
"Tidak perlu di lanjutkan aku kami mengerti maksudmu Lasmi, maaf kami tidak tertarik bersekutu dengan kalian." tegas Dewi di angguki Abi.
"Tenang Dewi keuntungan yang kamu dapat sangat banyak lihatlah semua anggota yang ikut dengan kami ini semua tidak ada yang kekurangan baik dalam materi maupun yang lainnya." tutur Lasmi.
Anak Arum sepertinya sudah di cuci otaknya oleh Sang Ayah itu berbahaya bila ia dibiarkan hidup batin Yusuf yang mendengar perbincangan Lasmi dan Dewi.
" Bagaimana bila sebaliknya kalian tinggalkan semua yang kalian miliki bersihkan diri kalian dari semua ilmu yang hitam yang kalian pelajari maka kami akan menerima kalian sebagai keluarga." ucap Dewi ikut memberi penawaran.
"Tidak jangan mimpi kamu, sampai kapan pun kami tidak akan berlutut dan mengikuti kalian." pekik William ia begitu marah tidak terima bila ilmu yang susah payah didapatnya diakatan ilmu hitam dan aliran sesat.
"Sepertinya otakmu sudah tidak berfungsi dengan semestinya Tuan William entah apa yang sudah merubahmu yang jelas kau tidak ubahnya seperti manusia yang memiliki Iman." lantang Dewi.
Abimanyu tersenyum mendengar perkataan Adiknya
Sementara William sangat marah ia inyin sekali mencekik Dewi namun dihalangi Oleh Lasmi.
" Jangan, Dewi calon korbanku cari saja yang lain bila kamu ingin melupakan amarahmu aku tidak akan membagi darahnya sedikitpun padamu." teriak Lasmi membuat William memantung ditempatnya.
"Hihihi, kasihanilah Kakekmu itu Lasmi." ejek Dewi sambil berjalan mendakati Abi.
Ayo kita pergi cari tempat beristirahat, Ibu pasti dengan mengumpulkan para abdinya lalu menyusul kemari perintah Lasmi sambil berjalan ke arah timur.
Pilihan yang Bagus Lasmi berjalanlah tidak jauh dari sini ada sebuah tempat untuk bisa kalian gunakan beristirahat ujar Dewi setengah berteriak.
Kau tidak sedang menjebak kami bukan jawab Lasmi.
"Tentu tidak aku sebagai tuan rumah tertentu saja akan menyambut tamu dengan baik dan salah satunya menyedian tempat beristirahat yang nyaman gunanya adalah agar saat tiba waktunya kita saling beradu maka seluruh organ ditubuh kita sudah siap secara lahir dan batin." tukas Dewi panjang lebar sambil tersenyum ramah.
Sedang Abi terus saja memuji kebesaran Allah dangan berukir dalam hatinya itulah mengapa ia tidak ingin berbicara, baginya saat ini berbicara bukanlah suatu keharusan tindakanlah yang lebih diperlukan.
Abimanyu berjalan memimpin menuju telaga dihutan larangan ia ingin mengobati luka-lukanya diikuti oleh yang lain.
Kaka ayo percepat langkah kita aku ingin kita mengetur strategi sembari menuju Kyai dan yang lain datang Tandas Dewi.
gagak Wijaya berubah menjadi gagak Raksasa.
"Naiklah di punggung gagakku." kata Wijaya bernada memerintah.
Tanpa ada yang menjewab semua bergerak cepat naik kepunggung Gagak hitam milik Wijaya.
Tidak perlu waktu lama Mereka sampai ditelaga disambut oleh warna pelangi yang begitu indah memancarkan cahaya yang terang.
Lihatlah telaga ini sudah menyambut kita ujar Dewi segera berjalan ketepi telaga tanpa berasa basi lagi ia masuk kedalam telaga tersebut hingga tegelam
Risa dan Yusuf begitu pula Mars tergejut sekaligus panik memanggil-manggil si Bungsu.
Tenanglah Bunda Dewi baik-baik saja ia sedang bersemedi memulihkan kekuatannya tandas Abi seraya mengikuti jejek sang Adik.
"Abi bagaimana kamu yakin adikmu baik-baik saja sedang kamu tidak tau bahaya apa yang ada didalam telaga pelangi ini." Sahut Risa merasa kesal dengan penjelasan putranya.
