Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Terkejut


Deg......!!!


Jantung Willim bertak kencang tidak pernah terpikir olehnya bila sang Putra yang selama ini dibesarkan olehnya akan berkata seperti itu.


"Davan aku adalah Ayahmu satu-satu orang menyanggimu tanpa pamrih aku tulus menyayangimu." ungkapnya dengan nada sedih dan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak membutuhkan kasih sayang darimu lagi dan terima kasih sudah merawatku selama ini." balas Devan.


"Devan tidak ada yang bisa memutus hubungan darah antara kita kau tetaplah putraku, aku sudah melakukan segalanya untukmu Devan agar kau hidup layak tanpa kekurangan apa yang kulakukan semua demi masa depanmu dan agar kamu tidak direndahkan oleh orang lain. Usahaku berhasil Devan kau menjadi pemlngusaha muda sukses dangan panghasilan yang begitu pantastis kau digilai banyak wanita kau di inginkan banyak orang tua untuk menjadi menantu dan anaknya, kau selalu dihormati di manapun kamu berada." tutur Devan sambil menatap mata sang putra.


" Aku tidak butuh itu semua, harta tidak membuatku hidup tenang wanita-wanita cantik itu tidak mempu membuatku bahagia. Dihormati disetiap tempat membuatku menjadi pemuda yang sombong. Jas-jas mahal yang selalu kau belikan untukku itu membuatku selalu dilihat berbeda oleh orang lain mereka mengira kulitku akan melepuh bila memakan pakaian seperti mereka aku dan bahkan tidak ada satu orangpun yang berani menyentuh baju seakan mereka takut bila harus membayar puluhan juta bila bajuku sedikit saja tersentuh oleh tangan mereka, Mereka menghormatiku dan takut saat aku meninggikan sedikit suaraku tapi membicarakan aku saat aku tidak ada dihapan mereka." tukas Devan membuat Willim diam.


" Apa itu juga tujuanmu Daddy? apa itu caramu membuatku bahagia Daddy?"


" Siapa orang yang berani membicakan kamu biar aku membereskan mereka." cetus Willim mendekati sang Putra


" Berhenti di sana, kau bilang sayang padaku tapi kau mengadaikan nyawaku pada makhluk yang kamu sembah. Apa begitu cara menyanggimu dimata seorang Willim apa harta dapat membuat seseorang bahagia menurutmu, kau salah besar tuan Willim yang terhormat jangan menyamakan kamu dan Aku kita berbeda meski masih satu darah. "tandas Devan.


" Devan kau berani denganku sekarang. Apa mereka yang mencuci otakmu." tuduh Willim sambil melihat Abi Yusuf dan Raden Mas.


" Tidak ada yang mencuci otak anakmu Willim, sekarang mata anakmu terbuka lebar, bahkan belanggu dilehernya saat ini tidak dapat berfusi disini." jelas Kyai Ahamd entah sajak kapan ia sudah berdiri tidak jauh dari mereka mendengarkan semua percakan mereka bersama Ustadz Akbar.


" Pasti semua ini karena ulahmu kau yang mengarang cerita tentang aku dan Marcello kau memfitnah aku." tuduhan Willim tertuju pada Kyai Ahamad dan ustadz Akbar.


Aku tidak pernah memfitnah kamu Will, Aku hanya bercerita sesuai apa dengan kenyataan yang memang terjadi saat itu aku tidak mengurangi apa lagi menambahnya ungkap Kyai Ahmad.


" Kau seorang tokoh agama tapi kau membuka aib orang lain apa kau pantas menjadi teladan bagi murid-muridmu." tandas Willim sambil tersenyum miring.


"Maaf Will, namun semua harus diceritakan dan dijelaskan agar tidak ada kesalahan pahaman diantara generasi selanjutnya. Aku bertujuan baik percayalah." kata Kyai Ahmad mencoba berbicara lembut dengan Willim.


"Baik kau bilang membuat anakku dan Juga beberapa orang lain memberiku keren ceritamu itu yang sebut baik." Willim begitu marah mendengar Alasan KYAI ahmad.


