
Di hari minggu seperti biasa Yusuf menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Yusuf sudah berjanji pada Abi akan mengajaknya ikut serta ke musium peninggalan Ayahnya.
Abi yang baru selesai sarapan berserta keluarga berjalan menuju kamarnya.
"Abi!" panggil Yusuf.
"Ya Ayah." sahut Abi berbalik badan menatap Yusuf.
"apa kamu ingat hari ini Ayah berjanji mengajakmu ikut serta Ayah ke laburaturium Kakek Marsello." kata Yusuf sambil berjalan maju mendakatin Abi.
"hmmmmm, Abi ingat Ayah, ayo kita berangkat sekarang. Abi sadah tidak sabar." sahutnya antusias.
"baiklah ayo ikuti Ayah." ajak Yusuf sembil tersenyum senang.
keduanya berjalan menuju ruang karja milik Yusuf.
sesampainya di ruang kerja miliknya Yusuf mengegesir meja kerjanya, Abi yang sudah dapat petunjuk melalui mimpinya segera membatu Ayahnya membuka empat buah karamik yang berada dilantai tempat meja kerja Yasuf berada.
Yusuf yang melihat itu binggung, ia tidak pernah memberitahu Abi soal jalan menuju laburaturium milik ayahnya bagaimana Anak ini bisa tau. batin Yusuf tercengang.
"Ayo Ayah, tak perlu bingung di sana, kita harus masuk secepatnya sudah wantunya Abi mempelajari buku milik kakek." Ajak Abi dengan wajah serius.
Abi masuk kedalam melalui tangga yang sudah tersedia.
tanpa kata Yusuf segera mengikuti Abi masuk kedalam ruang bawah tanah.
mereka berdua berjalan menyusuri jalan yang ada disana saklar lampu di dalam sana sudah di nyalakan Yusuf hingga tak terlihat gelap.
Abi berjalan mendahului Ayahnya, ia sesekali mengatok dinding terbuat dari semin yang lewatinya, membuat Yusuf heran apa yang sedang di lakukan sang putra.
kendati demikian Yusuf tetap tak berbicara apapun ia hanya memperhatikan setiap kegerakan yang dilakukan putra Risa itu dengan matanya.
tiba-tiba Abi berhenti sambil mengetok-ngetok dinding dan menempelkan telinganya didinding. hal itu mengundang rasa penasaran Yusuf semakin menjadi jadi.
setelah memastikan itulah tempat ia cari Abi segera mencari sesuatu yang bisa membuka dinding itu.
Samar-samar ia melihat kulat payung tumbuh dinding dipenuhi lumut.
dengan hati-hati Abi melangkahkah kakinya dua langakah mendekati jamur itu ia menyikirkan lumut yang menutupinya.
pelah tapi pasti Abi menggoyangkan kekiri lumut tersebut. hal itu membuat dinding yang diketok-ketoknya terbuka dan menampakan sebuah peti seperti peti harta karun berukir emas.
hal itu tentu saja membuat Yusuf kaget.
"Abi bagaimana kamu mengatahui semua ini?" tanya Yusuf bingung dan penasaran
"Abi mendapatkan petunjuknya lewat mimpi." ucapnya singkat dan jelas.
"siapa orang yang memberi taumu dalam mimpi?" tanya Yusuf dengan rasa penasaran yang tinggi.
"kakek tua." ucap Abi singakat.
Abi membuka peti dengan hati-hati matanya berbinar mana kala mendapati sebuah buku yang sama seperti yang ada dalam mimpinya.
Yusuf mendekati Abi dan melihat sebuah buku yang terlihat berat di tangan Abi.
"Ayo ayah sekarang kita masuk kelaburaturium kakek secepatnya." ucap Abi berlari meninggalkan Yusuf.
Yusuf yang belum sempat menjawab dan bertanya segera mengikuti Abi yang sudah berlari meninggalkannya.
mata Abi berbinar bahagia meliahat labulaturim kakek Marsello berdiri sangat kokoh di atasnya. dengan perlahan ia menaiki tangga dihadapannya hingga mencapai pintu labulaturium milik sang kakek.
