Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Lahirnya Si Jenius


semilir angin sejuk di pagi hari berhembus melalui ventilasi jendela kamar tempat Risa tertidur, pagi ini cuaca nampak cerah namun tidak secerah dengan suasana hati Risa, karena telah mendapat kabar buruk bahwa putranya sedang terbaring sakit di negeri seberang.


setelah melaksanakan sholat subuh keadaan Risa mulai sedikit membaik, Umi salamah berhasil membuat Risa untuk tenang dan bersabar, dia akhirnya dapat menerima cobaan dalam hidupnya.


Aroma masakan yang enak dari dapur rumah Umi Salamah semerbak memenuhi udara dirumah itu.


saat ini Umi Salamah dibantu oleh bibi Irah sedang memasak sarapan yang enak untuk Risa.


"Bibi susun semua makanan ini di meja makan, biar saya yang memanggil Risa kemari untuk sarapan bersama." ucap Umi Salamah.


"baik nyonya." sahut bibi Irah.


Umi Salamah melangkahkan kakinya menuju kamar tamu dirumahnya, dimana tempat Risa tidur.


tok... tok...!


"Risa." panggil Umi Salamah.


"iya Umi, tunggu sebentar." ujar Risa sambil berjalan membuka pintu kamar.


"ada apa Umi?" tanya Risa.


"kamu sudah selesai mandi nak?" ucap Umi Salamah matanya melihat rambut Risa masih basah.


"iya Umi, Risa baru selesai mandi." sahut Risa.


"Mari nak kita sarapan bersama, Umi sudah masak banyak buat kamu makan." ucap Umi Salamah.


"Umi seharusnya tak perlu repot-repot menyiapkan semua itu untuk Risa, malah seharusnya Risa yang memasak untuk Umi bukan sebaliknya." ucap risa sambil mengikuti langkah Umi Salamah menuju dapur.


"tidak apa-apa nak Risa, Umi mengkhawatirkan kondisi kamu, takutnya berpengaruh terhadap kesehatan kamu." ucap Umi Salamah yang perhatian pada Risa.


Risa hanya diam tidak menjawab, beberapa saat mereka tiba di ruang makan.


"duduklah nak dan makanlah masakan yang sudah Umi dan bibi Irah buatkan ini, masakan ini spesial buat kamu nak Risa." ucap Umi Salamah.


"oh iya, Umi lupa mengambilkan vitamin yang ada dikamar Yusuf buat kamu nak Risa." lanjut Umi Salamah beranjak meninggalkan ruang makan.


"bibi kenapa tidak makan?" tanya Risa yang melihat bibi Irah yang sedang menuangkan air minum kegelasnya.


"nanti non, saya mau menyiram tanaman dulu dibelakang." ucap bibi Irah menolak secara halus.


"ayo bi Irah makan bersama kami disini, duduklah tak perlu sungkan." sahut Umi Salamah yang telah kembali mengambilkan vitamin buat Risa.


"terima kasih nyonya ta...pi." ucap bibi Irah Ragu.


Risa bangkit dari duduknya lalu menarik satu kursi yang ada di samping kirinya.


"duduklah disini bibi Irah." ucap Risa.


kemudia bibi irah menurut, dia duduk dikursi meski dengan perasaan tak menentu.


"ayo makanlah bi Irah." ucap Risa dan Umi Salamah hampir bersamaan lalu mereka saling lirik dan tersenyum.


"ini ada vitamin untukmu nak Risa, wajahmu masih nampak pucat seperti kurang tidur." ucap Umi Salamah sambil tangannya menyerahkan vitamin.


"baik Umi terima kasih." ucap Risa lalu tangannya menyambut pemberian Umi tersebut.


mereka bertiga akhirnya sarapan bersama, disaat mereka tengah asik menikmati sarapan.


"Risa, sebentar lagi kamu dan Yusuf akan menikah, Umi bahagia sekali." ucap Umi Salamah.


"sebaiknya aku jujur saja dengan Umi tentang kisah masa lalu yang telah ku alami, bagaimana Abi yang terlahir tanpa tahu siapa ayah kandungnya, aku tidak ingin kelak semua itu menjadi masalah dikemudian hari, seandainya Umi dan mas Yusuf tak bisa menerimaku setelah tahu yang sebenarya aku tidak akan apa-apa." batin Risa berbicara dalam hati.


