
Tidak pernah terpikir oleh Abi kunang kecil mampu menarik Sukmanya kembali kerumah sang Oma.
Pertama kali yang ia ingat saat membuka mata adalah kunang-kurang kecil yang menolongnya ingin sekali ia mengucapkan terimakasih namun ia harus menerima kekecewaan mana kala yang ia cari tidak ada di kamar tersebut.
Abi melihat sekeliling mendapati Mars dan juga Zahra yang menatap ke arahnya.
" Di mana Oma?"
"Ada di ruang kamar Rahasia Kakekmu Marcello bersama Ayahmu." jawab Mars.
"Apa Oma baik-baik saja?" lanjut Abi meninggat kembali bagaimana jin dalam tubuh Umi menyakiti sang pemilik tubuh.
"Semoga hanya luka luar yang dialami Umi tidak terjadi apapun dalam tubuhnya." Tutur Mars membuat Abi mengingat saat Jin itu membenturkan kepala Umi kedinding tanpa bisa ia cegah.
Abi yang melamun bembuat seorang Zahra penasaran.
"Abi, coba ceritakan apa yang terjadi sebelum kami kemari Zahra?" bertanya sambil melihat Abi dengan ekor matanya.
"Abi." Zahra bertanya padamu Mars menepuk pelan lengan Abi membuat Abi segara tersadar dari lamunan nya.
"Eh apa? "Aku di mendengar ucap Abi sambil nyengir tanpa dosa.
"Zahra tanya apa yang terjadi dengan kalian sebelum kami ada di sini." ulang Mars.
Abi menceritakan secara singkat tidak lupa ia juga menceritakan Dewi dan juga Wijaya pergi ka rumah perkumpulan anggota Sakte Marcella.
"Sebaiknya aku dan Zahra menolong Dewi." ujar Mars diangguki Zahra.
" Ya Abi, sebaiknya kau bantu Ayahmu. "ucap Zahra.
" Aku merasa menjadi orang yang tidak berguna bahkan untuk menolong diri sendri saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa menolong Oma dan menjaga kalian sedangkan kalian menunjuk aku menjadi pemimpin.".ungkap Abi tertunduk sedih.
"Jangan bersedih, anggap saja ini adalah ujian yang harus kamu lewati." ucap Mars sambil menepuk pundak Abi.
"Benar Abi kamu harus sabar." Zahra ikut menimpali.
"Bagaimana jika ilmu kanurangannku itu tidak kembali. Sementara musuh semakin kuat" cicit Abi.
"Abi apapun itu serahkan padanya, berpikir positif saja." bijak mars.
"ayo Zahra kita harus pergi lain kali kami akan menemani kamu mengobrol, mungkin sebentar lagi Ustadz Akbar sampai kemari ia bilang akan menyusul kemari." Tukas Mars sambil berdiri dari tempatnya duduk.
"Ya Abi, kami pergi dulu kau istirahat saja, Ayo Om Mars kita pamit sama Ayahnya Abi." ajak Zahra. Keduanya berlalu meninggalkan Abi yang masih duduk bersandar di kepala ranjang.
Di tempat berbeda.
Dewi, Wijaya, Dewi sekar dan juga lelaki paruh baya terus bertarung melawan banyaknya mahluk tak kasat mata.
Mars dan lelaki paruh barda berada di depan pintu runag nawah tanah. begitu pula dengan Dewi Sekar arum dan Dewi teratai Emas berda tidak jauh dari keduannya. Untuk mesuk dalam ruang bawah tanah ternyata tidak mudah, tempat itu di jaga ketat oleh jin dan mahluk astal lain, ada pula dinding pembatas yang harus mereka hancurkan jika ingin masuk melaui pintu ruang bawah tanah.
" Aku berharap pemimpin utama mereka datang kemari, biar sekalian mendapatkan serangan dariku." gumam Dewi teratai yang bersandar di belakang Dewi sekar keduanya di kepung oleh siluman kalajengking.
"Kau tenang saja ia pasti akan datar bila kamu berhasil membuatnya tak bisa masuk kedalam raganya ia pasti kemari." jawab Dewi sekar sambil menagkis serangan demi serangan yang ia terima dari siluman di hadapannya.
"Aku berharap begitu. Karena tanpa Kaka tau aku sadah menyerap ilmunya." Sahut Dewi teratai.
" Apa?? Kau serius jangan membuat semua menjadi kacau Dewi." sentak Dewi sekar.
"Tenang saja Dewi sekar, aku tidak mau apa yang aku alami terulang kembali pada Kak Abi." Sahut Dewi teratai sambil memetahkan dua kaki kalajengking yang ia hadapi.
