Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
menyerahkan Diri


Ratih kurang Ajar sekali kamu berani-berani kamu membongkar kebusukanku, akan ku beri kau pelajaran nanti geram Hermawan kesal.


"Jangan Asal bicara kamu Dimas." ucap Hermawan.


"Om katakan saja yang sebenarnya, aku akan memberikan sebuah villa untuk menjadi tempat tinggal Om nanti." ucap Dimas memberi umpan.


Hermawan yang semula marah seperti terhepnotis mendengar ucapan Dimas yang Akan memberikan Villa.


"Om tenanglah aku tidak akan memabawa kasus ini kejalur hukum jika om mau berbicara jujur." ucap Dimas sambil melirik dua orang polisi yang ada di belakang Hermawan.


Dua orang polisi yang berada dibelakang Hermawan segera mencari tempat bersembunyi untuk mendengarkan obrolan kedua orang laki-laki berbida usia tersebut.


"kematian ayahmu murni karna kecalakan aku tidak ikut campur menghabisi nyawa orang yang sudah menganggapku sahabatnya." ucap Hermawan dengan raut wajah sedih.


"benarkah tapi sebelum Om mengantar Papa ke bandara aku yang sedang bermain bola, sempat melihat Om mebuka mesin mobil aku tidak tau apa yang Om lakukan dengan mesin mobil itu, tapi setelah selesai dan menutup kembali tempat mesin mobil wajah Om terliahat tersenyum sambil berbicara pada mobil yang akan di pakai mengatar Ayah kebandara." pancing Dimas


deng....


detang jantung Hermawan berpacu lebih cepat dari sebelumnya.


"apa yang Om lakukan dengan mesin mobil saat saat itu." tanya Dimas penasaran.


"Aku hanya membersihkan debu saja dengan kain." sahut Hernawan.


"Benarkah begitu?" tanya Dimas sambil menatap wajah Hermawan yang tampak tegang ia. Dimas dari tadi terus saja memperhatikan gerakan-gerakan tubuh Hermwan yang terlihat serba salah.


"lalu kenapa wajah om tengang begitu, apa yang berusaha om sembunyikan dariku." tukas Dimas sambil tersenyum miring.


"Rumah dan perusahan adalah milikku, om bukan siapa-siapa, kita tak memiliki ikatan darah, om hanya supir yang kebetulan bekerja dirumah ini dan di percaya oleh Papa menjadi sahabatnya semasa hidup, bukan berarti segela harta Papa jatuh ketangan Om. Om pasti tau bagaimana Papa membangun usahanya dari nol. jika Om ingin menjadi kaya maka berusahalah jangan mengambil hak milik orang lain." Jelas Dimas sambil menatap Hermawan.


"lihatlah Aku saat ini Om walapun tanpa perusahan dan rumah mewah papa Aku tetep bisa menjadi seorang pengusha. itu karna aku tak kenal leleh terus dan terus berusaha meski jalannya tak mulus aku tetap berjalan melewatinya." cerita Dimas.


"maafkan Aku Dimas aku tak bisa menahan diriku dari godan syitan. ucap Hermawan tertunduk malu penuh penyesalan.


"Om aku tau hidup om tidaklah tenang karna mengambil hak milik orang lain. sebaiknya Om akui semua kesahan Om setidaknya itu bisa sedikit meringankan hukuman Om." ucap Dimas.


Hermawan masih menundukan wajahnya malu.


"Om aku berterima kasih pada om karena sejak orang tuaku tak ada Om lah yang mengirimkan semua biaya pendidikanku sampai aku lulus menjadi lulusan terbaik." ucap Dimas tulus.


Hermawan bersimpuh dibawah kaki Dimas sambil mengatakan maaf berulang kali.


"Aku khilaf aku iri dengan Ayahmu yang memiliki segelanya sedangkan Aku hanya bekerja sebagai supir. suatu malam aku merancanakan hal buruk untuk mencelakai Ayahmu dengan kemampuanku yang pernah bekerja di bengkel tentu aku tau kebel mana yang bisa membuat mobil itu mengalami bahaya jika di potong." cerita Hermawan.


sebelum melanjutkan ucapannya Hermawan menatap sekilas Dimas yang tak bergeming sedikitpun.


