Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Terpersona


selesai mencuci tangannya Abi segera duduk di meja makan samping Gio.


"Om, udah selesai makannya?"


"udang dong, kamu sih kelamaan metik buahnya." jawab Gio sambil tersenyum.


"Abi, makan dulu nanti lanjut ngobrolnya!" tegur Risa sambil duduk kembali di kursi ia baru saja selesai mencuci kedua tangannya.


"iya Bunda." segara memakan nasi goreng cumi buatan Ratih.


"Apa perlu Mas temani Gio?" tanya Yusuf.


"tidak perlu Mas, Insyaallah Gio bisa sendiri." tolak Gio dengan sopan.


"Oke, tapi Mas harap kamu tidak sungkan saat memerlukan bantuan." Ujar Yusuf.


"Iya Mas." jawab Gio cepat.


"Gio kamu lihat buah-buah yang Kaka petik, tolong kamu potong dan bentuk sekreatif mungkin Kaka akan memakannya saat sudah selesai." minta Risa.


Abi tersenyum manis mendengar permintaan sang Bunda ia menyenggol kaki Gio dibawah meja makan.


"Hemmmm. baiklah Ka, tapi setelah selesai urusan Gio di kantor polisi." jawab Gio.


"tidak Gio. Kaka Mau sekarang juga." seru Risa.


"Bunda biarkan Gio menyelesaikan urusannya lebih dulu." bujuk Yusuf.


"Aku maunya sekarang bukan Nanti." tegas Risa dengan wajah Cemberut.


"Gio ada janji pagi ini dengan rekan bisnis siangnya harus kekantor polisi bagaimana kalo Mas yang buatkan." Yusuf kembali membujuk sang istri.


"iya Ka, Gio ada janji pagi ini. Gio janji begitu selesai urusannya, Gio akan buatkan sesuai permintaan Kaka." Ujar Gio menimpali.


"Aku mau sekarang, ya sekarang." bentak Risa.


"Kamu gak akan Bisa bikin buah-buah menjadi berbetuk bunga teratai." kata Risa setengah berteriak sambil menatap sang suami.


"Akan Abi coba buatkan." sahut Abi.


"jangan membuat sembarangan, apalagi membuang bahan mubazir tegas." Risa sambil sediri.


"Gio kamu buatkan sekarang, atau kamu pergi dan dari ini tidak perlu datang lagi kemari." usir Risa dengan nada mengancam.


"Astaghfirullah Bunda istighfar." kata Yusuf.


"kamu juga Mas, kamu suamiku kenapa kamu bahkan tidak memihak padaku, apa kamu tidak menyayangiku serta anakku." pekik Risa parau menahan tangisnya. ia kemudian pergi meninggalkan nasi yang baru beberapa Senduk saja ia makan. nafsu makannya hilang karena keinginan tak ikuti.


Abi menatap dengan ekor matanya kepergian sang Bunda. selama ini Abi tidak pernah melihat ibu bersikap seperti anak kecil yang ngambek tidak dibelikan mainan.


Yusuf menarik nafasnya perlahan kemudian mengembuskan kasar.


"Sabar nak, wanita hamil kadang memang seperti anak kecil." ucap Umi sambil menatap sang putra.


"Gio sebaik kamu buatkan dulu keinginan Risa biar di bantu Abi." perintah Ratih.


"tapi Bu." sahut Gio.


"cepat lah, semakin kamu banyak bicara waktu akan terbuang perintah." Ratih Datar.


Gio Abi dan Juga Yusuf segera bergerak ketiganya saling membatu untuk membuat buah-buahan yang di petik menjadi karya seni yang sedap dipandang bila mata.


Umi dan juga Ratih saling Padang dan melempar senyum. Ayo Ratih panggil Risa kemari ujar Umi.


Di tempat lain Willem terus mempengaruhi Devan agar membenci Abi.


"Dev bagaimana keadaanmu hari?" tanya Willem sambil berjalan masuk kedalam kamar sang putra.


"badanku rasanya sakit semua Dad." keluh Devan.


"Sakit?" tanya Willem mengulang ucapan Sang putra.


"Dev bagaimana bisa? kamu didalam kamar tak sadarkan diri, sejak kemarin sore terakhir kita bicara." jelas Willem.


"Apa pingsan, jadi yang kulakukan tadi malam hanya mimpi." gumam Devan.


"Daddy tidak mengerti maksudmu coba jelaskan. apa yang kau lakukan." minta Willem.