"Aku akan jelaskan nanti padamu sekarang kita cepat binasakan para siluman ini tubuh mereka sangat bau." pekik Dewi.
"Bantuan Datang." suara Zahra dan Mars terdengar bersamaan bejalan masuk melalui pintu utama.
Dewi menatap sekilas. "bagus itu artinya semua ini akan cepat berakhir." gumam Dewi.
"Siluman disini selalu datang lagi dan lagi sebaiknya kita tinggalkan ke ruang bawah tanah saja, Om Mars tinggalkan naga putih mu disini untuk melawan mereka." tegas Dewi.
Tanpa bertanya Ba bi bu Mars segera meminta Bayura keluar melawan Banyaknya siluman kala jengking di ruang tengah itu.
Keempatnya menuju ruang bawah tanah untuk membatu lelaki paruh baya dan Wijaya yang masih belum bisa menembus benteng petahanan depan pintu masuk ruang bawah tanah. Seperti yang di katakan Dewi sekar saudara kembarnya datang kesana karena tidak Bisa memasuki raganya.
"Hey Ratu Dunia selamat Datang." ejek Dewi sembari tersenyum mengejek.
"Anak kecil ini apa dia anak Yusuf dan Risa." batin putri Arum.
"Lama tidak berjumpa Arum." ucap Dewi Sekar Arum.
"kau? Bagaimana mungkin sekar masih hidup." gumamnya.
"Kau saja masih bisa hidup setelah sekian lama terkutuk didalam sebuah batu, apa yang tidak mungkin denganku." Sahut Dewi sekar.
"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu merasakan bernapas lagi." Putri Arum begitu murka melihat sendiri saudara kembarnya masih hidup setalah dulu ia sendiri yang menenggalamkannya ke dalam air di hutan larangan.
"Kita lihat saja Tuan putri siapakah yang akan berakhir." ucap Dewi teratai sambil mendakati roh Putri Arum yang melayang di udara.
"Kau_!! Segera mengibaskan tangannya membaca mantera untuk memulai penyerangan.
Wijaya memanggil berepa bintang hutan yang berada dibawa kendalinya untuk membantu mereka melawan para Abdi putri Arum yang kebanyakan adalah mahluk tak kasat mata.
Usai membaca mantra bola api menyerang Dewi teratai, Dewi sekar dan Zahra serta Mars. puluhan lebih para anggota Sakte berdatangan tidak terima tempat ibadah mereka terusik. Rupa putri Arum sudah memanggil mereka sebelumnya.
Pertarungan berlangsung sengit putri Arum terus melakukan penyerangan di bantu Oleh Suami gaibnya yang memasuki salah seorang anggota sakte sehingga jumlah jin disana semakin banyak dari sebelumnya.
"Cepat kembali keragamu, kau tidak bisa mengeluarkan semua ilmu mu bila hanya dengan roh mu itu." pekik Raja jin.
"HAhahahahaha dia tidak bisa masuk kedalam raganya lagi." tawa Dewi teratai menggema dan terdengar menyeramkan.
"Tidak ada yang tidak bisa selama aku bersamanya." ujar Raja jin pentas segera menghilang.
NAga milik Mars menghembuskan Abi birunya dari mulut ke arah Putri Arum den Dewi sekarang juga ikut menyerang putri Arum dengan kekuatan yang ia miliki namun Lagi-lagi serangan keduanya bisa dihindari oleh putri Arum yang menatap mereka dengan serigai menyeramkan.
Tidak lama Raja jin kembali lagi bersama dengan raga milik Putri Arum dan mempersilahkannya istrinya masuk kedalam raga tersebut.
Benar saja putri Arum bisa masuk kembali kedalam raganya ia tersenyum senang dan tidak maau membuang Waktu mulutnya menyanyikan sebuah tembang yang membuat siapa saja mendengar suara itu akan larut mengikutinya.
"Tutup telinga kalian." kekik Dewi Sekar.
"berkumpul menjadi satu jangan ada yang menjauh sebelum aku perintah." teriak Dewi Teratai.
"Sambil menutup telinga dan menghiadar dari serangan demi serangga dari raja jin mereka membentuk sebuah lingkaran Dewi teratai mengedepka mata ke arah Dewi Sekar lalu saling bekerja sama membuat benteng perlindungan. Melihat itu lelaki paruh baya tidak tinggal diam dia maju melawan raja Jin agar tidak menganggu Keduanya yang perlu koneksi, setelah sebelumnya meminta Dewi teratai untuk tidak menghiraukannya.