Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Musibah


Sebuah perjanjian dengan iblis terjadi sang rembulan menjadi saksi bisu.


Apa pun akan aku lakukan asal bisa membuat aku memiliki kecantikan tiada tara dan tentu saja juga kesaktian yang tiada tanding bonusnya semua makhluk di dunia akan tunduk berada di bawah kendali ku begitu fikir Putri Arum.


"Kau bukan lagi manusia Arum kau sudah menjadi iblis, hahhahahaha." tawa raja Iblis mengema.


"Bagus Arum pilihmu sangat tepat dengan begitu kau membantuku menghasut manusia untuk menjadi penghuni abadi neraka jahanam." batin Raja iblis.


Raja iblis segera mengirimkan sebuah buku bersampul hitam ke tempat putri Arum berada.


Buku itu sudah di beri mantra oleh raja iblis agar putri Arum tidak bisa berhianat padanya.


Di tempat lain.


Zahra mendapatkan panggilan telepon dari sang kaka yaitu Muhammad Rahmanul karim kaka laki-laki satu-satunya.


Saat Zahra mengangkat bukan suara sang kaka yang ia dengar tapi seorang perempuan yang memberikan kabar mengejutkan untuk Zahra.


Wanita itu menyebutkan jika sang kaka mengalami kecelakam tunggal dan meninggal di tempat sedang istri dan anaknya sang berusia lima tahun kritis di bawa kerumah sakit Cahya merdeka.


Badan Zahra lemas airmata mengalir tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.


Dewi Teratai kecil yang sudah selesai membuat obat dari ruang demensi milik sang kaka keluar ia ingin melihat keadaan di luar.


Meski ia roh tanpa raga namun ia memiliki kelebihan yaitu bisa menyentuh apa saja yang berada di sekitarnya termasuk menyentuh orang.


"Zahra apa kamu baik-baik saja?" tanya Mars saat ingin kedapur ia melihat zahra terduduk di lantai dengan wajah menghadap ke tembok.


Zahra tidak menyahut.


"Zahra apa yang terjadi?" ulang Mars dengan suara sedikit lebih keras


Dewi kecil berbisik di telinga Mars membuat Mars terperajat segera memundurkan langkahnya.


Siapa kamu?" tanya Mars dengan waspada


Dewi Teratai kecil tertawa. Ia kemudian terbang mendekati Zahra dan berbisik. "Kaka cantik jangan sedihnya, semuanya takdir."


Zahra melihat kesamping air mata masih mengalir di pipinya tanpa henti.


"Dewi masuk ke ragamu kenapa disini...!! batin Zahra tanpa membuka suara.


"Tidak bisa raga ku dipakai oleh ratu teratai." sahut Dewi kecil sambil memanyunkan bibirnya.


"Kaka jelek kau nanggis...!! seru Dewi kecil.


"Suara siapa itu?" tanya Mars.


"Zahra apa disini ada hantu?" Mars bertanya sembari melihat sekeliling


"Enak aja cantik begini di bilang hantu." sahut Dewi tak terima.


Dewi kecil mendekati Mars ia meniup telinga Mars perlahan ia ingin mengerjai laki-laki itu.


"Zahara ayo bergi deri sini, disini ada setan !! Telingaku baru saja di tiupnya." kata Mars segera menarik lengan Zahra yang terbalut baju syari.


Zahra melihlat Dewi kecil dengan paruh peringatan.


Hehehe....ok Aku pergi ya dalam kejab Dewi kecil menghilang.


Zahra tidak tau kenapa matanya dapat melihat sukma Dewi teratai kecil.


Tanpa Zahra tau Dewi teratai kecil pergi ke tempat Ustadz Akbar kini terbaring lemah.


"Kasihan ka Zahra apa aku tolong saja ya?"


Sukma tanpa raga itu menggenggam tangannya dan tidak lama kemudian ia membukanya satu tangkai bunga teratai emas muncul di tangannya.


Aku tidak tau ini berhasil atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk di coba Takdir hidup dan mati hanya dia sang pemilik kehidupan yang menentukannya aku hanya berusuha saya kerena aku mahluk yang lemah gumam Dewi teratai kecil sambil meletakan setangkai bunga teratai di dada Ustadz Akbar hal yang sama juga ia lakukan untuk Ayahnya Yusuf.


