Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Tunduk


Dewi masuk kekamar pribadi miliknya sambil membawa segalas susu.


Usai menguping obrolan Kakaknya dengan Mars, Dewi kembali kerumah kedua orang tuanya melalui portal ghaibnya dengan membawa segelas susu hangat.


diam-diam Dewi sudah menyusun rencana untuk mengambil kembali patung Marcella dan menyerang William, entah apa yang ada didalam fikirannya hingga ia memutuskan bertindak sendiri tanpa melibatkan yang lain.


Berbekal sebuah keris Dewi nekad meninggalkan kamarnya dan pergi kerumah William.


Sesampainya disana ia memanjat pohon yang berada di luar pagar lalu masuk melalui jendela yang terbuka.


Dewi mengendap-endap mencari pintu ruang bawah tanah tentunya badannya yang kecil memudahkan ya bergerak cepat hingga ia menemukan pintu yang ia cari dan masuk kedalam.


Dewi memindai sekeliling dan tersenyum kala mendapatkan patung Batu Marcella. Mulutnya kumat kamit tak lama patung Marcella menjadi kecil Dewi segara Membawa pergi dan membuangnya ke laut yang dalam.


"Beres jadi yang harus kami hadapi tinggal William, putri Arum serta Lasmi dan antek-anteknya saja." gamam Dewi.


"Tidak ku sangka semudah itu menemukanmu nenek peyot. Kakek William bodoh bisa-bisanya dia meninggalkan rumah tanpa penjagaan." batin Marcella sambil berbaring di atas kasur empuknya.


Sementara Di rumah Devan William terlihat sedang berbicara dengan cucunya.


" Lasmi ayo duduk disini bersama Kakek." ajak William.


Lasmi mengerucutkan bibirnya, namun tetap melangkah mendakati Kakeknya. duduk dipangkuan sang Kakak


" Kenapa Lasmi suka sekali bermain dangan benda tajam seperti gunting dan pisau." tanya William hati-hati.


" Aku menyukainya, karena Dua benda itu bisa membatu menutup mulut saat orang lain mengejekku dan berkata-kata yang tidak-tidak tentengku." Jelas Lasmi dengan suara khas anak kecil.


"Membantumu seperti Apa?" William bertanya dengan kening berkerut.


"Dua benda itu bisa membuat mulut orang yang menghina aku diam sekatika saat aku melemparkannya tepat ke tubuh mereka dan membuat warna baju mereka menjadi merah. kau tau Kekek aku sangat suka dengan darah." Lasmi menjawab jujur.


William awalnya terkejut mendengar cucunya menyukai darah dan suka bertindak sesuai keinginannya namun mengingat seperti apa ibunya membuatnya maklum.


"Tapi Nak dua benda itu berbahaya, kamu bisa di tangkap polisi dan masuk dalam kurungan besi." ujar William menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.


Lasmi tertawa membuat hawa dingin menyeruak hal itu menyebabkan William bulu kedok William berdiri. beberapa menit kemudian begitu tawanya merada ia menjawab.


"Kakek itu tidak akan terjadi, lihatlah buktinya aku sudah membuat beberapa orang kehilangan napasnya untuk hidup, aku tatap disini bebas berkeliaran kemana saja. Itulah hebatnya anak kecil karena tidak ada hukum Untuk anak dibawa umur seperti Aku." sombong Lasmi menatap William sambil menyerigai memperlihatkan gigi taring dan mata merahnya.


Deng


jantung William berdetak lebih kencang ia melihat itu tanpa mampu mengucap sepatah kata pun.


"Jangan mesehatiku Kak, urus saja urusan Kakek jangan mencampuri urusanku." tegas Lasmi dengan wajah serius.


William tersadar dan menjauhkan Lasmi darinya. "Kau iblis bukan Cucuku." ucap William terbatas.


Hehehehehehe tawa yang begitu menyeramkan terdengar di rumah tersebut bahkan para Pelayan dirumah itu yang mendengar tawanya gemetar ketakutan.


"Berani sekali wanita itu menipuku." batin William kesal merasa ditipu oleh Putri Arum.


