Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
penuh kejutan


kapan mereka di perbolehkan bangun tanya seorang wanita yang wajahnya sangatlah cantik bagai seorang bidadari.


"sepertinya kau begitu tidak sabar nak...? " lelaki yang di tanya justru bertanya balik.


"bukan begitu paman hanya saja gubuk kecil ini terasa sesak dengan banyaknya orang disini.....!!" jawabnya sembari memalingkan wajahnya.


"jaga bicaramu Xia..!! mereka tamu kita, jika mereka mendengarnya bisa saja tersinggung." tegur lalaki yang sempat memberikan Abi minum sebelumnya.


yaya... jawabnya sembari melihat semua orang yang masih memejamkan matanya di lantai gubuk yang dingin.


"ingat Xia kau jangan bicara sembarangan, perlakukan mereka dengan baik selama mereka disini kau mengerti..!!" kata lelaki itu menasehati gadis cantik yang di panggil Xia itu.


"aku tidak berjanji, jika mereka membuat masalah denganku maka dengan senang hati aku meladeninya" ujarnya dengan nada dingin.


"Kau....!! "


"sudahlah paman sebaiknya paman urus saja mereka dan usahakan agar mereka capat pergi dari sini aku tidak suka tempat kecil ini menjadi ramai karena ocehan mereka menganggu ketenanganku." ungkapnya dengan nada serius.


Xia jika kau ingin mereka capat kembali pulang maka kau harus membantu paman ucap lelaki itu sembari menatap punggung ponakannya yang sudah melangkah ingin meninggalkan gubuk.


"mendengar ucapan pamannya Xia menoleh sejenak sembari berkata aku tidak tertarik membantu satupun diantara mereka." sahutnya kemudian melanjutkan langkahnya .


sesampainya di depan pintu gadis bernama Xia Hua itu diam sejenak terlihat senyum menyeringai dibalik cadar biru langit yang sedang ia pakai entah apa yang sedang ia pikirkan didalam otak kecilnya hanya dirinya yang tau.


"Semoga anak itu tidak mengacaukan apa yang sudah menjadi tugasku." gumam lelaki yang disebut Xia Hua sebagai paman.


Saat kaki Xia hua melangkah keluar dari gubuk kabut asap muncul bersamaan dengan menghilangnya gadis itu.


Sepertinya harus aku sendiri yang menyiapkan makanan untuk para tamuku ini lanjutnya sembari melangkah kebelakang.


Dua jam jam berlalu seorang gadis kecil membuka matanya perlahan. Tanpa ada ekspresi terkejut sedikitpun ia bergumam pelan. "Sudah kuduga tempat ini menjadi tempat persinggahan sementara kami."


"Ka Abi apa Kaka begitu leleh hingga tidak mau membuka mata sampai detik ini." cicitnya sembari melihat wajah damai sang kaka yang tertidur nyenyak.


Dewi segera berdiri ia berniat mencari sang pemilik gubuk langkahnya menontonnya menuju pintu belakang dimana tercium aroma masakan yang menguar di udara.


Saat pintu belakang dibuka pemandangan pertama yang terlihatlah oleh mata indahnya adalah semua peralatan dapur bergaya klasik ada pula alat masak moderen di sana termasuk meja makan yang berguna prancis.


"Ini semua bagaimana bisa alam mereka memiliki benda-benda ini apa Kekek tua pemilik gubuk ini pergi ke pasar modern di dunia yang ku tepati." pikir Dewi jelas sekali ia terkejut dengan ini.


Gadis kecil tidak berpikir terlalu keras kau nikmati saja permainan takdirmu ucap suara seorang lelaki namun tidak terlihat batang hidungnya.


Dewi mengucek matanya perlahan sekali lagi melihat dengan sekali lagi semua peralatan dapur yang ada di sana, namun semua tidaklah berubah semua tatap sama seperti pertama kali ia melihat.


"Siapa kakek..? kenapa semua peralatan disini sama dengan yang ada di duniaku...?" rasa penasaran mendorongnya untuk mengetahui lebih jauh.


"Karena aku dan ponakanku menyukainya jadi memilikinya." sahutnya acuh.


