Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
bantuan tidak terduga


"siapa itu..? balas Mars sedikit berteriak.


"bila kamu ingin goa ini menjadi tempat aman maka lawanlah Harimau yang ada di goa ini, atau Harimau itu yang akan memakan mu saat kau sedang terlelap." jelas suara tanpa wujud itu.


"Kakek Han apa suara itu milik kakek tua di gubuk itu." gumam Mars.


Mars kembali meneruskan langkahnya dengan pikiran tidak tenang.


benar kata suara itu aku tidak akan tidur tenang di goa ini sewaktu waktu bisa saja harimau itu terbangun dan memangsa aku.saat itu aku hanya akan menyesalinya.


tapi aku tidak pernah bertarung dengan binatang buas memikirkannya saja aku tidak pernah akan menghadapi situasi seperti sekarang lebih baik aku menghadapi amukan Devan saat aku melakukan kesalahan di perusahaan yang dipimpin olehnya.


aku keluar saja dulu dari goa ini batin Mars ia kemudian berjalan menuju mulut goa tempat masuk.


saat sudah mencapai mulut goa hanya menyisakan selangkah lagi maka ia akan keluar dari goa tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Mars tiba-tiba terpental kebelakang dengan cukup keras pantatnya menghantam batu di dalam goa membuatnya meringis sakit.


"Bagaimana bisa tempat ini tiba-tiba memiliki farmasi pelindung yang cukup kuat tadi saat aku masuk tidak ada. sepertinya aku benar-benar dijebak oleh si tua itu untuk di jadikan umpan hewan buas di dalam goa.


"Hai Kakek tua dengarkan aku aku tidak akan menyerahkan dengan mudah....!!" seru Mars menggema didalam goa ia begitu yakin bila suara yang di dengarnya adalah suara Kakek Han.


"tidak ada pilihan lain selain bertarung melawan hewan buas itu menang atau kalah aku tidak akan tau bila tidak mencobanya terlebih dahulu." cicitnya sembari kembali melangkahkan masuk kembali kedalam goa tangannya masih setia menggenggam ponsel sebagai alat bantu penerangan.


sesampainya di dekat hewan yang masih terlelap itu Mars memanggil naga putih bayura untuk membatunya namun sayangnya hewan tersebut tidak mendengarkan panggilannya sama sekali.


Naga putih tolong bantu aku bukankah kau menanggap aku adalah tuanmu Sekarang aku sedang kesulitan cepat keluar batin Mars mencoba berkomunikasi dengan hewan kontrak miliknya.


lagi-lagi Mars tidak mendapatkan respon.


"apa yang dilakukan hewan itu di alam batinku. apa dia tertidur nyenyak di sana. semenjak ia bisa membuat alam batin menjadi tempat tinggalnya hewan itu semakin malas ia tidak pernah lagi muncul membantuku." gerutu Mars tanpa ia sedari hewan buas yang ada di hadapannya sudah membuka matanya dan menatap tajam ke arahnya.


Harimau itu merasa terusik dengan suara Mars ia segera bangun matanya menatap lapar ke arah Mars ia Bahkan membuka mulutnya hingga terlihatlah deretan gigi yang taring yang tajam dan runcing siap mencabik-cabik mangsanya.


Auuuuuuwwww.....!!


Mars terkejut secara teplek ia mundur kebelakang.


detak jantungnya semakin cepat mana melihat wajah beringas dari harimau di hadapannya saat ini.


kubah pelindung yang awalnya terpasang di sekeliling harimau secara mengejutkan hancur hanya dengan sekali Auman saja hal itu membuat Mars semakin yakin bila harimau di hadapannya kali ini bukanlah harimau biasa memikirkan itu membuatnya merasa takut namun tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya.


