Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
kekalah Rubah licik


Defvan menatap wanita yang berada dihadapannya dengan mata elangnya.


"kau dan keluargamu sudah menipuku, mengambil sebuah pulau milikku, dan mebaliknamakannya tanpa sepengatahuannku, aku bisa saja melaporkanmu untuk itu semua." mata Defvan mengawasi semua gerak gerik Yana.


"apa maksudmu sayang, kamu tidak bisa menuduhku tanpa bukti bisa saja hal itu dilakukan oleh orang-orang yang bekerja dirumah ini." elak Yana dengan santai.


Defvan menghertakkan giginya menahan amarah, tangannya mengepal kuat ingin sekali ia menampar wanita yang ada didepannya saat ini.


"Yana sebaiknya kau akui saja kesalahanmu, berpisah sacara baik-baik denganku tanpa melibatkan pihak berwajib." tegas Defvan sambil mentap Yana dengan tajam.


"kesalahan yang mana sayang, aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun padamu." ucap mulut manis Yana masih tatap mengelak


"Yana!!!" bentak Defvan dengan suara tinggi. "aku peringatkan sekali lagi akui kesalahanmu dan keluaragamu selagi aku masih memberimu kesempatan." tandas Defvan memicingkan matanya.


Yana melihat sekilas wajah Defvan sudah berubah merah padam pertanda sang pemilik tubuh sedang dikuasai api amarah.


"katakan apa saja kejahatan yang kau lakukan selama menjadi istriku dan siapa saja orang yang terlibat." ucap Defvan dengan nada tinggi.


Yana yang baru pertama kali melihat Defvan marah beringsut mundur perlahan dari tempatnya duduk tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


melihat itu Defvan mengambil sebuah pot bunga yang ada dimeja dan melemparkan kesamping Yana hingga pecah.


"kau ingin serpihan kaca itu menggores kulitmu Yana?" tanya Defvan menyerigai.


Yana menggelengkan kepalanya menjawab pertayaan Defvan.


"apa kau menjadi bisu setelah kejahatanmu terungkap?" tanya Defvan sambil mendekati Yana.


"aku tidak melakukan apapun padamu." kata itu lulus dari bibir Yana yang bergetar.


Defvan mencengram kuat rahang Yana dengan tangannya sambil berucap. "ayo ulangi lagi ucapanmu dan lihatlah aku."


"Aku tid-ak melakukan a-ap-apun." sahut Yana terbata.


Defvan melepas cengramannya sambil mendorongnya kasar. tanpa berbicara Defvan menarik Yana menuju kebuah rauang cctv yang ada dirumahnya.


"lepaskan aku sakit." ucap Yana memohon.


"diamlah, kau tidak mengakui kejahatanmu bukan maka aku akan menunjukan padamu apa saja kejahatanmu." ucap Defvan membetak setelahnya ia menyerigai.


melihat Defvan menyerigai membuat bulu- bulu halus di tubuh Yana berdiri bergidik ngeri.


Defvan mencolokan sebuah flasdisk kedalam leptop mahalnya dan mebuka fale yang berisi sebuah vidio rekaman cctv


"Liatlah baik-baik dengan mata kepalamu kejahatan yang tak kau akui." tandas Defvan sambil menarik rambut Yana dari belakang agar ia melihat kevidio yang sedang berputar.


Vidio yang memperlihatkan Yana mengambil setipikat sebuah pulau yang diberiakan willem sebagai hadiah pernikahan Defvan dan Yana.


Bagaimana mongkin aku sudah memastikan disana tidak ada cctv. batin Yana.


melihat wajahnya yang terkejut dan takut membuat Defvan tersenyum miring.


Defavan berjalan kembali menuju leptopnya yang masih menyala kembali kemutar sebuah rekaman cctv.


Yana semakin terkejut melihat vidio kedua yang memperliahatkan ia sedang berusan dengan seseorang untuk membatunya membaliknamakan surat kepemilikan pulau. matanya bahkan tak berkedip menatap tak percaya bagaimana bisa Defvan yang ia tau sangat sibuk dapat mengatahui hal itu dalam waktu singkat.


belum hilang keterkejutannya Yana. Defvan kembali melempar sebuah amplop berlambang rumah sakit.


"Buka dan baca dengan benar!" perintah Defvan dengan suara lantang.


