Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
keinginan Abi


Yusuf melakukan penelitian terlebih dahulu pada virus yang menyerang Umi salamah dengan sangat hati-hati dan mata yang jeli ia mencari tau virus yang awalnya berasal dari binatang itu.


"aku akan membuat vaksin penawarnya jika hasil penelitanku sudah akurat." gumam Yusuf.


disisi lain Abi sedang berada di sebuah ruangan khusus tanaman obat milik Marcello ia terlihat memilih beberapa daun tanaman obat.


"Tuan kecil." Tegur Rubah.


"kau mengagetkanku saja." celetuk Abi sambil berbalik menatap rubah yang baru keluar dari balik tanaman obat yang tumbuh subur.


"Maafkan saya Tuan, Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya si Rubah sambil berjalan mendekati Abi.


"apa kau tau tanaman yang bisa menjadi penawar Virus yang menyerang Umi?" tanya balik Abi.


"sebenarnya Ada tanaman obat yang bisa menyembuhkan bernagai penyakit tapi tumbuhnya dihutan yang jauh dari sini dan angker disana banyak binatang buas yang siap memakan siapa saja yang berani masuk kedalam hutan tersebut." ucap Rubah putih.


"Apa nama tanamannya?" tanya Abi terliahat Antusias.


"Aku tidak mengerti bahasa ilmiahnya yang aku tau tanaman itu berwana unggu dan sangat cantik hanya berbunga setiap lima tahun sekali." jelas si Rubah.


"lalu yang berkasiat itu bunganya atau daunnya?" tanya Abi sambil memetik daun obat di depannya.


"semuanya dari Akar sampai bunga semua berhasiat tapi yang lebih banyak kasiatnya adalah bunganya. bunga itu hudup di danau beracun hanya tanaman itu yang mampu tumbuh di tengah-tengah danau dan di jaga oleh dua binatang berbaya." ungkap Rubah sambil sesekali ia mengendus bau dari daun obat.


Abi mengela napasnya kemudian mengangguk paham.


apa kamu bisa mengantarku kesana?" tanya Abi.


"Maaf Tuan tempat itu cukup berhanya saya tak mau mengambil resiko kesalamatan Anda jauh lebih penting." tolak Rubah sambil menatap sendu.


"kau tak perlu takut hidup dan mati seseorang ditangan Tuhan." sanggah Abi


"Tetap kita harus berhati-hati dalam menegmbil setiap langkah." tukas Rubah.


"Aku juga tidak tau apa bunga itu masih tumbuh atau tidak saat ini." lanjut Si Rubah ragu.


"tidak masalah kita mengeceknya terlebih dahulu. ada atau tidaknya tergantung pada takdir." sahut Abi tetap pada pendiriannya.


"Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan meski meskipun belum pasti. yang jelas aku tak ingin menyesal dikemudian hari." gumam Abi sambil melirik Si Rubah dengan Ekor matanya.


"Hidup dihantui oleh penyesalan itu sangatlah tak nyaman bahkan untuk tersenyum bahagiapun terasa sulit." cetus Si Rubah menatap kosong.


"untuk itu aku mencegahnya dan tugasmu mengantarku." tukas Abi bernada perintah.


"Tapi bagaimana jika kedua orang tuamu ta mengijinkan?" tanya si Rubah.


"Itu Urusan gampang sore besok ada kegiatan berkemah di sekolah aku bisa mengunkan kesempatan itu untuk bergi bersamamu." Ucap Abi berbinar.


"tidak-tidak, saya tidak setuju jika anda pergi tanpa berkata jujur!" tolak Rubah.


"Disini Aku menjikanmu kau harus patuh denganku." ketus Abi


"Berkata jujur pada orang tua itu penting Tuan, karna kekuatan Do'a dari orang tua terutama Ibu bisa menyelamatkan Anda dari bermacam-macam bahaya. dan setiap langkah Anda akan terasa ringan jika diiringi oleh Do'a Ibu." ucap Rubah sambil memejamkam matanya entah apa yang sedang ia bayangkan.


"Kau benar, terimakasih sudah mengingatkanku." tutur Abi sambil mengelus kepala Si Rubah


"saya Akan menemeni Anda pergi kesana jika orang tua Anda sudah memberikan Ijin." lanjut Rubah putih sambil melangkah pergi menjauhi Abi.