Teratai itu mengeluarkan sinar keemasaan menyelimuti tubuh Yusuf adan Ustadz Akbar tidak lama setelahnya Bunga teratai itu menghilang tanpa bekas dan sinar yang menyelimuti tubuh keduanya juga ikut sirna.


Tit..........tit.....


Bertepatan dengan itu seorang suster datang ingin memeriksa keadaan pasien.


Suster itu segera memeriksa ustadz Akbar beberapa saat kemudian ia mengucapkan.


Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un


Ia lanjut memeriksa pasien keduanya yaitu Yusuf kembali lagi hal yang sama ia ucapkan.


Semoga amal ibadah beliau diterima batin Suster itu segera menyampaikan berita duka pada keluarga pasien.


Di sudut kamar Yusuf Dewi sedang menatap jasad Ayahnya di kejutkan dengan kedatangan Dewi sekar Arum yang muncul secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu lakukan Dewi...?" ucapnya sembari menatap tak suka pada Dewi.


"Maaf aku fikir ini jalan yang terbaik..." sahutnya sambari menghapus air mata yang jatuh di kedua pipinya.


Dewi sekar masih menetap Dewi tajam. Entah apa yanh sedang ia pikirkan namun jelas terlihat semburat kemarahan di wajahnya yang putih bersih.


Tanpa Aba-aba Dewi Sekar segara membawa di kecil pergi.


Entah apa yang oleh Dewi kecil hingga ia nekat melakukan hal yang tidak terduga seperti itu. Mempercepat kematian seseorang bukanlah tidakan yang perlu di tiru.


Dewi Sekar kembali menanyakan apa alasan Dewi kecil melakukan itu saat mereka tiba di kamar pribadi miliknya.


"Sudah aku katakan itulah yang terbaik saat ini bila waktunya tiba anda Akan mengerti." jelas Dewi teratai kecil sembil tersenyum penuh mesteri.


"Katakan padaku..!!" seru Dewi sekar


"Maaf aku bukan budakmu." sahut Dewi teratai kecil seraya meninggalkan tempat itu.


"Tunggu Dewi kau harus menjelaskan padaku apa rencamu, bagaimana jika itu membahayakan nyawa banyak orang.....?" teriak Dewi Sekar.


Dewi berbalik menatap Dewi sekar tanpa di duga ia melempar serbuk aneh yang dapat membuat seseorang melupakan kejadian beberapa saat yang lalu.


Dewi Sakar yang tidak mendugapun menghirup serbuk aneh tanpa tau apa fungsi hingga kepala terasa pusing dan padatangan buram.


Dewi Teratai kecil bergegas pergi ia ingin bertemu dengan Zahra.


Di markas Abi Larasati sudah kembali kedalam raganya berkat bantuan dari Baiyura.


Abi terduduk lemas begitu mendengar kabar duka dari Neneknya. Zahara bahkan jatuh pingsan usai mendengar kabar kematian sang Ayah dan juga kaka laki-lakinya di hari yang sama.


Kyai Hasan terpakasa harus kembali ke padepokan kerena mendengar kabar terjadi kerasukan masal yang di alami oleh para santri.


#Ini ulah putri Arum Wanita itu tak hanya ingin menyerang Pisik saja, ia menyerang dari berbagai sisi untuk melemahkan kekuatan lawan." batin Ratu teratai yang masih setia menepati raga Dewi teratai kecil.


"Kyai apa yang harus kita lakukan ternyata menyedot kekuatan miliknya bukannya membuatnya lemah tapi kemarahannya sekaan semakin membera?" tanya Ratu teratai.


Berdoalah dan memintahlah pada yang maha kuasa, karena jujur aku pun belum memikirkan langkah apa yang harus kita lakukan saat ini. Semua yang sudah tersusun tidak akan bisa kita jalankan saat ini.


"Satu hal yang pasti. Kita kuburkan jasad mereka sesuai ajaran islam...!!! seru Abi bangkit dari tempatnya Duduk.


Mereka semua mengangguk setuju.


Di tempat berbeda Putri Arum tertawa lepas ia terlihat begitu bahagia mendengar laporan Jin Kifir yang berhasil menjelankan tugasnya.