Umi yang melihat Risa yang makan sambil melamun lalu menegurnya.


"nak Risa tambahlah nasinya, nanti setelah makan kita berjalan di kebun belakang rumah sambil melihat pemandangan." ucap Umi Salamah.


"iya Umi." jawab Risa cepat.


"ini kesampatan yang bagus untukku menceritakan semuanya kepada Umi." monolog Risa dalam hati.


setelah itu Risa, bibi Irah, dan Umi Salamah makan tanpa berbicara, hanya suara sendok garpu yang terdengar menjadi sebuah nada memecah kesunyian.


tak perlu waktu lama mereka selesai sarapan, kini Risa dan Umi Salamah sedang berada dikebun, suasana yang asri dan udara sejuk di pagi hari yang cerah.


mereka berdua duduk dikursi yang diatasnya terlihat sebuah pohon mangga yang besar dan lebat buahnya.


Risa memandang ke atas pohon itu, dia memperhatikan buah mangga yang sangat lebat, lalu disamping pohon mangga ada juga pohon jeruk yang tidak kalah lebat buahnya.


"jika kamu mau makan buahnya petik saja nak Risa." ucap Umi Salamah ramah.


"nanti saja Umi." jawab Risa sopan.


"Umi ingin mendengar cerita masa kecil Abi, bagaimana bisa Abi menjadi anak yang sangat pintar padahal usianya masih sangat muda?" ucap Umi Salamah mengajak Risa mengobrol karena tidak ingin Risa terus bersedih memikirkan Abi.


"baiklah Umi, Risa akan menceritakan bagaimana Abi bisa ada di dunia ini dan dia bisa menjadi seperti sekarang." ucap Risa sambil menerawang mengingat masa lalunya.


"ceritakanlah nak Umi siap mendengarkan semuanya." ucap Umi Salamah lembut.


Risa memulai menceritakan kisah masa lalunya, dari dia di jebak seseorang hingga berakhir tidur bersama laki-laki yang tidak dia kenal yang menyebabkan dia harus kehilangan mahtoka kehormatannya.


bibir Risa terus menceritakan perjalanan masa lalunya, bagaimana dia telah diusir dari rumah oleh ayahnya karena tidak mau menggugurkan kandungannya. sampai akhirnya dia bertemu ustazah Aisah yang mau menolongnya dan merawatnya, tak lama setelah Abi lahir dewi penolongnya itu dijemput yang maha kuasa, saat itu pula Risa memutuskan tinggal di panti asuhan milik ustazah Aisah dan menjual kue untuk mencari nafkah buat dirinya dan Abi.


Umi Salamah hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Risa terus melanjutkan cerita.


sejak Abi berusia 2,5 tahun ia suka sekali mendengar cerita dan dongeng dari buku-buku.


setiap hari Abi selalu minta untuk diceritakan sebuah kisah, sampai suatu hari dia mendengar cerita tentang seseorang penjual koran yang berhasil menjadi saudagar kaya raya karena kegigihan dan kesabarannya, Abi tampak senang sekali mendengar cerita itu.


kemudian Risa mengajarinya membaca dan menulis agar Abi bisa membaca sendiri buku-buku itu, Abi sudah bisa menulis dan membaca dengan fasih saat usianya 3 tahun.


lalu semenjak itu, Abi sangat suka sekali pergi keperpustakaan yang ada di panti untuk membaca buku-buku yang ada di sana.


disaat umurnya menginjak 4 tahun, cara berpikir Abi sudah mulai tidak seperti anak-anak lain yang seusianya.


cara bicaranya berubah, Abi menjadi lebih mudah jika diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran, bahkan dia bisa memberikan solusi yang baik disaat mereka menghadapi masalah yang cukup pelik.


diumur 5 tahun rasa ingin tahu Abi semakin bertambah, dia sering kali mencoba mempraktikkan apa yang telah dia pelajari dari buku-buku yang dibacanya, salah satunya dia suka membuat kue, melukis, memainkan alat musik darbuka, dan beberapa percobaan aneh lainnya yang sering dia lakukan sendiri.