"Maaf bila kami salah Will, cobalah mengerti kami juga tidak akan memusuhi bila kaku mau bertaubat !! " sela Ustadz Akbar.


"Kalian semua sama saja memintaku bertaubat seakan kalian manusia paling benar dan suci. Sudah kubilang jangan mencampuri kehidupan yang menjadi pilihanku aku saja tidak mencampuri urusan kalian kenapa kalian datang membawa permusuhan?" seru Willim.


"Karena kamu berada di jalan yang salah sebagai sesama umat manusia tujuan kami ingin merengkul kamu kembali kejalan yang benar kau sudah terlalu jauh melangkah Willim, itulah mengapa kami segera bertindak. sudah berapa kali kami memberi peringatan dan nasehat mengutus Abi untuk menyampaikan padamu tapi kamu tidak peduli sama sekali. "jelas Ustadz akbar.


Sudah Kyai, ustadz tidak ada gunanya banyak bicara pada orang seperti Willim dia tidak akan mendengarkannya aku sudah mengenalnya sejak aku kecil sifat ambisiusnya itu tidak lagi bisa dikatakan normal. Terlalu banyak hal buruk yang selama ini dia lakukan Aku selama ini bukan menutup mata aku bahkan mengawasi setiap gerak geriknya. Semenjak Mars memperlihatkan sebuah video saat ia berada di kantor polisi semenjak itulah aku mengawasinya tentu saja dengan cara yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Cerita Devan membuat Willim mentap tejam kearah sang Putra.


"Lepaskan tanganku Willim. Aku punya mata aku melihat sejuta kejahatanmu dan aku punya bukti beberapa video saat kau melakukan tidak kejahatan apa kau ingin aku menyebarkan itu ke media sosial." Ancam Devan.


"Aku ayahmu kenapa kau memanggilku nama dimana rasa hormatmu kau pasti tertular Anak sialan itu_


Belum sempat Willim meneruskan ucapannya teriakan Devan membuatnya tersentak tidak percaya.


" Willam berhenti menghina Abi atau aku robek busukmu itu." hina Devan.


"Dev kamu sadar menghina Ayah kandungmu?" tanya Willim dengan lembutnya.


"Aku sadar sangat sadar bahkan saat ini aku ingin sekali menembakmu." Sahut Devan.


"Devan seharusnya aku yang bela bukan bukan anak itu aku yang merawatmu sejak kecil inikah balasan darimu nak." tarap Willim mengiba.


"Sial kenapa belenggu denger Devan tidak bisa berfungsi bukankah Abi kehilangan kekuatan harusnya dia tidak bisa mehalangi belanggu itu melakukan aktivitasnya." Batin Willim.


DOR...!


DOR.....!


DOR....!!


tanpa aba-aba Devan menembak Tangan, kaki dan kepala Willim namun lelaki itu masih berdiri tegak tidak ada darah yang keluar meski peluru berhasil masuk kedalam tubuh sang Ayah.


" Apa yang terjadi kenapa ia tidak tumbang?" dalam kebingungannya Devan bergumam.


"Hahahhahahha, tidak ku sangka Devan kau berani bertindak sejauh itu. Lihatlah Ayahmu ini Devan lihat baik-baik apa aku kesakitan apa pelurumu membuatku terbunuh. kau salah Devan jika pikiranmu mengatakan aku mati saat kau menembak Aku. Aku mempelajari semua ilmu itu untuk menjaga dan melindungi kamu nak." lagi-lagi Willim memberi alasan yang membuat Devan menghela napasnya kasar.


" Kakek tidak akan mati meski peluru Ayah menembaknya." seru Abi.


" Jika kakek memang hebat aku menentang bertarung diatas sebuah pohon." kata Abi.


" Pohon kau pikir aku ibu monyet berkalahi sambil bergelantungan di dahan pohon." sahut Willim menolak..


" Kenapa apa kamu takut terluka Willim? tanya Yusuf ikut menyela.