Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Datangnya Bala bantuan


Abi tersenyum begitu pula Dewi kedua berjalan mendekati Risa.


"Kami baik-baik saja Bun." cicit si bungsu.


Wijaya sudah kembali membawa kayu bakar dan ada pula ikan seger di bawanya.


Suara derap langkah kuda terdengar semakin mendekat.


Abi bersama lain menoleh ke asal suara dan mendapati Kereta kencana sedang mendekat. ke arah Mereka.


" Assalamualaikum Abi, maafkan saya terlambat." ujar Dewi sekar begitu tiba dihadapan Abi sembari keluar dari kereta kencana.


"Waalaikumsalam." sahut Dewi dan juga yang lain ikut menjawab salam.


"Dewi sekar Arum apa kau mencium aroma tubuh saudaramu hingga datang kemari?" tanya Dewi seketika.


"Ia aku merasakannya, namun belum terlalu dekat untuk itulah aku kemari dan bersiap membatu kalian." jawabnya sambari menghampiri Laras.


"Putri Laras ilmu ilusi jiwa milikmu sangat bagus." puji Dewi sekar seraya tersenyum tulus.


"Terimakasih untuk pujian Anda Dewi sekar Arum, saya masih dalam tahap belajar." ungkap putri Laras sambil tersenyum.


"Kau begitu merendah rupanya, Aku berniat mengajakmu menggabungkan kesaktian ilusi jiwamu dengan milikku." ungkapnya membalas senyum Laras.


"Itu bagus kita bisa membuat sebagian kelompok musuh masuk kedalam perangkap dan melemahkan lawan." cetus Dewi teratai ikut menyela.


"Abi apa yang kau pikirkan wajahmu terlihat jelas sedang memikirkan sesuatu?" pertanyaan itu berasal dari mulut Dewi sekar.


"Aku merasa sangat tidak berguna lihatlah mengobati luka Bunda dan Ayah saja aku tidak mampu." keluh Abi terdengar sedih.


"Apa kamu ingin masuk kedalam cincin ruang milikmu untuk mengambil bunga unggu?" tanya Balik Dewi sekar.


" Benar Dewi sekar aku memerlukannya sekarang tapi tidak mampu masuk." keluh Abi tertunduk sedih.


"Aku bisa membatu mu bila itu yang inginkan" sahut Dewi sekar.


Aku ikut masuk ka Abi cicit Dewi


Dewi sekar tersenyum ia mengubah bentuk Dewi menjadi Dewi teratai emas limaratus tahun yang lalu.


Dengan memakai baju ping lengkap dengan mahkota di atas kepalanya.


Risa dan yusuf yang belum pernah melihat itu terperanjat dan ekspresi wajah keduanya terlihat seperti orang bodoh.


"


Ibu Risa dan Bapak Yusuf Dewi adalah seorang putri negri awan, ia sudah hidup lima ratus tahun di alamnya namun karena suatu kejadian yang menimpanya membuat nyawanya melayang. Kini ia diberi kesempatan hidup yang kedua kali di dunia fana dengan raga putrimu sebagai tempatnya." cerita Dewi sekarang menambah keterkejutan Yusuf begitu pula Risa.


" Nanti akan Dewi jelaskan Bunda, sekarang yang terpenting adalah Dewi sudah menyanggupi tugas Dewi membatu Ka Abi memusnahkan iblis yang meresahkan dunia fana ini." tutur Dewi dengan nada lembut.


"Abi berdirilah di samping adikku aku akan mengirimnya masuk Kedalam Cincin ruang milikmu bila sudah selesai mintalah kepada naga emas untuk membawa kalian keluar." pesan Dewi sekar.


"Terimakasih Dewi sekar sudah mau membatu kami" Sahut Abi dengan wajah senang.


"Tentu saja kalian sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri." Dewi sekar menjawab dengan nada suara ramah


Dewi sekar tersenyum detik berikutnya ia menjetikan Jarinya ke arah Abi serta Dewi keduanya dikirim kedalam cincin ruang milik Abi.


"Nak Sinta kemarilah nak, aku ada sesuatu untuk kamu." ujar Dewi sekar.


Sinta bingung namun tetap bergerak mendekati Dewi sekar.


"Ini milik leluhurmu ambillah." ujarnya menyerahkan tujuh buah bulu landak.


Sambil mentap dengan ragu tangan sinta bergerak juga mengambil bulu landak ditangan Dewi sekar.


