuh subur.
Abi mempercepat langkahnya ia ingi tau mata hewan apa yang ada di balik tanaman sang kakek. setibanya di sana ia tak menemukan apapun tentu saja hal itu mengundang rasa penasaran Abi.
Yusuf mengerutkan keningnya bingung meliahat putranya seperti kehilangan sesuatu.
"Apa tanaman yang kamu cari tidak ada di sini?" tanya Yusuf penasan.
"Bukan itu Ayah, tadi Abi seperti melihat ada sepasang mata di balik daun-daun ini." sahut Abi serius.