"setealah Ayahmu tiada ibumu menjadi penghalangku mendapatkan semua harta milik Ayahmu, maka dari itu aku terpaksa menghabisinya juga."


"para pekerja rumah yang tak bisa menjaga mulutnya membuatku kalap mata, dan membunuh keduanya dengan cara membayar dua orang laki-laki. aku tidak mau merka membongkar kebusukanku pada orang lain dimassa yang akan datang." cerita hermawan


Hermawan mengela napasnya perlahan dan menghambuskannya dengn kasar.


Om sebaiknya menyerahkan diri baik-baik pada polisi. setelah om bebas dari penjara aku berjaji akan memberiakanmu usaha kecil kecilan ucap Dimas.


"kamu tidak marah padaku?" tanya Hermawan heran.


"tidak om, aku sudah memafkan kesalahan Om asal Om berjanji padaku untuk tidak lagi melakukan hal yang sama." ucap Dimas.


teremakasih Dimas, selama ini aku memang hidup tidak tenang, aku selalu berusaha mengalihkannya dengan menyibukan diriku sendiri. walaupun banyak uang dan harta tapi di dasar lubuk hatiku yang terdalam aku tidaklah merasa bahagia. cerita Hermawan


Dua orang polisi yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka segera kuluar dari persembunyiannya dan menghampiri Hermawan dan Dimas.


"pak Hermawan saya detang kemari membawa surat perintah penangkapan terhadap Bapak." ucap Wanto( seorang polisi).


Hermawan kanget melihat dua orang anggota kepolisan ada tanpa tau kapan datangnya.


"Baiklah pak akan ikut dengan Bapak." sahut Hermawan menyerah.


Dimas memberikan senyuman pada Hermawan yang tak melawan saat dibawa oleh anggota kepolisian.


semonga setalah mendapatkan hukuman om Hermawan mendapat ketenangan batin. ucap Dimas dalam hati


Aku harus menemuai Defvan dan juga anak sulung Hermawan dan mengakui kesalahanku yang menjebak mereka berdua beberapa tahun yang lalau. hidupku juga tidak tenang selama ini. gumam Dimas bergagas pergi meninggalkan Rumah peninggalan orang tuanya.


Flasback of


Gio, Risa saat ini Ayah hanya bisa berharap semonga kalian memaafkan kesalahan yang Ayah perbuat. sejujurnya aku sangat malu dengan diriku sendiri, aku tak bisa menjadi Ayah yang baik bagi kalian berdua. aku juga tak bisa menjadi suami yang baik bagimu Ratih. aku tak banyak berharap pada kalian cukup kalian memafkan kesalahan saja aku sudah bersyukur. tubuhku yang tua ini sudah leleh memikul beban hudup yang di akibatkan oleh keserakahanku. aku ingin hidup tenang tanpa di hantui rasa bersalah lagi. ucap Hermawan sambil duduk di kasur ruang tahanannya.


Dimas memang memberikan fasilitas diruang tahanan Hermawan agar laki-laki tua yang di sanyanggi Papanya itu merasa betah dan nyaman meski sedang menjalani hukuman atas perbuatannya.


Dimas sedang berada dimakam kedua orang tuanya ia bercerita pada makam Ayahnya.


Ayah aku sudah mengungkap kejahatan yang di lakukan oleh om Hermawan. karna ia yang menyebabkan Ayah dan ibu tiada, aku terpaksa melaporkannya pada polisi walau Ayah sangat menyanggi Om Hermawan tapi hukum harus tetap ditegakan, ia harus menebus kesalahannya dimassa lalu, aku berharap setelah terungkapnya dalang dari balik kematian Mama dan Papa akan meresa tenang ucap Dimas sambil mengusap batu nisan Ayahnya.


aku juga ingin meminta ijin pada kalian untuk membangun sebuah rumah ibadah mengunakan harta yang kalian dapatkan semasa hidup. ucap Dimas berbicara pada makam yang berada di hadapannya