
"Mars jangan pernah berpikir bahwa kamulah orang yang tidak beruntung tau berputus asa. Setiap manusia pasti memiliki masalah baik itu masalah kecil atau masalah besar. Sebagai manusia kita tidak boleh berputus asa apalagi menempuh jalan sesat untuk mencapai tujuan. Kita memang seharusnya menerima dengan lapang dada, Allah sedang menguji iman kita mungkin kita lalai hingga harus diingatkan untuk kembali padanya. Ingatlah yang memberikan Rizki, jodoh, dan maut adalah Allah jangan lupakan hal tersebut."
"Iya Ustadz terimakasih nasehatnya." sahut Mars.
"Sama-sama nak, sebagai sesama kita memang berkewajiban saling mengingatkan. bukan berarti saya merasa pintar tidak sama sekali." tukas Ustadz Akbar sambil menatap beberapa anak santri lewat di depan rumahnya.
"Saya mengerti maksud Ustadz." jawab Mars.
"Sejatinya tak ada satu umatpun yang luput dari masalah, semua menghadapi masalah termasuk saya hanya saja berbeda dengan kamu. Masalah akan datang silih berganti bahkan kadang beruntun hingga membuat manusia merasa dirinyalah yang paling menderita. Pesanku jangan melupakan Allah dan Rasulullah, apapun yang kamu hadapi teruslah berusaha berada dijalan yang benar. kembalikan semua masalah kepada yang memberi masalah dialah sebaik-baiknya tempatmu mengadu. Semoga kita semua termasuk di golongan orang-orang yang sabar." Ucap Ustadz Akbar mengakhiri ceramah singkatnya.
"Masalah serta urusan dunia akan berakhir bila malaikat maut mencabut nyawa kita semua." sahut Mars.
"kamu benar nak Mars. beruntung kamu datang kemari untuk memperbaiki diri. Sebaiknya manusia adalah manusia yang mau mengakui kesalahannya dan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi." Ujar Ustadz Akbar.
"nanti sore akan kemari kau dan Abi akan tinggal di asrama bersama santri yang lain, apa kamu tidak keberatannya?" tanya Ustadz Akbar.
"Tidak sama sekali Ustadz terimakasih atas semua kebaikan yang ustadz berikan pada saya yang tak memiliki apa-apa ini." jawab Mars sambil menunduk.
"Berterimakasih pada Allah nak aku hanya perantara saja." kata Ustadz Akbar tersenyum.
Di tempat lain, Abi menjelaskan dengan Yusuf tetang Bundanya yang harus segera diasingkan untuk menyelematkan adiknya. mau tidak mau Abi harus bertidak cepat.
Yusuf segera menyetujuinya tanpa banyak tanya seakan ia juga mengetahui apa yang akan dialami sang istri jika tetap berada dirumahnya.
Setelah mendapat persetujuan Ayahnya Abi bergegas menemui Bundanya agar segera bersiap-siap. Risa tak dapat menolak karena tau yang dilakukan Abi adalah hal yang baik.
Begitu selesai membatu ibunya, Abi mempersiapkan pakaian dan perlengkapannya akan ia bawa ke pondok pesantren sore nanti.
Yusuf menikmati kebersamaan dengan sang istri yang tidak lama lagi harus terpisah. tak lupa ia berpesan agar Risa selalu memberinya kabar.
Kita akan mengantar Abi terlebih dahulu ke padepokan setelah itu pagi- pagi selesai sholat subuh kyai Ahmad Abi dan aku akan mengantarmu ke markas yang sudah Abi siapkan. aku percaya pada Abi semua pasti sudah ia perhitungkan. Ujar Yusuf sambil membelai pucak kaepala sang istri yang bersandar di dada bidangnya.
"iya Mas maafkan aku harus menjauh darimu sementara waktu." sahut Risa.
"Tidak papa, bila ini jalan terbaik harus kita lakukan. untuk masalah umi dan ibu nanti akan aku jelaskan mereka pasti bisa mengerti." Tukas Yusuf.
Risa tersenyum lantas segera memeluk sang suami.
Waktu terus berjalan selesai sholat ashar berjamaah. Yusuf Risa dan Abi meninggalkan rumah mereka pergi kesebuah pesantren. Mata Abi begitu awas memindai sekitar ada sebuah mobil hitam yang mengikuti mereka sejak meninggalkan pakarangan rumah.
"Rubah bisakah kamu membantuku mengelabui mobil yang berada di belang mobil kami." telepati Abi.
