
putri Larasati bingung dengan ucapan Kekek tua segera bertanya.
Siapa kamu...? tanya Larasati melihat wajah Kakek tua dengan seksama untuk mengingat siapa lelaki tua tersebut tetapi otaknya tidak dapat mengingatnya sama sekali.
"Maafkan lelaki tua yang lancang ini tuan Putri maksud hamba tidak lain ingin menolong tuan putri." ujar peria tua itu semakin membuat Larasati bingung.
masih belum mendapatkan jawaban tentang siapa Kakek tua itu putri Larasati kembali mengulangi pertanyaannya.
siapa Nama Kakek? Apa kita saling mengenal..? maafkan saya yang tidak bisa mengingat Kakek sama sekali dengan penuh hati-hati Laras betanya takut lelaki tua itu marah padanya.
"Tidak masalah harusnya Kakak yang meminta maaf karena lupa memperkenalkan diri. Kakek hanya seorang yang tidak terlalu penting di istana yaitu pelayan yang setiap hari membersihkan dapur dan taman istana." ujar Kakek tua itu sopan sambari menunduk.
"hanya tukang bersih-bersih tapi lari Kakek ini sungguh cepat jelas sekali ia memiliki ilmu Kanuragan." batin Larasati.
"Sebaiknya tuan putri cepat pergi dari kampung mati ini sebelum mereka semua mencium aroma kehidupan di tubuh tuan Putri segeralah pergi menjauhi kampung mati." Kekek tua itu menjelaskan maksudnya membawa putri Larasati ke dalam hutan semata-mata untuk menjauhi orang kampung Mati.
"pergilah bersama saya Kekek." pinta Larasati dengan wajah serius seraya tersenyum.
"saya sudah terikat tidak mudah untuk pergi dari sana suatu saat saya pasti akan keluar dari perkampungan itu bila saya sudah menemukan caranya." jelas Kakek tua sembari menetap lurus kedalam hutan.
"bukankah sekarang kita sudah keluar dari kampung itu Kek. Ayo ikut dengan saya." pinta Larasati.
"hutan ini masih termasuk wilayah dari kampung Mati. kami yang sudah berada di kampung mati tidak akan bisa keluar karena sebuah belenggu iblis." cepatlah pergi ke arah selatan tukas Kakek itu kemudian meninggalkan Larasati dengan ekspresi bingung melihat wajah Kakek tua itu sebelum pergi terlihat pucat pasi.
Laras melihat ketanah tempatnya berpijak ada sebuah cincin bermata satu warna hijau Jamrud.
Apa ini milik Kakek tadi gumam Larasati seraya mengambil Cincin yang berada ditangan dengan tangan kanannya.
sebuah keajaiban terjadi Larasati menghilang dari tempatnya berdiri selang beberapa menit kemudian ia membuka matanya namun di tempat yang sudah berbeda.
"selamat datang tuan Putri." ucap Seseorang lelaki paruh baya menghampiri putri Larasati.
"Dimana saya? dan siapa kamu?"
"Namaku Ki Jamrud. Aku penghuni batu hijau Jamrud yang kau pungut." sahut lelaki paruh baya itu memperkenalkan dirinya.
jadi sekarang saya ada di dalam cincin Larasati betinnya sembari melihat sekeliling yang terlihat semua berwarna hijau.
"Ya benar. mulai sekarang jadilah muridku aku akan melatih mu untuk menjadi kuat."ucap Ki Jamrud dengan wajah serius.
"kenapa aku harus menjadi muridmu untuk menjadi kuat berburu saja bisa membuatku menjadi terlatih untuk bertarung." Larasati berkata seraya menuju sebuah gubuk kecil berwana hijau tidak jauh dari tempat berdiri saat itu.
"aku tidak menerima penolakan bila kamu tidak mau menjadi muridku maka kamu akan selamanya terjebak di dalam baru cincin Jamrud ini kunci keluarnya ada padaku." tukas lelaki paruh baya dengan nada datar.
"Kau memaksaku tuan...?"
