
Di markas Dewi Larasati menatap langit malam sembari melamun tak jauh berbeda dengan Wijayakusuma ia sedang mandar mandir di kamarnya.
"burung gagak bisakah kamu membantuku?" tanya Wijayakusuma pada gagak hitam kesayangannya.
"apa yang bisa aku bantu Tuan?"
"carilah Tuan Abimanyu jika dia perlu bantuan maka bantulah dia." perintah Wijayakusuma.
"Baik aku akan mencarinya." kemudian sang gagak pergi meninggalkan markas Abi.
Didalam hutan Dewi teratai berjalan sambil menajamkan pendengarannya tidak satupun suara binatang malam terdengar olehnya.
"Bunda berilah aku petunjuk, Aku akan menolong Bunda." batin Dewi teratai sambil terus melangkah.
Abi sedang berada di markas milik Marcella matanya menangkap beberapa penjaga yang berdiri di dekat pintu.
Abi berpikir sejenak ia memindai sekeling. matanya melihat ada batu dan juga kaleng minuman ia segera memungut lalu mengisi kaleng itu dengan batu kecil serta beberapa lembar uang ratusan ribu yang sedikit terlibat.
Abi melempar dua kaleng ketempat berbeda detik berikutnya ia bersembunyi.
penjaga yang mendengar suara itu segera memeriksa. saat itulah Abi menghadap masuk kedalam menugaskan Rubah putih untuk membuat sedikit kegaduhan diluar.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini Aku harus berhasil mencari tau kelemahan Marcella." batin Rubah.
sambil sesekali menggerakkan tanaman tempatnya bersembunyi.
"lihatlah di sana daun-daun itu berkerak pasti ada yang bersembunyi dibalik pagar tanaman itu." ujar seorang laki-laki bertato.
keduanya bergerak cepat. Kaleng yang berada dibawah kaki Rubah segera menggelinding karena mendapat tendangan dari Rubah. keleng itu mendekat kearah kaki dua laki-laki yang sedang berjalan kearahnya.
mata dua Laki-laki itu berbinar mendapati uang ratusan ribu dalam kaleng.
"Astaga ada yang memberikan kita uang." ujarnya bersorak.
"lihat baik-baik apa uang itu asli." sahut laki-laki disampingnya.
"ini namanya Rezeki Hahahaha." tawa laki-laki begitu memastikan uang yang didapatnya asli.
"jangan jangan ini jebakan mustahil orang memberikan uang cuma-cuma ayo cepat periksa." ujar Laki-laki yang bertubuh gempal.
"Benar juga, cepat sebelum nyonya mengamuk." sahut laki-laki bertato.
sebelum mereka masuk rubah sesudah mendahului masuk kedalam untuk membantu sang Tuan. ia bersembunyi begitu masuk kedalam salah satu kamar markas tersebut.
"Nenek lepaskan ibuku Kakek William sudah berada di rumah saat ini. tidak ada gunanya lagi kamu menahan ibuku yang lemah itu." ujar Abi.
"jangan mengira aku buta, Aku melihat sendiri ibumu itu bisa membuat lima orang anak buahku masuk rumah sakit." tandas Marcella.
"ia wajar Nek, kita haruslah bisa menjaga diri kita sendiri, andai Nenek tidak mengunakan cara licik mungkin nenek akan merasakan tendangan Bunda."
"sombongkan sekali kamu karena sudah berhasil mengajari ibumu beladiri. aku jadi penasaran dan ingin mencoba kehebatanmu." Marcella menjawab sambil menatap wajah datar Abi.
Abi tersenyum tipis lalu meloncat untuk mencabut tusuk konde milik Marcella.
Mendapatkan serangan mendadak Marcella tidak sempat menghindari. ia berteriak marah.
"Kembalikan konde milikku."
"kenapa ini hanyalah konde murahan Aku akan memberikan konde bertabur berlian." sahut Abi santai.
Wajah Marcella berangsur-angsur berubah dari tangan yang mulai keriput, hingga wajahnya yang berubah menjadi tua, dan tubuhnya bungkuk.
Bagaimana bisa anak itu melihat konde milikku yang kecil dan tersembunyi, aku bahkan tidak lupa membaca mantra agar tak seorangpun bisa melihatnya. batin Marcella. kemudian ia menyerang Abi menggunakan sebuah selendang.
Abi menghindar dengan cara berlari cepat kebelakang Marcella.
Abi tidak tertarik membalas serangan Marcella, ia lebih tertarik menghancurkan konde yang sekarang ada ditangannya.