"terimasih!" seru Abi sambil menatap kepergian Rubah kemudian masuk ketempat persembunyiannya.


Abi bejalan sambil bersenandung ia kembali kelaboratorium untuk menemui Ayahnya.


sesampainya disana Abi tersenyum sambil menatap pekejaan Ayahnya.


Yusuf melirik sekilas sang putra sebelum bembuka suara.


"Apa kamu menemukan tamanan yang kamu cari Nak?" tanya Yusuf.


"Iya sudah Ayah. bagaimana dengan pekerjaan Ayah apa sudah jelas Virus Marburg yang menyerang oma?"tanya Abi


"Iya sayang, memang benar Virus itulah yang menyerang Umi." sahut Yusuf.


"Abi kemaren sempat membaca artekel tentang Virus itu katanya pada tahun 1967 ditemukan menyerang Dokter hewan dan tiknisi laboratorium yang sedang menyiapkan biak sel dari kera hujau di Afrika( cercopithecus aithiops) biakan sel itu akan dipakai oleh media untuk mempriduksi Vaksin polio manusia." ungkap Abi.


"Kara hijau?" tanya Yusuf merasa Asing dan baru menengarnya.


"menurut Artikel itu kera hijau diperoleh dari uganda Afrika dan dibawa kekota jerman untuk di biakan. sesampainya di kota jerman beberapa deri kera hijau menunjukan gajala penyakit demam berdarah kemudian mati." Tutur Abi sambil melihat Virus Marburg mengunakan keca mata khusus serta microscop elekrons.


"Ayah sebaikya kita segera mandi virus ini berbahanya Abi tidak mau Terjadi sesuatu pada Ayah nanti kita lanjut lag.i" tutur Abi mengajak.


"Ya baiklah." sahut Yusuf menghantiakan segera Aktivitasnya lantas berjaln menuju wastafel mencuci bersih kedua tangannya.


"ingat Ayah jika ingin melanjutkan penelitian pada virus itu sebaiknya pagai baju pengaman, Abi tak ingin melihat seorang dokter pintar sebaik Ayah mati konyol kerana olah virus kecil itu." ucap Abi sambil berjalam keluar dari laboratorium kekeknya.


"jangan meremehkan badan kecil virus Marburng itu Abi dabalik badan kecil ia memiliki racun yang dapat merusak sistem tubuh manusia." sanggah Yusuf.


"itulah sebabnya Abi membenci virus, Ayah sebutkan saja tanamam yang Ayah butuhkan Abi akan mencarinya kemanapun dan dimanapun." ucap Abi serius.


Yusuf mengelingkan kepalanya melihat Abi terliahat bagitu bersemangat mengingatkan pada sang Ayah.


"Ayah tidak akan membiarkanmu dalam bahaya nak kita akan mencarinya bersama." ucap Yusuf sambil melangkah kaki terus maju menuju pintu.


sesampainya kembali kerumah keduanya segera menuju kamar mandi masing-masing.


tigapuluh menit berlalu Abi berjalan menuju kamar kerja yuuf dan segera masuk kedalam kamar Hasia milik kakeknya untuk melihat keadaan Umi.


"Permisi Om dokter apa Abi boleh melihat Oma sebentar." ucap Abi sambil menegok dari balik pintu.


"tentu saja pakai baju pengamanmu dulu." ucap Necolas. "dan jaga jarak ya!" peritahnya kemudian.


"Siap Om Dokter." jawab Abi sambil berlalu mengambil baju mirip seperti jas hujan segera memakainya tak lupa ia mengunkan masker sebagai pelangkap serta sarung tangan.


Abi masuk dengan perlahan kedalam ruang Rawat Umi salamah ia melihat dengan teliti kundisi Umi saat ini.


"Apa bintik-bintik merah itu juga termasuk salah satu akibat dari Virus tersebut?" tanya Abi.


"Umi memeliki elergi pada obat-obatan tertentu." jelas Dokter Nicolas.


"Abi akan membuatkan salap untuk kulit Oma yang merah itu." ucap Abi sambil menunjuk pergelangan tangan Umi.