"Gunakan itu untuk melukai musuh serta melindungi dirimu. Ingat bulu landak itu memiliki racun mematikan tapi kau tenang saja racun itu tidak akan melukaimu sebagai sang pemilik." lanjutnya seraya menatap lurus kedepannya.


Dewi dan Abi keluar dari cincin ruang bersama naga emas.


Melihat naga emas Risa dan Yusuf tercengang bahkan mereka mengucek mata beberapa kali guna memastikan panglihatannya.


Belum sempat ada yang bertanya Dewi sekar berucap.


" Putri Arum berhasil menembus dinding pembuatan namun sebagai imbalannya ia kehilangan separu kesaktiannya kerena ia memaksakan diri." Ujar Dewi sekar membuat Abi dan Dewi terkejut.


" Assalamualaikum!!" sapa kyai Ahmad.


Walaikumsalam." sahut semua serempak.


"Isyaratlah dulu kita pikirkan bagaimana cara membuat putri Arum mundur" ucap ustadz Akbar.


" Kenpa memintanya mundur? "cicit Dewi bertanya dengan wajah penasaran.


" Kerena bila mereka mau berdamai dan mengakui kesalahan mereka lalu bertaubat maka ada baiknya kita memberinya


kesempatan." Jawab ustadz Akbar.


" Aku tidak setuju sedah banyak kesempatan selama ini diberikan hingga ratusan tahun lamanya namun tidak dipergunakan olehnya justru semakin menambah pengikutnya dengan kedok membawa ajaran agama baru yang menjamin surga dan kekayaan pada pengikutnya." kata Dewi sekar.


" Ya kamu mimang benar tapi bila ia bersungguh-sungguh bukankah lebih baik kita memberinya satu kesempatan lagi. "ustadz Akbar masih kekeh dan dengan pendapatnya.


" Tidak ada lagi kesempatan bila kalian tidak mau membatu menghabisinya maka aku sendiri yang akan melakukannya." ujar Dewi teratai emas meninggikan sedikit volume suaranya.


" Jika dibiarkan akan semakin banyak orang yang mengikuti ajaran mereka."


Kata-kata itu keluar dari mulut Risa yang sejak tadi diam hanya menyimak.


" Benar lama kelamaan mereka bisa menguasai dunia ini." celetuk Laras menimpali.


Kyai hasan kyai Ahmad dan ustadz Akbar saling padang satu sama lain seakan mereka saling bicara.


"Begini saja kita ajak dulu mereka berdamai secara baik-baik dan meminta meninggalkan seluruh ilmu hitam yang dipelajari oleh mereka termasuk membubarkan para anggotanya." Kyai Hasan yang berbicara mewakili ketiganya.


"Abi mengangguk baiklah kyai mari kita coba terlebih dalu, bila mereka tetap berkeras diri maka tidak ada jalan lain selain memusnahkan mereka dari muka bumi." sahut Abi.


"Ayo kita nikmati saja ikan dan buah yang sudah siap disantap." ujar Wijaya yang sendri tadi ikut menyimak namun tangannya terus saja bekerja di bantu oleh Larasati dan juga rubah putih.


Mereka duduk di rurumpatan hijau di pinggir telaga sejak tadi saling bertukar pendapat.


" Apa air di telaga ini bisa diminum? "kata Sinta yang bertanya pada semua orang.


" naga pergilah ke air terjun di hutan ini ambilan air untuk kami. "perintah Abi.


Naga yang sudah merubah bentuknya menjadi kecil dan bersantai di atas pohon segera menjalankan perintah.


Risa ingin bertanya banyak hal dengan sang putra namun waktunya saat ini bukanlah waktu yang tepat jadi ia hanya bisa memendam rasa penasaran dan kepingin tahuannya.


Di sisi lain, Devan sudah sampai di depan hutan larangan ingin masuk namun tidak bisa ia malah terpenting cukup jauh.


"Tuan Aku bisa membatu anda masuk tapi anda harus berpihak kepada yang benar itulah syaratnya. bila anda tidak menepatinya maka anda tidak akan bisa keluar lagi atau yang parahnya ada tewas disana sebagai ganjarannya." Kata orang kepercayaan Devan auranya terlihat menekan Devan.


" Aku tidak tau siapa kamu sebenarnya dan kenapa sepetinya kamu banyak mengerti ilmu gaib tapi satu hal yang perlu kamu ingat aku bukan orang yang suka ingar bila berjanji. "jawab Devan dengan keringat dingin bercucuran.