"Kau bebaskan Bundaku dalam keadaan tak kurang apapun aku akan mengambilkan konde itu." tawar Abi.
Marcella yang sudah menyatu dengan nek Cella berkilat marah ia mengucap mantra menyerang Abi dengan kesaksiannya yang ia miliki.
aroma busuk menyeruak, beberapa wanita berpakaian putih wajah busuk penuh nanah mengepung Abi dengan kaki mengambang di udara.
"Setan kok melihara setan." gumam Abi sambil menggelengkan kepalanya.
Hehehehe tawa menyeramkan terdengar nyaring ditelinga Abi.
Abi menggenggam sebelah tangan kanannya sembari berdoa wajahnya begitu tenang detik berikutnya kuntilanak yang ingin mencakar Abi terhempas cukup kuat.
Apa yang terjadi anak itu masih berdiri ditempat siapa yang menyerang mereka batin Marcella.
"Taun Abi hancurkan konde itu dengan Doa serta ayat suci, aku akan melayani dedemit itu." perintah Rubah.
"hahahaha binatang kecil sepertimu ingin melawan anak buahku rupanya lebih baik kamu menyerahkan diri jadi santapanku." ujar Nek cella dengan suara tuanya.
jangan bermimpi nyonya, walau aku kecil aku tidak akan menyerahkan, aku tidak takut bahkan kamu sekalian maju tantang Rubah.
Rubah jangan gegabah ujar Dewi teratai muncul bersama Risa disampingnya.
"kamu bagaimana bisa keluar dari hutan ilustrasi buatanku?"
"tentu saja bisa bahkan sangat mudah bagiku, lihatlah beberapa orang yang kamu perintah menghabisi aku dan Bunda. jika kamu terlambat tentu bisa saja Nenek kehilangan mereka selamanya." tandas Dewi teratai santai.
Abi hanya menyimak, Diam diam ia merasa lega melihat dua orang yang ia sayangi baik-baik saja.
Abi tak mau membuang waktunya. begitu pula Marcella yang tak ingin kehilangan konde berharga miliknya. Jika benda itu menghilangkan putri Arum dan Tuan Raja tak lagi bisa membuat aku muda selamanya aku akan terus keriput begini. tidak bisa aku harus merebutnya kembali batin Marcella.
Dewi bawa Bunda pergi dari sini secepatnya jangan biarkan Ayah khuwartir Abi memerintah sang Adik.
Disisi lain Rubah melawan beberapa kuntilanak kepercayaan Marcella tidak begitu sulit baginya, Abi sudah banyak memberinya bekal ilmu tentu saja rubah ingin menunjukkan hasilnya.
Marcella menyerang Abi dengan ilmu yang beru ia dapat dari raja Iblis.
Tangan Abi hanya tergores sedikit. namun berbeda dengan Marcella yang terdorong mundur oleh serangan elemen petir milik Abi.
Marcella menepuk dadanya yang terkena satu kali serangan Abi. Ah panas sekali dadaku serasa terbakar dari dalam. ilmu apa yang sebenarnya dimiliki cucu William ini batin Marcella.
"Nenek maaf melukai Nenek. sebaiknya Nenek kembali kejalan yang benar, tinggalkan semua ilmu hitam itu. jika Nenek meneruskan Nenek akan binasa karenanya. Dadarlah Nek semua akan ada balasannya!!" seru Abi.
Tidak Raja yang aku sembah bisa memberikan semuanya untukku, bahkan umur yang panjang tutur Marcella teguh pada pendiriannya.
"Mata hati Nenek sepertinya benar-benar tertutup hingga tidak lagi mampu melihat dengan baik. Iblis kah yang Nenek Maksud? Sudah jelas iblis adalah musuh bagi manusia tetap Nenek menyembahnya? Bukankah itu namanya Buta." ungkap Abi.
"jangan sok tau kamu. Buktinya sudah aku rasakan saat ini, aku tidak mungkin melakukan hal yang sia-sia." Marcella menatap mata Abi tajam.
Abi membalas pandangan Marcella sambil membaca sebuah Ayat pendek. Tiba-tiba saja Marcella melihat sesuatu yang mengerikan dimata Abi. ia melihat dirinya Dibelenggu dengan rantai lalu dilempar kesebuah Api yang sedang menyala.
"Tidakkkkkkkkkkkkkk." teriak Marcella kencang tubuhnya bergetar seakan ia merasakan panasnya Api yang membakar tubuhnya.