Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Senam jantung


Belum selesai permasalahan di kantor miliknya kini Devan di kenjutkan dengan masalah baru.


Saat Devan pulang ia di kejutkan dengan sebuah tulisan di depan rumahnya Rumah ini di jual.


"Apa-apan ini kemana lagi satpam di rumah ini dari tadi di bunyikan kelapson gak keluar??" kesal Devan seraya keluar dari mobilnya dan membuka pagar rumahnya ternyata tidak terkunci.


Devan masuk dengan wajah menggambarkan kekecewaan. Ia menuju kedapur mencari pembantu dirumah ia ingin sekali memarahi pembantu itu untuk meluapkan kemarahannya.


Devan kembali masuk kedalam mobilnya begitu selesai membuka pagar ia memasukan mobilnya tepat di depan garasi mobil dirumah mewahnya.


"Sepi sekali...!! kemana sih orang-orang dirumah ini..?" gumamnya seraya keluar dari mobil ia menekan bill di rumahnya.


Devan kembali memencet bill namun tidak kunjung di buka oleh asesten rumah tangganya


"apa sih pekerjaan Mbok Mina itu enggak di buka-buka." ucap Devan berbicara sendiri.


Sejak kembali dari Markas dan ikut mengurus janazah Yusuf Devan belum kembali kerumah besarnya ia tidur di apartemen miliknya yang berada dekat dengan kantor.


"Asep(satpam) kemana juga enggak keliatan batang hidungnya...?" geruntu Devan masih herdiri di Devan pintu dan sekali lagi menekan Bill rumah.


Devan mencoba memengang gangang pintu dan membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.


Mbok......!!!! Teriak Devan.


Sesampainya di dapur ia melihat wanita paruh baya yang di panggilnya mbok itu berjungkok di peman kulkas yang terbuka.


Mbok......sekali lagi devan berteriak namun pembantunya tak juga menyahut meneleh pun tidak.


Amarah Devan sudah sampai di ubun-ubun ia kenarik pembatunya dengan kasar hingga tubuh sang pembantu terjungkal kebekang.


Serrrrrrr......... !!! Darah Devan berdesir cepat melihat Sang pembatu tewas dengan mulut berbusa berbau menyengat.


Devan terdiam beberapa saat Amarah yang menggebu hilang sudah melihat wajah pembatu pucat pasi Devan merasa kasihan tanpa sadar Devan menitikan air matanya. Mengingat sang pembatu yang sudah sangat lama bekerja dengannya.


"Mbok, ada apa Mbok kenapa pergi dengan cara seperti ini...?" lirih Devan sambil merosot duduk di lantai ia mengusap kasar wajahnya.


"Aku harus memeriksa yang lain." batin Devan ia beranjak pergi mencari para pekerja rumahnya yang lain.


Devan mencari wanita muda yang mengasuh anak raja Jin dan putri Arum..


Devan mencari cari penagusuh Lasmi namun tidak kunjung menemukannya dengan nafas tidak beraturan Devan membuka kamar yang di tepati oleh putri Arum alangkah terkejutnya ia melihat kamar itu berantakan perhiasan milik sang istri semua hilang begitu pula koleksi jam tangan mewah miliknya termasuk sepatu dengan harga pantastis miliknya dan putri Arum tidak tersisa.


Masalah datang beruntun seakan tak membari waktu untuk Devan bernafas lega belum cukup sampai disitu Devan juga menemukan pak Asep satpam rumahnya terbujur kaku dengan luka tiga tusukan di perut dan dan dadanya di pos satpamnya.


Ahhhkkkkkkkk.....!!!!


Devan berteriak frustasi bertepatan dengan itu datang pihak bank yang meminta Devan untuk segera mengosongkan rumah tersebut.


"Rumah ini milik saya pak tolong jangan membuat saya marah dengan keinginan bapak-bapak yang tidak masuk akal itu." tutur Devan mencoba mengatur napasnya dan berbicara ramah.


Surat-surat rumah ini sudah berada tangan kami Anda sendiri yang datang ke tempat kami dan meminta pinjaman yang cukup besar dan sebagai jaminannya rumah ini. Jelas seorang lelaki di depan Devan.


