Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Rengekan Abi


Alunan nada piano terdengar menyayat hati, sepertinya orang yang sedang memaikannya sedang bersedih hati..


tak...tak...


suara langkah kaki mendekati sebuah ruang musik milik sang putra semata wayangnya dengan perlahan ia membuka pintu, matanya menatap nanar sang putra tercinta.


"Defvan maafkan Ayah nak sampai saat ini ayah tak bisa memberikanmu kebagian bahkan merayu dan membujuk Abi agar tinggal selamanya denganmu Ayah tidak bisa." gumamnya Lirih sambil melangkah masuk.


"Musik yang kau meinkan sangat menyayat hati nak apa yang sedang mengganggu pikiranmu." tegur Willem berdiri disisi sang putra yang masih asyik memainkan alat musik kesukaannya.


Defvan melirik sekilas tak lama kemudian ia menghentikan permainan musiknya.


"Ded aku hanya melemaskan otot tanganku dengan bermain musik." sanggah Defvan sambil kembali memainkan musik dengan nada santai.


"Nak Ayah sejak kecil mengenalmu Ayah tau kebiasaanmu saat beban fikiranmu semakin menumpuk kau pasti akan memainkan musik untuk mencurahkan lewat alat musik kesukaanmu." ucap Willem menepuk pelan pudak sang Putra.


"tidak papa Daddy aku masih mampu berdiri walau hatiku terasa sakit saat anakku berkali-kali menolak tinggal bersamaku." ucap Defvan sendu.


"Ayah akan berusaha meminta pada Yusuf dan istrinya agar Abi mau tinggal dengamu meski tidak selamanya." tutur Willem


"terimakasih Dad, tapi aku tidak yakin Abi mau. Dokter Yusuf dan Clarissa bahkan berniat memasukan Abi kepondok pesantren." Adu Defvan sambil mengingat kembali ucapan Clarissa bebrapa hari yang lalu.


"untuk apa bukankah Abi masih sekolah?' tanya Willem.


"itulah masalahnya Ayah Dokter Yusuf serta Clarissa sepakat ingin memindahkan Abi kepondok pesantren dengan alasan Agar Abi tumbuh menjadi anak yang paham akan hal ke-Agaman." tutur Defvan.


"lalu pendidikan Abi bagaimana?" tanya Willem.


"itulah yang aku tidak habis pikir Dad, Abi itu calon pewaris perusahan bagaimana dia memimpin perusahan jika yang diajarkan hanya ilmu Agama." tukas Defvan.


"Kau tidak berusaha mencegahnya?" tanya Willem lagi.


"Aku sudah menolaknya terang-terangan bahkan aku juga mengatakan jika Abi harus tetep bersekolah disekolah bersandar internasional dikota ini, Ibunya tetap pada pendiriannya." ujar Defvan sambil mengngingat kembali ucapan Risa saat itu.


"berusahan lebih keras Def, atau kau beri jangka waktu untuk Abi belajar Agama di pesanteren sesuai inginan ibunya. setelahnya kau akan menjemputnya dan mengirimnya keluar negri agar bisa bersekolah tanpa di gannggu oleh masalah apapun." sahut Willem sambil menatap manik mata sang putra.


"ahhh kamu benar Daddy terimakasih hal seperti itu tak terpikirkan oleh otakku sahut." Defvan sambil tersenyum senang.


Daddy senang melihatmu tersenyum Def. batin Willem. melangkah pergi meninggalkan Defvan yang masih asyik bermain musik.


Disisi lain terlihat Abi meregak dihadapan Risa dan Yasuf meminta Ijin ikut kemah selama dua hari di area gunung ijo.


"Nak tapi disana masih terlihat banyak hutan," ucap Yusuf. "Kamu yakin ikut bermalam disana bagaimana jika ada binatang buas?" lanjutnya.


"Tenanglah Ayah di setiap gunung pasti ada pawanngya atau juru kunci selama Abi dan teman-teman tidak berbuat kesalahan Abi yakin semua akan baik-baik saja." sahut Abi bersikap dewasa.


"Baiklah nak tapi kamu harus berhati-hati jika terjadi seuatu segera hubunggi Ayah atau Bunda." ungkap Yusuf sambil melirik Risa dan mendapat anggukan.