Yusuf yang baru sampai segera mengeluarkan kunci dari saku celana panjangnya. perlahan ia membuka pintu laburaturium Ayahnya.
"Abi kamu ingin membaca buku itu, atau ikut Ayah membuat obat?" tanya Yusuf.
"Abi mau ikut Ayah membuat obat." sahut Abi sambil nyengir.
"buku apa yang kamu dapat Abi?" tanya Yusuf penasaran.
ini buku seorang Ahli kimia di zaman kono semua bahan-bahan yang tulis di buku ini juga ada pa zaman itu entah sekarang masih ada atau tidak.
"oh ia Ayah! didalam musium ini ada juga buku seorang tabib." ucap Abi mengingat kembali mimpi kemarin malam.
"Di mana?" tanya Yusuf binggung.
Abi berjalan medekati sebuah jam dinding besar di laburaturium itu.
"Ayah bisakah Ayah membantu memindahkan jam dinding itu. karna bukunya ada dibelakang dinding itu" jelas Abi penuh harap.
"bagaimana kamu tau di dalam sana ada buku?" tanya Yusuf penasaran.
"Ayah seorang kakek memberitahuku ia datang di mimpiku ia berbicara hanya dengan bahasa isyrat saja." cerita Abi.
"Bagaimana dengan wajahnya, apa kamu bisa melukiskan wajahnya?" tanya Yusuf ia mencurigai orang yang masuk dalam mimpi Abi itu adalah orang yang ia kenal.
"hidung dan matanya mirip dengan Ayah." ucap Abi sembil mengingat kembali mimpinya.
tidak salah lagi itu pasti Ayah, tapi bukankah wajah Kakek juga mirip dengan Ayah batin Yusuf.
"apa ada tahi lalat disudut atas bibir kakek itu?" tanya Yusuf sambil melirik Abi.
"entahlah Ayah Abu tidak bisa melihat jelas wajahnya bercaya putih." jawab Abi.
Yusuf segera mengambil sebuah kursi untuk memindahkan jam dinding tua yang ada di dinding. Yusuf naik di atas kursi dan memindahkan jam yang ada di sana. Benar kata Abi ada sebuah pintu kecil terbuat dari kayu jati dengan hati-hati Yusuf membuka dan pintu itu.
terlihatlah sebuah buku berukaran cukup besar seperti buku kitab dengan sampul berwarna coklat dan berukir bintang dua.
Yusuf mencoba mengambil buku itu ternyata ia tidak bisa mengangkatnya buku seperti di beri perekat yang kuat di sana.
Abi bukunya tidak bisa Ayah ambil sepertinya ada lem yang melekatkan buku itu di sana jelas Yusuf sambil turun dari kursi.
Abi berpikir sejenak beberapa detik ia mendongakkan kepalanya melihat ke atas.
"Coba Ayah naik lagi gendong Abi juga. Abi penasaran dengan bukunya." minta Abi
Yusuf yang mengerti rasa ingin tau anak kecil seperti Abi sangatlah besar, mau tidak mau menuruti inginannya.
Abi melihat buku itu dengan cermat ia meniup-niup debu pada buku itu tangannya perlahan bergerak mengangkat buku itu. dengan mudahnya Abi mengangkat buku besar tersebut.
Ayah ayo turun minta Abi sambil tersenyum senang.
bagaimana kamu bisa mengangjat buku itu begitu mudah Abi tanya Yusuf keheranan.
"Abi sendiri tidak tau" sahut Abi.
Abi duduk lesehan di lantai lulu membuka lembar demi lembar buku tabib yang ia temukan.
"Ayah sedang membuat obat untuk penyakit apa tanya Abi
"kista" sahut Yusuf sambil memperhatikan Abi.
"lihatlah ini!" ucap Abi menunjukan gambar tanaman yang ada dibuku itu meski hanya digambar mengunakan tinta dengan kuas namun Abi masih bisa menganali tanaman yang di gambar itu.
"jenis tanaman ini ada di tanaman oleh kekek." ujar Abi senang.