Yana membuka dan membaca isi amplop dengan tangan gemertar.


setelah membaca ia tau jika itu adalah surat tes DNA Amira dan Defvan.


"maafkan aku, aku hanya dijadikan boneka oleh orang tuaku, jujur saja aku juga tidak ingin melakukan semua ini padamu aku menyukaimu." ucap Yana sambil berlutut dibawah kaki Defvan.


"itu artinya kamu bodoh Yana, sudah tau hanya dijadiakan sebagai boneka hidup kenapa kau mesih menurutinya." ucap Defvan sambil melipat kedua tangannya didada.


"aku tak bisa melawannya mereka mengancamku akan membuangku jika aku tak menuruti keinginan mereka." sahut Yana terisak.


"sudahlah Yana, jangan mengiba padaku aku tak akan mengubah keputusanku kita tetep akan berpisah" ucap Defvan tegas.


"tak bisakah memberiku satu kesempatan lagi?" tanya Yana berharap.


"tidak, ada kesempatan kudua untuk orang sepertimu." sahut Defvan sambil berjalan pergi untuk mengambil sebuah map berisikan semua catatan pengeluran Yana.


"Yana kemarilah!!" seru Defvan.


Yana berdiri perlahan lalu berjalan dengan langkah ragu mendekati Defvan.


"ini adalah catatan pengeluaranmu bulan lalu, sekarang aku minta tunjukan semua barang yang kamu beli dengan kartu keredit yang kuberikan padamu." perintah Defvan sambil melihat mata Yana yang mengelurkan air matanya.


Yana berlutut kembali dibawah kaki Defvan memohon ampun.


"apa kau tak mendengarku YANA!!" teriak Defvan ber Api-api.


"Kau mengatakan orang lain jalangg saat orang itu mengandung anak tanpa suami lalu kau disebut apa?" tanya Defvan. "kau juga mengandung anak yang bukan darah dari suamimu." ungkap Defvan meluapkan amarahnya.


"Aku mohon percaya padaku Defvan aku hanya mengikuti inginan orang tuaku saat menikah denganmu aku diacam tidak akan mereka anggap anak jika tak menurutinya." ucap Yana mengiba sambil terisak.


"aku bukan orang bodoh yang termakan mulut manismu Yana. pergilah dari rumah sebelum aku berubah pikiran." tandas Defvan mengusir.


"Defvan apa kau tak kasihan dengan Amira dia masih memerlukan kasing sayang dari kedua orang tuanya." sahut Yana.


haaaaaahahahahha Defvan tertawa ala bos Mafia


"kedua orang tuanya kau bilang Yana, kedua orang tuanya itu adalah kau dan Devid willson bukan aku Yana." ucap Defvan.


Bagaimana ia mengetahui massa laluku bersama Devid tanya Yana dalam Hati.


"kau ingin tau bagaimana aku tau semua itu?" tanya Defvan dengan aura dingin.


Yana mengangguk pelan.


"cukup mudah bagiku melakukan semua itu, dan perlu kau tau Yana orang tuamu sekarang sudah berada dikantor polisi untuk mempertangung jawabkan semua perbuatannya." sambil melihat ekspresi wajah terjut Yana.


"kau ingin menyusul mereka, atau bercerai denganku dan mendapat sebuah villa untuk Amira." tanya Defvan menawarkan pilihan.


mendengar orang tuanya sudah barada ditangan pihak berwajib Yana segera menyetujui perpisahan keduanya.


"Bagus" ucap Defvan tersenyum miring sambil melangkah pergi


Bagaimana dengan perusahan yang kau bangun atas nama Amira tanya?" Yana tiba-tiba membuat langkah Defvan terhenti sejenak.


"aku sudah membaliknamakan kembali atas namaku, setelah tau kau dan orang tuamu menipuku." sahut Defvan datar sambil mebalikan badannya menghadap Yana


"kau menipu orang tuaku, agar ia menanamkan banyak sahamnya disana?" tanya Yana dengan ekspresi wajah tak percaya.


"ya aku melakukannya dengan cepat tidak sepertimu yang lambat dalam bergerak." sahut Defvan.


sedetik kemudian Defvan sudah pergi dari tempatnya berdiri.


Yana begitu kesal saat tau Defvan menipu Ayahnya.