
panasnya gunung dan lembah Api yang di kini di tepati putri Arum besarta pasukannya tidak membuat wanita cantik itu mengurungkan niatnya membunuh Abi besarta kawan-kawannya, Wanita iblis itu semakin membenci Abi begitu mendapat kabar putrinya sudah tiada dari seorang pengikutnya.
Seorang lelaki berlutut di bawah kaki Putri Arum.
"Kifir berita apa yang ingin kamu sampaikan? " tanya Putri Arum ketus.
Jin yang bernama Kifir itu menunduk seraya menjawab.
"Tuan Willim sudah tiada ratu, namun bila anda ingin aku bisa membawa rohnya kehadapan anda sekarang juga."
"Dasar tidak berguna, melawan beberapa orang saja sudah tewas, apa gunanya ilmu yang baru ia pelajari." umpet putri Arum marah.
"Musuh mengetahui kelemahan Tuan Willim dan anaknya sendripun tidak menolong saat kejadian." Jelas kifir.
"Menarik sepertinya Devan benar-benar berpihak pada musuh. Aku harus menanfaatkannya dengan baik." batin putri Arum.
"Capat kau bawa roh anakku dan juga Willim." kata Putri Arum.
"Maaf ratuku tapi aku hanya bisa membawa Willim sesuai perjanjian, karena pengikut tuanku Raja maka ia harus menerima siksaan hingga kiamat. Ia akan menjadi budak di kerajaan Raja." jelas kifir.
"Benarkah itu bagus ia memang pantas mendapatkan itu." jawab putri Arum dengan senyum tipis.
"Bila anda tiada hal yang sama juga anda rasakan bahkan mungkin siksaan anda akan jauh lebih sakit dari yang Willim terima karena anda mengajak banyak manusia ikut terjerumus." batin Kifir sambil tertawa merasa putri adalah wanita bodoh.
"Kifir bawa rohnya kemari aku ingin dia membantuku memusnahkan musuh-musuh bebuyutanku." sentak Putri Arum.
"Dasar bodoh mana bisa roh yang sudah dibawa malaikat maut dibawa kembali, yang akan aku bawa kehadapanmu hanya jin qorinnya saja." tawa Kifir dalam hati semakin terbahak.
"Baiklah ratu dengan senang hati." ujar Kifir seraya pamit undur diri lalu menghilang.
"Kifir kenapa dia bisa keluar masuk leluasa di tempat ini sedang aku tidak bisa apa raja jin berbohong padaku bila ia tidak mampu masuk kemari." gumam Putri Arum.
"Sebaiknya anda fikirkan cara untuk membunuh Abi dialah yang terkuat di antara mereka semua." ujar seorang wanita pengikut Putri Arum sambil menatap kosong.
"Lancang Kau berani memerintah gadis buta." maki Putri Arum.
"Aku hanya mengingatkan karena tidak ada gunanya anda memikirkan sesuatu yang tidaklah penting dihadapan kita sedang berdiri seorang musuh yang kuat." elak Gadis buta itu dengan nada santai seakan tidak ada sedikitpun rasa takut berhadapan dengan wanita iblis di hadapannya.
" Gadis ini selalu menujukan wajah datar dan nada santai saat berbicara denganku, apa dia tidak takut sama sekali denganku." batin Putri Arum atau karena matanya yang buta itu hingga ia tidak memiliki rasa takut berhadapan dengan aku.
Tanpa di ketahui Putri Arum gadis buta itu memiliki kelebihan ia bisa mendengar isi hati seseorang namun ia tetap tidak mengubah mimik wajahnya yang datar dan tatapan kosong.
Aku akan mencoba membari takekannya dengan kekuatanku batin Putri Arum ingin memastikan bahwa wanita ini takut dan memiliki ilmu jauh dibawahnya.
Gadis buta yang mendengar niat Putri Arum masih memasang wajah datar dan detik berikutnya ia tiba-tiba melemah dan terduduk sambil memenganggi Dadanya.
"Ternyata dia masih jauh dibawahku tapi lumayan sejauh ini hanya sisa dia satu-satunya pengikut marcella yang mampu bertahan." batin putri Arum.
"Apa yang ratu inginkan aku akan siap melakukannya." ujar Gadis buta itu kembali mencoba bangkit berdiri.
"Amaira dan juga Yana sudah berada di rumah kosong milik Marcella." lapor Gadis itu.
"Bagus tanpa ku perintah kau mengerti tugasmu, karena kau membuat aku senang akan kuberikan satu cincinku untukmu kau bisa mengunakan kekuatan batu merah maron itu untuk menyerang dan melindungi dirimu." ujar Putri Arum.
"Tidak hanya mereka saja ratu keluarga dari abimanyu tepatnya Omnya yang bernama Gio juga di sekap bersama sang Ibu." ucap gadis buta kembali hal itu membuat Putri Arum tersenyum.
