Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Rahasia Marcello


Willem benar-benar kehilangan akal sehatnya ia bersenandung riang sembari menukar kaki Ayahnya dengan kaki kiri dan kanan ibu lalu menjahitnya setelah selesai ia bertepuk tangan riang gembira.


"ini terlihat menakjubkan." pekiknya sambil terkikik


Marcello hanya menatap apa yang dilakukan kakaknya dengan gemetar ketakutan tanpa suara hanya air mata yang mewakili kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan saat itu.


Willem mendekati Sang Adik yang duduk gemetar di lantai sambil menyeringai.


ia meletakan Arit itu ketengan Marcello sambil berucap." Marcello karena kau saudara kembarku aku membiarkanmu hidup asal kau mau bertanggung jawab atas perbuatanku." Ucap Willem.


"kau mendengarku." Marcello teriak Willem. sambil membuka bajunya yang penuh noda darah.


"pakai baju ini sekarang." bentak Wilem


Marcello mengangguk dan menjawab "I-iya."


"oh ia jagan sekali-kali kau menyebut namaku saat di tanya oleh polisi." tegas Willem.


lagi-lagi Marcello hanya bisa menganggukkan kepalanya ia benar-benar takut pada kakaknya saat ini.


bagus sekali tak sia-sia aku memiliki adik sepertimu Marcello. ucap Willem menyerigai.


Willem keluar dari rumah sambil berlari dengan wajah ketakutan.


tetangga yang melihat itu bertanya padanya. "kenapa nak Willem?" tanya pa Rt.


"pak tolong saya pak saya takut di rumah sa-ya ada pem-bu-nuhan?" ucap Willem terbata sambil mengatur napasnya.


"apa pembunuhan aku tidak mengerti?" tanya pa Rt.


"bapa lihat saja sediri Marcello kembaran saya sakit jiwa pak dia membunuh orang tua saya tanpa perasaan." cerita Willem sambil menangis sedih.


"Apa kamu jangan bercanda nak?" tanya Pa Rt.


"kalau bapa tidak percaya coba bapak lihat sendiri." ucap Willem sambil sesenggukan.


"kau memang berbakat menjadi pemain sinetron Willem aktingmu amat hebat." batinnya bersorak.


Pa Rt lantas mencegat salah satu warga yang sedang lewat dan mengajaknya ke rumah orang tua Willem.


Willem mengikuti dua orang tua itu masuk kedalam rumah dan betapa terkejutnya mereka melihat dua mayat bersimbah darah segar. dan Marcello yang duduk di sudut kamar dangan baju penuh darah dan sebuah Arit tergeletak di sampingnya.


"wahyu telpon polisi sekarang!" perintah pa Rt pada temannya.


tanpa menunggu perintah dua kali Wahyu dengan cepat menghubungi polisi.


Willem yang berada di belakang pak Rt tersenyum simpul. tak lama kemudian ia terisak.


"Sabar nak, semua sudah kehendaknya kita sebagai manusia hanya bisa menerima takdirnya." nasehat Pa Rt bijak.


tak menunggu waktu lama polisi datang dan mengamankan Marcello yang di duga kuat sebagai pelaku sedang janazah kedua orang tuanya di kuburkan dengan layak orang keluarga dan warga setempat.


saat polisi membawa Marcello Hasan dan Kabar menatap tak percaya dengan apa yang mereka melihat dan dengar.


"kau percaya Akbar jika Marcello yang kita kenal itu memiliki sifat baik ramah dan suka menolong itu tega membunuh orang tuanya?" tanya Akbar.


"tidak Hasan aku rasa bukan dia yang melakukannya. sahut Akbar.


"lalu siapa sebenarnya pelakunya?"tanya Hasan.


"kita tanya sama tukang kebun atau pembantu di rumah tetang itu semua!" tukas Akbar.


Tak terasa waktu shalat isya sudah sampai keduanya Hasan dan Akbar bertemu kembali di rumah Marcello mereka berdua melihat Willem yang duduk di sudut ruangan dangan mata merah karena terlalu banyak menangis.


Hasan dan Akbar menghampiri dan duduk di samping Willem.