"Sial kenapa aku tidak berpikir panjang dan mencari tau latar belakang Putri Arum terlebih dahulu. Marcella kaulah yang memintaku menikahkan Devan dan Putri Arum sekang kau harus berutang jawab. Begitu batu itu hancur maka aku yang akan meyiksamu kamu." umpet William.


" Ya itu memang benar olah Nenek tua itu, tapi sekang kau tidak akan bisa menemukannya lagi dia sudah jauh darimu." kata Lasmi.


" Ingat yang aku katakan jangan mencampuri urusanku atau kau akan menjadi sasaranku selanjutnya." lanjut putri Lasmi dengan memberi ancaman.


William menelan silvanya dengan susah payah mendengar ancaman yang terlihat tidak main-main.


"Sebaiknya kau menutupi kejahatanku beri banyak uang untuk mereka yang melihatku melakukan kejahatan tutup mulut mereka dangan uangmu Kakek tua." ketus Lasmi.


Aku tidak akan mati oleh anak kecil ini, Ajian Rawarontek ku sudah Sempurna. Dengan berani William menentang Lasmi." Aku tidak akan menurut denganmu anak iblis." Serunya lantang.


" Kau berani dengan aku Kakek tua akan tujukan padamu sesuatu." ujarnya sambil berjalan kesebuah lemari dikamarnya dan mengambil sebuah guci kecil disana yang berisi air dan bunga.


"Lihatlah Ini." ujarnya.


William berjalan menghampiri Lasmi tanpa takut mengingat Ajian yang mempu membuatnya bangkit dari kematian.


Begitu melihat guci yang berisi air di bawa Lasmi terlihat gambar dalam air itu. Devan sedang berada di kantornya dan di jaga oleh makhluk tak kasat mata yang mengerikan di belakang dan sebelah kirinya.


"Aku bisa memerintahkan mereka untuk menghabisi putra kesayanganmu kapan saja dari sini Tuan William yang terhormat." ujar Lasmi perkataan itu membuat William seakan di timpa oleh beban ratusan kilogram badannya begitu lemas.


"Bagaimana aku masih ingin melawan aku?" kembali Bertanya sekali lagi.


"Jangan sakiti putraku." lirih William.


"Tentu saja asal kau menurut denganku selesaikan semua kekacauan yang aku buat tanpa ada yang terlewat." perintah Lasmi begitu tegas.


"Baik." jawab William.


"Sekarang pergilah aku baru saja memakan organ tubuh seorang pelayan dirumah ini mayatnya ada dibekang dekat kebun bunga Ayah bereskan itu tanpa meninggalkan jejak." kata Lasmi memerintah.


William berlalu tanpa menjewab ia ingin memeriksa sendiri apa benar Lasmi memakan organ tubuh manusia.


Sesampainya di tempat tujuan benar saja ia melihat seorang mayat dengan baju pelayan namun sayang sudah tidak berbentuk untuh lagi. ada beberapa organ tubuh yang hilang dari tempatnya. William yang melihat terkejut ia tak menyangka akan melihat korban anak iblis dan lebih menyedihkan lagi ia tunduk dibawah perintah anak kecil itu.


William kembali kedalam rumah putranya mengambil cangkul untuk menguburkan jazad wanita yang ia sendiri tidak tau namanya.


untung saja aku bisa mempelajari Ajian itu hingga tubuhku yang cacat dan mataku yang buta dapat kembali normal kembali meski Devan taunya semua karena operasi yang di lakukan luar negri.


Di sisi lain para pelayan dirumah Devan kehilangan salah satu teman mereka yang tadinya di perintahkan membali sayur di pasar karena anak majikan mau makan sop daging namun bahannya ada yang kurang.


"Aduh Bagaimana ini telponnya tidak aktif apa aku susul kepasar aja tanya salah satu pelayan pada teman-teman satu profesi dengannya.


"Iya Agi kamu cari kepasar cepat, aku takut ada orang yang menahannya dia itukan masih gadis pasti banyak mata yang menginginkannya." perintah kepala pelayan pada pelayan mengajukan bertanyaan


.