"tadi malam aku bertemu seorang wanita cantik bagaikan bidadari aku tak pernah melihat wanita begitu cantik tanpa ada cacat sedikitpun baik dari bentuk tubuh sampai kulit yang putih seperti susu." cerita Devan.


drettttt dretttt ponsel di saku Willem bergetar.


Dev sebaiknya kamu istirahat saja hari ini. Ayah akan mengurus pekerjaanmu di kantor. jika kamu perlu bantuan panggil saja pembantu. Marcella sedang tidak ada. ia ada pekerjaan di luar kota." jelas Willem kemudian berlalu meninggalkan sang putra.


Devan menatap datar kepergian sang Ayah.


"apa semua itu hanya mimpi,? tapi mengapa rasanya seperti nyata.saat ini aku begitu leleh tak bertenaga. Aku pernah mengalami hal serupa bersama ibunya Abi." batin Devan.


Dalam kebingungannya Devan berusaha untuk kembali tidur, ia tak berniat melakukan aktivitas apapun karena fisik yang begitu lelah membuatnya ingin beristirahat saja. saat mata sudah tertutup kejadian yang di anggapnya mimpi mengusiknya.


Sementara disampingnya roh putri Arum sedang duduk sembari tersenyum kecut.


"Dasar manusia bodoh. andai ada cara lain yang bisa membebaskan aku dari kutukan itu. aku tidak sudi melakukannya denganmu yang jelas tak Sederat dengan aku." tandas Putri Arum sambil menatap wajah Devan yang sedang menutup mata.


Devan berbalik kiri dan tekanan mencari posisi yang Yaman tetap saja banyangkan ******* kenikmatan yang ia rasakan malam itu terbayang jelas menghantuinya.


Flashback.


Devan membuka matanya perlahan matanya menyesuaikan cahaya lampu didalam kamar yang ia tepati beberapa kali Devan mengucak matanya guna memastikan panglihatannya akan tempat yang sedang ia tepati.


"Dimana aku? kamar ini seperti kamar milik seorang pengantin." gumam Devan.


"Tentu saja kamu berada didalam kamarku." sahut seorang wanita yang berada dibelakang Devan samping ranjang.


mendengar ada yang menjawab ucapannya Devan berbalik. Matanya menatap seorang wanita memakai pakaian seorang putri kerjaan lengkap dengan selendang merah ditangannya. sayangnya Devan tak dapat melihat wajahnya karena putri Arum memunggunginya.


Siapa kamu,? Kenapa aku ada didalam kamarmu?.


"karena aku yang mengundang kemari." sahut putri Arum Datar tanpa berbalik.


"untuk apa, aku tidak mengenalmu? ujar Devan.


"aku mengenalmu Devan." jawab putri Arum sambil berbalik.


Mulut Devan tak dapat lagi menjawab ucapan putri Arum, ia begitu terpesona akan kecantikan yang dimiliki oleh putri Arum. apalagi saat putri Arum bergerak mendekat padanya aroma bunga tercium oleh indra penciuman Devan membuatnya terbuai.


Hanya dengan sedikit belaian, tangan halus milik putri Arum, Devan tak dapat menahan hasratnya yang memeng sudah lama terpendam.


Tangan Devan bergerak menyentuh kulit halus Putri Arum. merasa tak ada penolakan, wajahnya bergerak mendekat ke leher jenjang milik sang Putri, mencium aroma bunga di tubuh mulus Putri Arum. Tak di pungkiri Devan begitu mendamba akan kenikmatan yang ditawarkan sang Putri, saat selendang yang menutupi dada sudah terlepas terlihatlah dua gunung yang tertupi oleh kemben begitu montok, kembuat sang pusaka memberontak ingin segera masuk kedalam sarang.


Baju Devan sudah di tarik paksa oleh Putri Arum hingga terlepas dari tubuhnya. dengan gerakan cepat karena tak ingin menyia-nyiakan waktu. Devan melepas semua pakaian yang ia gunakan menjadikan ia tak tertupi oleh sehelai benangpun.


"lakukanlah, aku tidak memiliki banyak waktu meladenimu." perintah putri Arum.


sepeti mendapat Durian runtuh. tanpa banyak kata Devan melakukan perintah dangan membabi buta. tanpa kenal lelah ia terus mengulangi lagi dan lagi. begitu tau Wanita yang ia gauli masih perawan Hasrat Devan semakin menggebu-gebu.