"Sabar Will, kamu jangan terlalu banyak menangis kasihan orang tuamu pasti sedih melihatmu bersedih." ucap Hasan.


"ia, meski kita tak terlalu dekat tapi aku bisa merasakan rasa sakit yang kamu rasakan." ucap Akbar menimpali.


Willem menatap janggah ia sebenarnya malas berbicara pada kedua sahabat adiknya ini tapi untuk memuluskan aktingnya ia terpaksa meladeni


"Aku kecewa pada adikku, selama ini kami hidup bersama aku tak pernah menyangka ia memiliki sifat iblis seperti itu ia pandai sekali menutupi sifat aslinya didepan kami samua." ungkap Willem dengan wajah sendu.


"seseorang bisa berubah dalam sekejap jika keadaan mendesak." ucap Hasan entah kenapa mulutnya berbicara sepeti itu.


"kamu benar Hasan." timpal Akbar memancing.


"jangankan kamu kami yang berteman dekat saja tak menyangka itu dilakukan oleh tangan Marcello, kami benar-benar kecewa padanya." lanjut Akbar.


"sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat darahnya mendidih dan menjadi iblis." ucap Hasan mengorek.


"karana Ayah dan ibu lebih memperhatikanku dan mendukung penuh bakat mereka juga berniat memasukan ke universitas ternama di Australia agar aku bisa mengembangkan bakat dan kelebihanku itu, Ayah juga memberikan buku dan kitab-kitab milik nenek dan kakek buyut padaku, membuat Marcello iri dan terbakar Api amarah, hingga terlibat cekcok. tanpa kami ketahui ia membuatkan cairan obat yang mempu melumpuhkan urat saraf dan memasukan kedalam makanan Ibu dan Ayah" ucap Marcello datar.


setelah sebulan diberikan obat yang mengandung racun itu Ayah beserta ibu lumpuh total. merasa tak berguna dan hanya bisa merepotkan membuat Marcello melenyapkan kedua orang tuanya terlebih dahulu cekcok dengan Ayah. marcello


"bagaimana kamu tau Marcello mencampurkan makanan ibu dan Ayahmu dengan obat beracun?" tanya Akbar.


"Aku memergokinya dan saat ketahuan ia marah padaku."ucap Willem menatap kosong depan.


warga semakin banyak berdatangan kamipun menghentikan obrolan dan mengikuti Warga membaca doa dan yasin untuk Almarhum dan almarhumah.


Hasan dan Akbar saling lirik dan mengangguk keduanya lantas berdiri dan membatu satpam rumah Willem mengangkat air meneral gelas.


Selesai membatu mereka bertanya Tanya pada Satpam tentang sifat dan kepribadian si kembar.


tentu saja dengan senang hati Satpam itu menceritakan sifat kedua anak majikannya.


setelah mengetahui sifat Asli dari Willem dan Marcello Hasan serta Akbar menyimpulkan jika Marcello bukanlah pelakunya.


"kita harus bekerja keras mencari bukti agar Marcello bisa bebas." ucap Akbar.


saat keduanya asyik mengobrol Ahmad datang dengan tergopoh-gopoh ia bahkan belum menganti bajunya sehabis bepergian jauh.


Hasan Akbar ayo ikuti aku ucap Ahmad sambil berbisik.


"ada Apa?" tanya Akbar bingung.


ikuti saja ini penting kita tak benyak waktu ucap Ahmad.


kedua mengikuti Ahmad berjalan menjauh dari rumah Willem.


Saat sampai di tempat sepi tepatnya di samping sebuah pohon asam tua ia mengajak kami duduk di sana mulutnya membaca sebuah Ayat pendek dan mengusap kedua mata Akbar dan Hasan.


Hasan dan Akbar tiba-tiba melihat seorang kakek bersama dengan Wiraja dan istrinya sedang duduk di hadapan mereka.


"Nak selamatkan marcello dari anak berhati Iblis itu ia tak bersalah." ucap Wiraja.


"siapa yang membunuh kalian?" tanya Hasan.


"Willem." ucap Sintia istri Wiraja.