Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
hasil yang tak sesuai


Yusuf memperhatikan daun-daun tanaman yang tumbuh subur di depan mereka ia kemudian menatap heran pada Abi.


"Tak ada apa-apa di sini nak." ucap Yusuf.


Abi kembali memastikan dengan melihat ulang tanaman di hadapan lagi-lagi ia tak menemukan yang di carinya.


"mongkin Abi hanya salah lihat" sahut Abi dengan muka masam.


Abi memetik beberapa daun obat berbeda jenis, tak hanya itu ia juga mencabut salah beberapa jenis tanaman untuk ia teleti di laboraturium kakeknya.


"Abi kenapa di cabut!" tegur Yusuf


"kita juga perlu meneliti akar dan batangnya Ayah." sahut Abi santai.


mendengar itu Yasuf tak lagi bartanya ia membatu Abi membawa nanaman dan daun yang ia ambil.


"nanti Abi juga akan menanamnya kembali dengan megunakan tanah yang berbeda dan pupuk khusus." tukas Abi antusias.


"bagus nak, Ayah akan siap menjadi asestenmu." sahut Yusuf sambil tersenyum senang mendapati Abi yang begitu bersamangat membuat Yasuf yakin jika Abi akan cepat memahami dasar-dasar ilmu yang akan ia ajarkan.


selesai memetik tanaman Abi dan Yusuf kembali menuju laburaturium untuk melakukan penelitian ilmiah pada tumbuhan obat yang mereka petik.


di saat mereka sedang serius melakuakan penelitian ponsel Yusuf berdering.


Yusuf membarikan isyarat kepada Abi untuk berhenti sejenak.


"Hallo Bunda." ucap Yusuf mengangkat telpon dari Risa.


"Ayah, Abi kalian di mana? Bunda mencari kalian di rumah untuk mengajak makan bersama tapi kalian tiadak ada!" tanya Risa.


"Ayah dan Abi sedang di laboraturium kakek Marsello, sebentar lagi kami akan selesai melakukan penelitian Ilmiah, Bunda jika lapar makanlah duluan nanti Ayah dan Abi akan makan setelah selesai." sahut Yusuf melalui sambungan ponselnya.


"Tidak bisakah Ayah dan Abi berhenti sebentar untuk mengisi perut." ucap Risa.


"Tidak bisa Bunda, jika tanaman yang kami teliti ini daun layu maka hasilnya tidak akan sama, kami harus mencari yang baru lagi dan memulainya dari awal, Ayah harap Bunda bisa mengerti ."sahut Yusuf menjelaskan.


"Baiklah lanjutkan saja penelitiannya Bunda akan menunggu kalian makan bersama." sahut Risa mengerti.


"jika Bunda lapar makanlah, nanti Ayah akan makan bersama Abi." perintah Yusuf


"tidak Bunda akan menunggu Ayah dan Abi." sahut Risa tegas.


"baiklah, Ayah melanjutkan penelitian Ayah dulu. Assalamuaikum."


Walalaikum salam Risa kemudian mengakhiri sambungan telponnya bersama sang suami.


sambil menunggu Anak dan suaminya Risa menonton televisi di ruang tamu.


Berita tentang peresmian rumah sakit milik Willem Alexsander di tayangkan hampir di semua cenel televisi. membawa berita juga mengatakan jika rumah sakit milik Willem akan siap menangani semua pasein baik itu kaya,miskin bahkan anak-anak jalanan, ia juga mengatakan rumah sakit itu tidak akan memungut biaya pada mereka yang tidak mampu membayar biaya perawatan. saat di wawancarai Willem membenarkan rumah sakit miliknya akan meberikan pelayanan yang sama pada anak-anak jalanan atau orang miskin, mereka di rawat gratis. Willem juga mengatakan rumah sakit miliknya siap membatu 24 jam bagi mereka yang membutuhkan.


Risa tersenyum simpul mendengar pemberitaan di layar tilivisi. "Tak ku sangka Ayahmu begitu baik ingin membolong banyak orang Difvan." gumam Risa.


