
sebuah mobil berhenti dihalaman Rumah Yusuf terlihat seorang ustadz dan Abi turun dari mobil berjalan menuju pintu.
"Assalamualaikum." ucap Abi sambil mengetok pintu Rumah.
Risa yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi beranjak untuk membuka pintu.
"waalaikum salam." ucapnya sambil membuka pintu utama rumahnya.
Risa menatap Abi yang wajahnya terlihat pucat disampingnya berdiri Ustadz Akbar yang menyapanya.
"Bu Risa Assalamualaikum." ucap Ustadz Akbar sembari tersenyum sopan.
"Walaikum salam Ustadz. Abi kenapa bisa bersama ustadz bukankah seharusnya Devan yang mengantarmu?" tanya Risa.
"Bunda tolong biarkan Abi dan Ustad masuk dulu kita bisa lanjut mengobrol didalam." ujar Abi
"Astaghfirullah bunda sampai lupa mempersilahkan tamu masuk. Ayo Ustadz silahkan masuk." kata Risa merasa tak enak hati.
'Terimakasih Bu Risa, saya pulang saja, tak baik bagi saya seorang laki-laki masuk ke rumah orang yang suaminya sedang tidak di rumah." sahut Ustadz Akbar dengan nada ramah.
"sebentar lagi suami saya pulang pa Ustadz bisa mengontrol dengan Abi sembari menunggu Mas Yusuf." kata Risa.
"jika begitu insyaallah besok saja saya kemari lagi biar membuat janji dulu dengan Yusuf." sahut Ustadz Akbar.
"yasudah tidak papa salam untuk Zahra putri pa Ustadz." kata Risa entah mengapa ia ingin sekali menitipkan salam untuk Zahra.
"Zahra bagaimana Bu Risa tau saya punya putri bernama Zahra?"
Abi menatap sang Bunda ia juga bingung dengan ucapan ibunya yang belum pernah mengenal Zahra bagaimana bisa tau.
"Benar pa Ustadz punya putri Zahra, jika begitu ucapkan Rasa terimakasih saya untuk putri Ustadz." lanjut Risa sambil tersenyum penuh arti.
Ustadz Akbar semakin dibuat bingung dengan ucapan Risa. "baiklah nanti akan saya sampaikan. saya pamit dulu, assalamualaikum" ucapnya meski tak dipungkiri raut wajah bingung jelas terlihat namun ia tak ingin berlama-lama berbicara pada wanita yang bukan mahramnya.
"walaikum salam." jawab Risa.
ustadz Akbar berlalu setelah Abi mencium punggung tangannya ia masuk kedalam mobil dan tak lama kemudian ia meninggalkan rumah Abi.
Di sisi lain segera masuk ke rumah diikuti oleh Risa.
"Nak ada apa denganmu wajahmu terlihat pucat?" tanya Risa sambil berjalan di belakang sang Putra.
"Abi hanya terlalu lelah Bunda. untuk sementara waktu biarkan Abi istirahat." jawab Abi sembari berjalan menuju kamarnya.
"kamu yakin ada yang ingin diceritakan dengan Bunda?"
"nanti Abi akan cerita Bunda tolong saat ini Abi benar-benar lelah." keluh Abi.
"Baiklah sebaiknya kamu membersihkan diri dulu nak." ucap Risa ikut masuk kemar Abi.
"Dimana tas ransel yang kamu bawa nak?".
"Ada di villa puncak sebenar lagi anak Mang Antok akan datang mengantarnya kemari." sahut Abi.
Ting tong.....!!
"mungkin itu anak mang Antok." kata Abi sambil berjalan keluar kamar untuk membuka pintu.
Risa menyusul dibelakang Abi. "nak biar ibu yang buka kamu bisa tunggu saja." seru Risa
Abi membuka ganggang pintu sambil tersenyum menyapa sang tamu.
"Assalamualaikum ka Reza." sapa Abi.
"Waalaikum salam. ini Dek saya di minta Ayah mengantar ini untukmu." kata Reza Sopan.
"mari masuk dulu ka terimakasih sudah repot mengantar barang milik Abi." sahut Abi.