"Kau benar-benar membuat aku senang gadis buta, tapi apa kau yakin orang yang sekap itu mereka matamu itu tidak bisa melihat?" tanya putri Arum meragukan
"Mataku memang buta tapi indra pendengaran dan penciumanku bener-bener peka." sahut Gidis itu sambil menatap kosong.
"Anda boleh bertanya pada Kifir karena saya meminta dia membatu saya saat itu." sahut Gadis buta berjubah itu.
Apa ada tidak ingin mengirim mereka malam ini kesuatu tempat? tanya gadis itu.
Apa maksudmu?
"Masuklah kedalam mimpi Abi dan Dewi adiknya buatlah dia melihat kejadian buruk yang menimpa Om dan Neneknya." sahut sang gadis buta.
"Benar juga, aku bisa menyiksanya dengan mimpi buruk." fikir putri Arum tersenyum penuh Arti.
"Hahahahhha aku bisa membunuh sukma mereka tanpa harus melawan kyai-kyai itu. ambillah panah api itu untukmu kau bisa mengunakan untuk memimpin sebagian besar pengikutku pilih saja sesuai keinginanmu." tawa putri Arum menggema.
"Baik ratu saya pamit undur diri." pamit gadis itu kemudian berjalan sambil meraba.
Putri Arum bersiap untuk mesum alam mimpi Abi dan juga Dewi.
Di tempat berbeda Dewi sudah keluar dari dalam air ia kini duduk di atas bunga teras berwarna emas sambar memejamkan matanya mungkin kerana leleh ia tertidur dalam posisi duduk.
Di tempat berbeda Zahra sedang bermimpi duduk di kursi depan rumahnya di temani oleh secangkir coklat panas.
"Assalamualaikum Zahra." ucap seorang gadis yang seumuran dengannya.
"Waalaikumsalam Nur." jawab Zahra sambil tersenyum lantas mempersilahkan sahabat lamanya duduk.
"Maaf bila kedatanganku mengganggu waktumu Zahra ada hal penting yang ingin sampaikan padamu Zahra." tukas Nur sambil duduk di kursi rotan di depan Zahra.
"Apa to Nur, wajahmu terlihat waspada begitu?" tanya zahra penasaran.
"Ayo kita bicara didalam Zahra ini sangat penting menyangkut keselamatan banyak Orang." bisik Nur menarik Zahra, membuat Zahra terkejut sekaligus penasaran.
Merasa rumah Zahra Aman Nur segera mengambil bungkusan di balik bajunya.
"Zahra Abimanyu dan Dewi teratai emas dalam bahaya saat ini kau ambillah dua paku emas ini lalu turunkan ke telapak kaki wanita iblis itu sambil membacanya ayat kursi aku akan membantumu masuk ke tempat ia bersemedi saat ini." kata Nur dengan wajah serius.
Bagaimana kau tau semua ini aku tidak mengenalkan kamu dengan Abi dan Dewi kata Zahra
" Zahra tidak ada waktu menjelaskan itu sekarang cepatlah tusuk kedua paku itu. satu yang kau ingat hati-hati dengan pengikut Arum. aku hanya bisa membantumu masuk tapi tidak bisa menjamin kesalamatanmu di sana." lanjut Nur.
"Apa gunanya Paku ini?" tanya Zahra menerima. Dua paku besar di tangannya terbungkus kain kuning.
"Paku itu akan menyerap perlahan kekuatan putri Arum hingga ia semakin melemah dan kalian dapat memenangkan pertarungan nanti." Jelas Nur dengan tatapan kosong.
"Biar Abuya yang melakukannya Zahra kau bantu saja Dewi dan Abi." kata Ustadz akbar menyela sambil mengambil dua paku yang terbungkus kain di tangan Zahra.
"Tapi Nur tidak bisa menjamin kesalamatan ustadz, disana Nur hanya bisa membantu masuk kedalam kubah gaib yang melindungi putri Arum melakukan semedinya." jelas Nur sekali lagi.
"Tidak apa-apa Nur, sekecil apapun kesempatan untuk melemahkan Wanita itu akan aku lakukan demi keamanan anak cucuku dan umat manusia." sahut Ustadz Akbar.
"Baiklah Ayo ustadz ikuti Nur." ujar gadis cantik sahabat Zahra itu.
"Semoga bantuan kecilku bisa menyelamatkan kamu Zahra, hiduplah dengan bahagia bersamanya nanti aku akan menjagamu dengan caraku." batin Nur mengambil tongkat miliknya lantas menuntun Ustadz Akbar.
Sekali lagi Nur menoleh meneriaki Zahra.
"Bngunlah Zahra sukma Abi dan Dewi dalam bahaya, bantulah!!" seru Nur Zahra terkejut dengan nafas memburu ia begun dari mimpinya.