Menyebut nama Defvan membuat Risa teringat kembali ucapan Defvan yang ingin mengambil hak asuh Abi darinya.


aku tidak habis pikir denganmu Defvan, kau memiliki wajah yang tampan banyak diluar sana wanita yang bermimpi ingin menikah denganmu tak peduli kamu duda tapi kenapa kau menginginkan aku yang sudah memiliki suami. munalong Risa.


tapi kenapa harus menyeretku menjadi istrinya. ucap Risa berbicara sendiri.


Abi bukan Bunda egois tapi Bunda takut kehilanganmu nak, suatu hari nanti kamu pasti bisa mengerti alasan ibu tidak memberikan hak asuh pada Ayah kandungmu. menurut Bunda Defvan itu orang yang sibuk, Bunda takut dia tidak bisa mengawasimu dan membimbingmu dengan baik. Meski kamu pintar kamu tetaplah anak kecil yang masih perlu pengawasan agar tak salah melangkah. batin Risa.


Di kursi kerjanya Defvan tampak fustasi, bagaimana tidak orang yang diminta Mars menyelidiki kematian ibunya di temukan tewas di dalam mobil karna operdosis.


Awalnya Defvan menyalahkan Mars yang tak becus mempekerjakan seseorang. Mars mengatakan jika orang suruhannya itu adalah orang yang handal dan teliti memperhitungkan segela hal termasuk bertidak. Mars juga mengatakan jika orang itu tidak pernah meminum obat-obatan kecuali atas resep dokter.


tok..tok...tok...!


"Masuklah!" ucap Defvan dengan nada Malas.


"Defvan aku sudah membawa hasil otopsi Raka." ucap Mars sambil berjalan mendekat ke meja kerja Defvan dan menyerahkan Amlopn berlogo rumah sakit


"Tanpa banyak kata Defvan segera membuka amlop di tangan Mars.


Mars mendegus melihat ketidak sabaran Defvan.


Defvan membaca dengan seksama hasil otopsi yang menyatakan Raka keracunan obat.


"kau Yakin ini hasil otopsi milik Raka?" tanya Defvan sambil melirik Mars dengan ekor matanya.


"Ya aku mengambil hasil otopsi atas nama Raka sanjaya." sahut Mars.


"Maksudku bisa saja ada orang yang menukar hasil otopsinya." ucap Defvan.


tadi di rumah sakit setelah mengambil hasil otopsi saat berjalan ada yang nabrak Aku hingga amplop yang ku pengang jatuh untung saja wanita itu segera mengambil dari lantai dan mengambalikanya padaku.


Defvan mendengarkan cerita Mars dengan serius.


"Wanita seperti apa? bagaimana wajahnya?" tanya Defvan cepat.


"Wajahnya aku tidak tau dia pekai masker, wanita itu pakai seragam Rumah sakit." sahut Mars.


"kurang Ajar ini jelas pembunuhan Mars orang itu tak ingin kita mengatahui kebenarannya. aku yakin Raka menemukan bukti yang membuatnya terpaksa harus melenyapkannya." ucap Defvan menggebu-ngebu.


"jika begitu kita harus lebih berhati-hati mencari bukti pembunuhan ibumu." sahut Mars.


semantara waktu kita tak usah mencari bukti itu. kita fokos dulu mengurus pemakaman Raka dan berikan uang untuk keluarganya jagan lupa tanggung semua biaya tahlilan Raka yang adakan keluarganya.


"Baiklah aku Akan mengurusnya segera mongkin." sahut Mars.


"oh ya, bagaimana dengan Marscella apa dia ada di rumah saat kejadian meninggalnya Raka?" tanya Mars.


"oh kamu benar Mars aku lupa mengecek cctv di rumah Daddy." ucap Defvan menepuk jidatnya.


"Sebaiknya periksa segera Def, aku curiga dia terlibat." Tukas Mars sambil menetap sahabatnya.


"kita harus memiliki bukti untuk menyeretnya ke penjara, wanita itu licin seperti belut sangat sulit mencari bukti kejahatannya." ucap Defvan.


"sepandai-pandainya tupai melompat ada saatnya dia terjatuh. tak perlu putus asa kita akan mencari buktinya bersama-sama." nasehat Mars.


"terima kasih Mars." sahut Defvan sambil merengkul sahabat baiknya.