"Tentu saja Abi tau, karena sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di hutan ini. aku yakin semua yang ada dihutan ini sudah Abi tau termasuk tentang Telaga pelagi ini." jelas Wijaya.
"Wijaya kita tidak sedang bercanda." sela Sinta ikut bicara.
"Sudahlah sebaiknya kita tunggu hingga sepuluh menit bila Dewi dan Abi tidak juga muncul aku sendiri yang akan menyelam mencari putra-putriku." tutur Yusuf sambil melihat raut khawatir di wajah cantik SANG istri tercinta.
Rombongan ular yang di pimpinan oleh sang ratu kubra ikut mencuri tempat untuk beristirahat dan menyusun strategi bersama binatang lain yang berada di bawah kepemimpinan Wijaya kusuma.
"Aku akan mencari buah untuk mengganjal perut kita yang lapar." ucap Laras.
"Aku ikut denganmu." Sahut Sinta berjalan menghampiri laras.
Kedua lantas pamit meninggalkan Risa, Yusuf dan Wijaya yang menunggu Abi dan Dewi keluar dari telaga.
"Aku akan mencari kayu bakar sebentar tidak akan lama aku usahakan tidak terlalu jauh bila terjadi sesuatu panggillah aku." wijaya berpesan sekaligus pamit.
"Iya hati-hati." jawab Yusuf ramah.
"Jangan khawatir aku bisa menjaga diri." Sahut Wijaya sambil berlalu.
Tanpa Yusuf dan Risa sadari banyak bintang dihutan tersebut yang menjaga mereka.
Di luar hutan. Putri Arum dan rombongannya sudah sampai namun tidak mampu menembus dinding gaib atau arai kono yang dipasang dihutan tersebut. begitu pula dengan Devan ia lebih dulu dagang namun tidak dapat masuk saat Putri Arum datang Devan bersembunyi bersama orang keperyaannya itu.
Awas saja kamu Abi aku akan langsung meremuk tulang-tulang kamu bila aku udah masuk nanti batin Putri Arum marah.
"Dia sengaja membuat dinding gaib disini agar tidak semua orang bisa masuk termasuk kamu Arum ujar sebuah suara yang begitu diganal oleh Putri Arum sebagai suami gaibnya.
" Aku pasti bisa menembusnya." gumam Putri Arum.
" Itu tidak semudah kamu membalikkan telak tanganmu Nona." Sahut lelaki tua yang dikenal Abi sebegai Kyai Hasan.
Pasukan mahluk astalnya menjauh kerana meresa terekan oleh aura tiga orang tokoh agama yang berbicara dengan ratu mereka.
Kebetulan sekali kalian disini ayo kita masuk bersama-sama dan mengambungka kekuatan untuk menembus dinding dihadapan kita ucap Putri Arum dengan nada ramah tak lupa ia tersenyum manis berharap tiga tokoh agama itu terpana dan mau menuruti keinginannya.
"Kami memang berniat masuk karena mendapatkan undangan." sela Ustadz Akbar.
"Undangan kau pikir didalam sana ada yang sedang mengadakan pesta." ejek Putri Arum sambil tertawa.
Awalnya aku mempertimbangkan tawaranmu dan berniat memberi token batu giok ini agar kau juga bisa masuk tapi setelah mendengar secara langsung kau mengejek kami aku membetulkan niatku kata Kyai Hasan dibalas senyum oleh Kyai Ahmad dan Kyai Hasan sembari mempelihatkan sebuah token batu giok.
Aduh tante cantik kasihan juga kamu ayo "mari masuk denganku sekarang." ujar Zahra berjalan menghampiri Putri Arum.
"Anak ini membawa token giok sama seperti Milik Kyai itu sebaiknya aku menerima tawarannya." Batin Putri Arum.
Tanpa Aba-aba Jarak menarik Putri Arum untuk menebus arai kono Zahra masuk dengan mudah sedangkan Putri Arum terpental tuhuhhya serasa terbakar.
" Bagaimana masih ingin berusaha masuk?" tanya Kyai Hasan melihat putri Arum terpental lumayan jauh.
"Akan ku buktikan pada kalian aku bisa masuk." teriak putri Arum muncul kembali di hadapan Kyai
"Baguslah bila kamu bisa sendiri kami tunggu di dalam." seraya mengucap salam kemudian masuk menembus dinding gaib dengan begitu mudah.
Mo