"satu lagi Abi jangan berpisah dari teman-temanmu agar kamu tidak terseset buangrasa penasaranmu jauh-jauh." ucap Risa ia begitu hapal dengan sifat sang putra


"Iya Bun." jawab Abi sambil mencibikkan mulutnya.


Ayah, Bunda terimaksih ucap Abi sambil mendekati kedua orang tuanya.


"sama-sama nak jaga kesehatanmu jangan lupa makan meski kamu banyak kengitan pola makan harus tetap di jaga." nasehat Yusuf.


"Siap Ayah, Abi mau siapkan baju-baju Abi dulu sekalian kasih kabar sama teman-teman sekolah Abi kalo Abi jadi ikut kemah besok." ucapnya kemudian berlalu meninggalkam Risa dan Yusuf yang tersenyum melihat putra tercinta.


"tak terasa Abi sudah sebesar itu." gumam Risa sambil berjalan kedapur membatu ibunya menyiapkan makan malam.


Yusuf yang di tinggal oleh Risa segera beranjak dari sofa mematikan televisi kemudian menemui sahabatnya Dokter Nicolas.


"selamat Sore dokter Nicolas!" sapa Yusuf.


"ahhh kebetulan sekali kamu kemari aku baru saja ingin menemuimu." sahut Nicolas melihat Yusuf berjalan mendekati ibunya.


"Yusuf jaga jarakmu." perintah Nicolas tak mau dibantah.


"hanya sebentar Nic tidak akan terjadi apapun denganku." jawab Yusuf.


"jika kau tak mau mendengarkanku lebih baik aku pergi dari sini." rajuk Nicolas sambil berdiri dari tempatnya duduk.


yusuf menghela napasnya kemudian berlalu mengambil baju pengaman.


"Maaf Yusuf bukan maksudku membuatmu kesal atau melarangmu aku hanya tak ingin kau tertular." gumam Nicolas.


Yusuf berjalan masuk kembali mendekati ibunya ia memicingkan mata meliahat bintik-bintik di sekujur tubuh Umi sudah mualai berkurang.


Ia menatap sekilas sahabatnya yang ia percaya merawat Umi.


Dokter Nicolas yang di tatap Yusuf mengerti ia segera menjelaskan.


"Bintik-bintik merah itu berkurang karna salap yang di racik oleh putramu, aku benar-benar kagum padanya di usia yang masih muda ia sudah bisa membuat berbagai fermula obat dan salap." ucap Nicolas sambil memainkan ponselnya.


"Abi kapan ia memberikan salap padamu." tanya Yusuf.


'tadi pagi." sahut Nicolas datar.


"hah kemaren aku dan Abi bahkan tak selesai mengerjakan pekerjaan kami di LAB." ungkap Yusuf.


"bukan hanya salap saja ia juga menyerahkan ramuan herbal yang selama ini menahan virus didalam tubuh Umi." ucap Nicolas.


"Apa anak itu diam-diam keluar ditengah malam untuk mengerjakan pekerjaannya di Dalam LAB seorang diri?" tanya Yusuf melalui batinyaa.


"sudahlah Yusuf yang dikerjakan Anakmu bukanlah hal buruk tak perlu terlalu dipikirkan. labih baik cepat kau selesaikan pekerjaanmu membuat Vaksi penawar Virusnya." ucap Nicolas bernada perintah.


"tentu saja aku sedang mencari beberapa tanaman obat langka untuk membuat vaksin tersebut." sahut Yusuf.


Di tempat lain seorang wanita sedang duduk di atas sebuah rakit yang terbuat dari bambu.


Dia memandang kesekeliling di penuhi berbagai macam tanaman beraneka ragam bunga serta buah.


Oma jangan menyebrang kemablilah teriak sebuah suara.


"Abi." gumam Umi salamah.


"Abi kamu dimana nak?" tanya Umi sambil melihat sekeliling.


"Abi disini Oma, ayo bermain dengan Abi Oma." teriak Abi suara terdengar jauh ditelinga Umi.


"Oma tidajk bisa melihatmu nak." sahut Umi berteriak.


"Abi ada di tempat awal Oma tiba disini." teriak Abi.


"Rakit bambu ini sudah memabwaku ditengah-tengah sungai bagaimana aku bisa kemabali?" tanyanya pada dirinya sebdiri.


"Oma ayo kesini, berenanglah oma." teriak Abi memberi solusi.


"berenang Oma takut sungainya terlihat dalam bagaimana jika ada buaya." gumamnya.