Devan dan dua orang bapak-bapak berbaju biru itu berdiri di depan pagar rumah Devan sambil mengobrol dengan sang pemilik rumah.


"Sebaiknya kita bicara sambil duduk pak." kata Seorang Lalaki yang terlihat lebih tua.


Devan berjalan masuk di ikuti oleh dua orang petugas Bank mereka semua duduk di sofa ruang tamu.


Dua petugas bank itu terlihat biasa-biasa saja mereka tidak takut ataupun marah saat Devan berbicara lebih keras, sudah hal yang lumrah bagi mereka menghadapi orang seperti Devan.


"Bagini pak beberapa hari yang lalu anda datang membawa surat berharga anda dan meminta kepada salah satu rekan kerja kami untuk melakukan pinjaman dalam jumlah yang besar dan-"


"Saya tidak pernah meminjam uang di Bank." potong Devan.


"Sabar Pak, menghadapi orang seperti anda kamu sudah terbiasa. Meminjam lalu pura-pura lupa." ucap lelaki yang lebih muda.


"Bila anda tidak ingin pergi dari rumah ini maka bayar uang yang anda pinjam." lanjut lelaki muda itu sambil menyerahkan sebuah map berisi tentang jumlah uang yang harus Devan banyar..


Devan terkejut melihat nominal yang tertulis di kertas yang ia baca ada pula tandanya tangannya sebagai persetujuan atas perjanjian pinjam meminjam itu.


Gila kalian tidak waras pergi dari sini usir Devan sambil melempar map berisi surat perjanjian itu pada dua orang lelaki di hadapannya.


"Bila bapak tidak mengosongkan rumah ini dalam tiga hari maka jangan salahkan kami jika kami mengusir anda dengan cara kami." tukas lelaki muda itu segera bangkit dari duduknya mengambil map berisi surat perjanjian yang di lempar oleh Devan.


"Sudah saja katakan saya tidak pernah meminjam pada siapapun." herdik Devan sekali lagi.


"Saya akan mengirimkan vidio anda saat datang kantor kami." sahut lelaki yang lebih tua kemudian dua orang itu segera pergi dari rumah.


Devan menelpon polisi untuk mengevaluasi janazah dua orang pekerja rumahnya ia juga ingin melaporkan dua orang petugas bank yang baru saja kerumahnya.


"kenapa tanda itu mirip sekali dengan tanda tanganku sepertinya ada yang sengaja ingin membuat aku jatuh. Tapi siapa aku tidak ada musuh." cicit Devan sembil berfikir ia bersandar di sofa ruang tamu.


"Apa ini ada hubungannya dengan pengasuh Lasmi yang pergi tanpa pamit ? atau wanita itu di pergi oleh rampok yang menjelajah di rumah ini." gumam Devan berbicara sendiri.


"Pengasuh Lasmi orang kampung udik dandan saja tidak bisa bagaimana mungkin dia mengerti tentang surat-surat berharga barang-barang mahal." batin Devan.


Sebaiknya aku menelpon Mars dia bisa ku ajak bertukar pikiran dan memberi aku solusi kata Devan ia segera mengambil ponselnya dan mencari kontak Mars.


Suara mobil berhenti tepat di depan pangar rumah Devan.


Empat orang petugas kepolisian datang dengan baju seragam melekat gagah di tubuhnya.


Devan memasukkan kembali ponselnya ia segera menyambut kedatangan petugas kepolisian dan membawanya masuk untuk melihat janazah Pembantu rumahnya.


Petugas memeriksa korban dengan teliti dan memberi kesimpulan sementara.


"Korban di racun." ujarnya


"untuk memastikan biar kembali di periksa oleh petugas forensik" lanjutnya Devan mengangguk setuju.


Setelah memasukan najazah pembantu tua itu kedalam kantong janazah kini mereka menuju pos satpam dan memeriksa janzahnya.


Dua orang polisi lain memeriksa semua ruangan di rumah Devan untuk mencari barang bukti yang mungkin di tinggal pelaku


.