Tidak ada jalan lain selain melawannya. Aku harus berusaha hatinya menyemangati dirinya sendiri sembari memasang gerakan siap.


melihat kawannya siap menerima serangan wajah harimau berubah garang ia mengaum dengan sedikit keras.


suara Auman yang di sertai dengan energi Qi tentu saja berbeda dinding goa tiba-tiba bergetar hebat.


nampaknya aku harus bergerak cepat bila tidak ingin tertimbun reruntuhan dinding goa.


tanpa Mars tau itu hanyalah ilusi yang di ciptakan oleh sang Harimau dinding goa masih berdiri kokoh tanpa guncangan.


"ada apa ini Naga Putih tidak mendengar panggilanku sekarang pedangku pun tidak mau keluar dari alam batinku jelas ada yang tidak beres." pikir Mars.


Mata Mars masih setia mengawasi setiap gerak gerik harimau saat harimau melompat kearahnya Mars segera kengidar. hal itu terus berulah kadang Mars bertahan dan kadang ia menyerang bebekal kepalan tangannya ia berusaha menunju tubuh sang harimau.


Mata harimau berubah merah berkobar api marah.


Mars masih setia menganggam erat ponselnya sebagai alat bantu penerangannya.


dua ekor ular hijau tiba-tiba muncul entah dari mana datangnya ulah itu mengigit Kaki harimau dengan gerakan cepat setelah berhasil dua ular itu bersembunyi di bawah celah batu hitam tempat tidur harimau sebelumnya.


aummmmmmmmmmmm Harimau mengaum marah ia mencari sekeliling namun tidak menemukan apapun.


Selagi Harimau itu lengah Mars mengambil segenggam batu kerikil bercampur debu lalu melempar ke arah wajah sang harimau.


"Aummmmmmmmmmmmm....!!!!"


harimau mengaum penuh kemarahan namun kerana matanya terkena debu penglihatan memburuk ia menyerang Mars secara tanpa aturan ditambah dengan racun di kedua kakinya membuatnya tidak terkendali.


setelah ini aku harus berterimakasih pada dua ular kecil itu batin Mars ia melompat dan meninju tepat di atas kepala sang Harimau.


tidak mampu menghindari serangan dari Mars harimau mengerang kesakitan.


tidak menyisakan kesempatan Mars menangkap kaki harimau saat melihat sang harimau melompat arahnya ia mengkir kesamping dan mampu menangkap sebelah kaki harimau yang terkena gigitan Ular.


Mars membating keras harimau itu sebelum tangan harimau berhasil mencakar dadanya.


"kau melukai anak muda Maka rasakan ini." ujar Mars segera melompat dan menginjak kepala dan Kaki harimau secara bersamaan.


Bersamaan dengan itu rupanya racun yang di tinggalkan ular cukup efektif dan menyebar dengan cepat hingga hanya kematian yang harus ia terima.


sebelum menghembuskan napas terakhir Harimau itu memuntahkan darah hitam dan sebuah batu berwarna putih.


begitu harimau tewas secara otomatis semua obor di dalam goa menyala terang.sebuah jalan keluar terbuka untuknya.


Mars tertawa mendapati dirinya seperti berada di dalam sebuah permainan berpetualangan.


daging Harimau apa aku bisa memakannya untuk mengajak perutku yang lapar cicit Mars sembari memeriksa luka yang di tinggalkan harimau itu di dadanya.


"walau tidak dalam luka ini harus segera di obati untuk menghentikan darah yang terus keluar." gumam Mars seraya melihat ke arah sebuah jalan yang sudah terbuka sendiri setelah ia mengalahkan harimau tadi.


"ular kecil dimana kami keluarlah." ucap Mars ia belum melupakan bantuan yang diberikan dua ular kecil sebelumnya.


"bodoh mana mengerti bintang dengan bahasa yang ku ucapkan." batinnya merontoki kebodohannya.


"terimakasih atas bantuannya tanpa kalian berdua aku pasti sudah menjadi santapan bilangan buas itu." Mars berbicara sendiri walau ular itu tidak mengerti ucapnya baginya ia tetaplah ingin mengucapkan rasa terimakasih karena sudah di tolong.