"Dimana kekek mendapatkan semua ini. Apa kakek pergi ke dunia kami...?"


"Terkadang rasa penasaran berlebih bisa mempersulit langkahmu gadis kecil berhati-hatilah." ucap suara lelaki yang masih tidak menunjukan keberadaannya.


Sttttttt...


Seperti tergores pisau namun tidak berdarah ucapan lelaki yang tidak terlihat itu membuatnya bungkam seketika.


"Bangunkan saja teman-temanmu sebentar lagi makanan akan siap." ucap lelaki itu dengan nada tegasnya nampak ia tidak ingin di bantah.


Rumah ini memiliki banyak sekali pintu kamar apa lelaki tua tadi memiliki banyak anak batin Dewi teratai tak habis pikir banyangkan saja gubuk yang terlihat kecil di dalamnya justru memiliki banyak pintu kamar yang entah apa isi di setiap kamar itu. Satu hal dapat ia simpulkan bahwa gubuk ini bukanlah sekedar gubuk biasa. Terbukti saat memasuki salah satu pintu yang ternyata dapur penuh dengan peralatan memasak di dunia modern dengan gaya klasik yang sangat enak di pandang.


Sesampainya di samping Abi, Dewi segera mencubit hidung sang kaka.


"Bagun Ka cepatlah nanti orang itu marah." cicitnya namun Abi tak kunjung bangun.


"Kaka capat bangun." ulangnya dengan nada sedikit lebih keras.


Mendengar suara berisik Zahra terbangun ia perlahan membuka matanya.


"Auuuuuuwww, kepala rasanya sakit." gumamnya pelan.


"Ka Zahra syukurlah kaka sudah bangun bantu aku membangunkan yang lain." minta Dewi teratai melihat arah zahra penuh harap.


"Dimana kita zahra?".bertanya bingung.


"Biar pak tua itu menjelaskan nanti sekarang bantu Aku membangunkan yang lain sebelum dia marah." ucap Dewi sembari menepuk pelan wajah sang kaka.


"Uuhhhhhhkkk apa sih Dek." rancu Abi.


"Kaka bagun."


"Gadis kecil ajak semuanya kemari!!" seru sebuah suara dari arah belakang.


Zahra yang sedang membangunkan semua orang di dekatnya melihat ke arah Dewi.


"Ayo semuanya kita sudah di tunggu tuan rumah.." ajak Dewi sembari menarik paksa sang Kaka di ikuti oleh yang lain masih terlihat bingung.


saat mereka sampai di dapur Seorang lelaki sudah menunggu mereka sembari menuangkan air minum di dalam gelas.


"duduklah tidak perlu sungkan." ucapnya ramah.


Abi ,Dewi dan yang lain melihat wajah lelaki yang berada di depan mereka dengan wajah terkejut tidak ada satupun yang berbicara mereka semua memandang ke satu arah.


"apa yang kalian lihat, makanlah selagi panas, tenang saja aku tidak memberikan racun pada makanan ini." kekehnya pelan.


"Ayah..!! cicit Abi pelan mata memandang penuh kerinduan dengan sosok di depannya.


"Yusuf..!!!" ucap Mars pelan namun suaranya masih bisa di dengar oleh sang pemilik gubuk.


"Apa maksudmu Nak...??


Dewi segara tersadar dan meminta maaf.


"Kakek maafkan Kaka saya, Wajah Kakek begitu mirip dengan Ayah kami di dunia fana." jelas Dewi.


"hemmmmm tidak apa nak, terkadang kita tidak mengerti takdir yang sedang mempermainkan kita..." ucap lelaki itu ambigu.


"sebaiknya kalian makan dulu setalah itu kalian boleh bertanya apapun saya berjanji akan menjawabnya." lanjutnya sembari tersenyum ramah.


mereka semua duduk dan menikmati makanan yang sudah susah payah di siapkan oleh tuan rumah.


mata Abi berbinar melihat ikan mas bakar kesukaan ada di sana ia ingin mengambil ikan tersebut namun ada rasa takut dihatinya.


"jangan sungkan makanlah aku akan keluar sebentar menyiapkan kamar untuk kalian." ucap sang tuan rumah sembari berlalu.