"Ya bila kamu ingin keluar maka jadilah muridku." Ki Jamrud berbicara acuh seraya membuka gubuk yang semua atributnya warna hijau.
"baiklah ikuti aku jawab Ki Jamrud seraya menuju tempat yang cocok untuk mereka bertukar jurus.
Larasati terkesima melihat betapa bagusnya rumput hijau terawat di tanah yang lapang.
Larasati segera menyerang Ki Jamrud yang terlihat belum siap tidak ingin membuang kesempatan dengan cepat Larasati melepaskan sebuah energi yang di olah sebesar biji kelereng namun memiliki mampu membuat ledakan yang cukup besar.
Ki Jamrud segera menghilang sedetik sebelum serangan tiba-tiba itu mengenai tubuhnya dan muncul lagi di belakang Larasati.
Larasati tersenyum merasa serangan tepat sesaran namun senyuman itu sirna mana kala ia mendengar suara Ki Jamrud di belakang badannya.
"Cah Ayu sepertinya kau harus berusaha lebih keras." ujar suara itu.
"bagaimana Kakek bisa berpindah tempat secepat kedipan mata." batin Larasati.
"Ayu gunakan kekuatan yang lebih besar untuk melukai aku dengan senang hati akan mengirimkan kamu keluar dari batu Jamrud ini." tukas Ki Jamrud seraya tersenyum.
Kali Larasati menyerang dangan mengunakan jarum perak yang sudah di rendam dengan racun mematikan serangan Kali ini lebih cepat dari sebelumnya dan dengan jumlah jarum yang lebih dari limapuluh jarum dari berbagai arah mustahil bagi si Kekek untuk menghindarinya.
tanpa di sadari oleh Larasati Ki Jamrud menggunakan tehnik cermin untuk membuat replika dirinya sedang yang asli sedang mengawasi di sebuah pohon tidak jauh dari Laras melakukan serangan.
Ki Jamrud sudah dapat membaca serangan Larasati hingga ia bisa mengantisipasinya dengan menggunakan tehnik cermin.
Larasati yang melihat serangan mengenai tubuh Ki Jamrud merasa senang. tapi kesenangan itu hanya sementara singgah berganti dengan rasa kesal saat ia mendekati Ki Jamrud yang tergeletak tak berdaya tiba-tiba lenyap.
dengan satu gerakan ringan Ringan dari tangannya Ki Jamrud membuat Larasati tercekik oleh rambut panjang miliknya sendiri.
"lepaskan aku, baiklah aku menyerah dan mau menjadi muridmu." ucap Larasati dengan tercekat.
rambut yang mencekiknya perlahan mengendur dan terlepas Larasati terbatuk-batuk menghirup rakus udara.
"pilihan yang bagus. sebaiknya siapkan dirimu, pergilah mencari makan sendiri di tempat ini kau tidak akan kekurangan sumberdaya, kenalilah tempat ini sebaik mungkin sebelum waktu berlatih tiba." ujar Ki Jamrud kemudian menghilang bagai asap tanpa jejek.
cepat sekali Kakek tua itu menghilang batin Larasati sembari berjalan menyusuri dunia kecil di dalam batu Jamrud.
Di lain tempat tepat di Singapura seorang Lelaki menonton barita di televisi sudah beberapa kali ia memindah siaran televisi namun tidak satupun berita yang menarik perhatiannya.
Sejak dua bulan yang lalu ia keluar dari rumah sakit tempatnya terbaring koma tanpa ada sanak saudara yang menunggunya hanya seorang dokter yang baik hati terus-menerus merawatnya tanpa di bayar sepersenpun Bahkan saat ia sembuh dokter baik hati itu memberikannya tempat untuk tinggal.
Dokter berusia 42 tahun itu memberinya Nama Mickael. sejak sadar dari koma orang yang di rawat olehnya tidak mengigat apapun tentang keluarganya dan siapa dirinya serta dari mana ia berasal hanya cara sholat yang masih di ingat olehnya.
bekali kali Mickael berusaha mengingat siapa keluarganya namun hanya rasa sakit di kepala yang ia dapatkan.
baca juga Novel baru author: Misteri dibalik kehidupan.