"Baik tuan Abi akan segera kulakukan." sahut Si Rubah putih.
Delam waktu singkat mobil yang tadi mengikuti Abi oleng kerena keempat Ban mobilnya kempis bersamaan, mau tidak mau sang supir harus berhenti.
Abi tersenyum, dalam hati ia mengucapkan terimakasih pada rubah Putih yang setia membantunya.
sesampainya di pakarangan Rumah Ustadz Akbar yang berada di dekat pondok mobil berhenti. Yusuf segera turun diikuti Abi dan Risa.
"Assalamualaikum Nak Yusuf." sapa Ustadz Akbar sambil berjalan mendekati mobil milik Yusuf.
Waalaikum salam sahut Yusuf diikuti Abi dan Risa.
"Bu Risa Silahkan masuk duluan, Ada Zahra didalam. biar kita yang laki-laki bantu bawa barang-barang milik Abi ke pondok." Ujar Ustadz Akbar ramah.
Zahra menuntun Risa duduk di ruang tamu rumahnya kemudian ia pergi ke dapur membuatkan minum.
Yusuf, Abi dan juga ustadz Akbar ikut duduk diruang tamu.
Zahra menyuguhkan minum dan kue kering di meja tamu.
"silahkan dinikmati maaf seadanya." ujar ustadz Akbar mempersilahkan.
"tidak apa-apa Ustadz ini sudah." cukup jawab Yusuf sopan.
Zahra pamit ke rumah Kyai Ahmad selesai mengucapkan salam ia berlalu meninggalkan rumah.
Baru saja selesai mengucap salam kyai Ahmad sudah berdiri dari tempatku duduk menyambut Zahra serta menjawab salam.
"Zahra ayo kita bergegas pergi ke rumahmu." kata Kyai Ahmad berucap sebelum Zahra memberi tau maksud kedatangannya.
Zahra mengangguk lantas mengikuti langkah kyai Hasan yang terburu-buru begitu sampai di rumah adik seperguruannya Kyai Ahmad mengucap salam lantai segera ikut bergabung duduk di Sofa.
Yusuf, Nak Abi keputusanmu membawa ibundamu kemari sudah benar, biarkan Bundamu menginap di rumah Akbar dan tidur bersama Zahra. celetuk Kyai Ahmad.
"Apa yang terjadi kyai?" tanya Yusuf.
"tenanglah, Insyaallah semua akan baik-baik saja." sahut kyai Ahmad mengubah raut wajahnya menjadi lebih santai.
"Zahra tolong kamu ajak Bundanya Abi istirahat." ujar Ustadz Akbar.
"Baik Abi, Ayo tante ikut Zahra." ajak Zahra ramah.
Risa beranjak mengikuti Zahra sedangkan Abi dan Yusuf tatap duduk di Sofa ruang tamu bersama Ustadz Akbar dan Kyai Ahmad.
"Nak Yusuf berhati-hatilah kamu sepertinya setiap gerak gerik kamu di awasi oleh seseorang. pagi nanti mobilmu biarkan disini kita pakai mobil milik Akbar sedangkan saya akan mengunakan kendaraan saja mengikuti kalian." kata Kyai Ahmad.
"biarkan Mars memakai mobilmu dan untuk membeli beberapa kebutuhannya disini. kita harus mengelabui anak buah Willem dan dua orang suruhannya Marcella." ujar Kyai Ahmad.
"Baik Kyai jika itu harus dilakukan saya setuju." jawab Yusuf.
"Abi nanti kamu satu kamar dengan Mars dia sudah lebih dulu datang." kata Ustadz Akbar.
"baik Ustadz." sahut Abi.
Di tempat lain Willem memarahi dua orang suruhannya kembali tanpa hasil.
"dasar tidak berguna mengurus pekerjaan kecil saja tidak bisa." pekik Willem.
"Maaf kemi kehilangan jejak saat mobil yang kami bawa semua bannya mendadak kempes hingga kami harus berhenti." ujar salah satu pemuda yang bertato olah di lengannya.
Willem tersenyum Miring lantas mengambil pistol di laci kerjanya.
Dor...Dor... suara tembakan didalam ruangan kerja Willem yang kadep suara.
dalam hitungan detik dua peluru panas sudah bersarang di kepala pemuda bertato yang berani menjawab ucapnya.
"itulah akibatnya jika bekerja tanpa mengunakan otak." ucapnya sambil menatap salah satu anak buahnya yang bergetar ketakutan.