"Tak apa Dek, Kaka mau melamar pekerjaan mampir kesini ngantar tas punya dek Abi. kalau begitu saya pamit dulu Bu, Dek Abi." kata Reza.
"tunggu ka Reza, Kaka butuh pekerjaan ya?" tanya Abi.
"Iya Dek, kasihan Ayah sudah di pecat oleh om Willem jadi mau tidak mau saya harus mencari pekerjaan untuk membantu Ayah dan meneruskan pendidikan." kata Reza dengan Raut wajah sedih.
"Astaghfirullah maksudnya Willem Kakakmu itu Abi yang memecat Ayahnya nak Reza ini?" tanya Risa.
"iya benar Bunda mungkin ini ada hubungannya dengan Abi kenapa Ayah Kak Reza dipecat." sahut Abi.
"Ayo nak Reza masuk dulu." ajak Risa membuka lebar pintu rumahnya.
"Abi Coba kamu telpon Om kamu Gio dia beru membuka resto siapa tau masih ada lowongan buat Nak Reza." kata Risa memerintah.
"Baik Bu." ucap Abi tangannya segera mengambil ponsel disaku celananya lantas menelpon Gio.
Risa segara pergi ke dapur untuk membuatkan air minum.
beberapa menit berlalu Yusuf datang baju koko yang melekat ditubuhnya masih terlihat rapi rupa ia baru saja selesai mengajar anak-anak di TK Al-Quran.
Yusuf menemani sang putra yang masih mengobrol dengan Reza sesekali mereka terlihat tertawa bersama.
"Dek Abi pa Yusuf saya pamit dulu. Abah pasti senang dapat pekerjaan.terima kasih sudah menemani saya mengobrol dan memberikan pekerjaan untuk saya dan Abah sekali lagi terima kasih." ujar Reza sambil tersenyum.
"Sama-sama nak Reza, salam buat keluarga." ujar Yusuf. oh iya ini ada sedikit uang semoga bisa bermanfaat." kata Yusuf sambil menyerahkan Beberapa lembar uang ratusan ribu.
t"idak usah pa Yusuf insyaallah uang buat makan ibu masih ada tabungan." tolak Reza.
"itu namanya Rezeki ka Reza jangan di tolak, Rezeki itu bisa datang dari pintu mana saja yang Allah kehendaki. Ayo ambil saja." ujar Abi.
"Ayah tambahin lagi tadi ka Reza yang antar tas dari villa di puncak pasti bensin abis toh dari sana kesini pasti jauh perlu ongkos belum lagi haus dan lapar." bujuk Abi.
Yusuf kembali menambahkan uangnya lima ratus ribu jadi totalnya satu juta.
"ini nak jangan di tolak saya dan anak saya ikhlas ingin membatu." ujar Yusuf sambil tersenyum.
"Alhamdulillah nak Reza ini ada tambahan lagi dibawa buat makan di rumah ujar Risa sambil membawa rentang berisi makanan."
Reza menitikkan air mata haru, dalam hati tak berhenti mengucap syukur.
"terimakasih Dek Abi, Bu Risa dan pak Yusuf saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh tidak akan membuat kecewa karena sudah diberikan kepercayaan bekerja di Restoran milik Om Abi." Ujar Reza sambil bersimpuh di lantai dengan air mata menetes di kedua matanya.
Abi dan Yusuf segera meminta Reza bangun. "Kak kami bukan Allah kami hanya perantara jadi jangan bersujud seolah kami adalah orang yang berkuasa ." nasehat Abi sambil menarik Reza.
iya nak jangan begitu lagi kita sama-sama manusia tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin kita tetap sama kamu jangan sungkan jika perlu bantuan mintalah dengan berkata baik. Insyaallah jika mampu kami akan bantu ujar Yusuf menimpali.
"Baik pak terima kasih semua bantuannya hari ini. saya permisi kasihan ibu pasti menunggu saya terlalu lama pergi." kata Reza.
Baik nak Reza hati-hati dijalan kata Yusuf sambil berjalan mengantar tamunya keluar rumah.