Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
kasus lama


pagi hari ini. Abi sekolah di antar oleh Ratih dan mang Dadang supir di rumah Yusuf.


"Grandma Abi masuk kelas dulu ya, assalamulaikum." ucap Abi sambil mencium tangan Ratih.


"Walaikum salam, balajar yang rajin ya nak biar jadi anak pintar." sahut Ratih sambil mengusap kepala Abi.


"Mang Dadang Abi masuk dulu ya." pamit Abi tak lupa ia berpesan. "Antarkan  Grandma sampai ke rumah dengan selamat ya mang."


"kalo itu mah pasti den,


tanpa den Abi mintapun Mang Dadang akan mengantar dengan selamat." sahut Mang Dadang sambil tersenyum.


selesai berpamitan pada Grandma dan Mang Dadang Abi segera berlari menuju kelasnya.


            ****************


Di balik jeruji besi seorang peria paruh baya sedang melamun memikirkan jalan hidupnya.


teringat kembali massa indah yang ia lewati bersam istri dan anak-anaknya. membuat sudut bibirnya tertarik menjadi sebuah senyuman.


kebahagiannya tak itu berangsur-angsur lenyap. Sang putri sulung melakukan perbuatan yang membautnya malu, tanpa berpikir panjang ia mengusir putrinya karna berpikir akan membuatnya malu pada semua rekan bisnisnya.


keputusannya mengusir sang putri nyatanya membuat hati sang putra kecewa padanya dan memilih pergi dan tak mau menerima apapun yang ia berikan.


tak hanya sampai di situ, kesedihan sang istri karna ditinggal oleh kedua anak-anaknya membuat kesehatan istrinya terus menurun hingga membuatnya terpaksa harus berada di atas kasur.


pertayaan dan kabar anak-anaknya terus di di luntarkan dari mulut istrinya membuat Hermawan tidak betah bila berada dilam rumah.


tanpa peduli masalah yang akan datang, Hermawan meninggalkan Rumah. bertemu dengan wanita cantik yang mempu membutnya puas saat melakukan penyatuan.


kegilaan Hermawan pada Vania dan berkerja  membuatnya lupa dengan istrinya sang sedang sakit.


merasa Vania terus memberikan kepuasaan padanya. membuat Hermawan menikahi gadis asal Jerman yang seksi itu.


terlintas pula dalam benaknya segala sesuatu yang telah ia lakukan di massa lalu. ia tak pernah menyangka jika sang istri Ratih mengetahui kebusukannya dan tega membongkarnya di depan hakim hingga membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi.


flasback.


Hermawan terbangun di kamar sebuah hotel seorang diri.


kemana Vania kenapa tidak membangunkanku. tanyanya pada diri sendiri.


Hermawan melihat jam tangannya menunjukan angka sembilan pagi.


aku sudah terlambat berkerja gumamnya. dengan cepat ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri, begitu selesai ia segera keluar dari hotel tersebut.


sesampainya dirumah ia tak menemukan keberadaan sang istri, Hermawan mendapati rumah itu di jaga oleh dua orang peria asing yang tak ia kenali.


dengan cepat Hermawan berjalan ke arah dua orang yang berada di depan pintu rumahnya itu.


"siapa kalian? kenapa berada di rumah saya?" tanya Hermawan lantang.


Seorang laki-laki yang mendengar suara Hermawan segela keluar dan menjawab pertanyaan Hermawan.


"Harusnya aku yang bertanya padamu Om Hermawan mengapa Om ada dirumah peninggalan orang tua saya, apa Om tidak memiliki tempat tinggal." sahut Dimas sambil berjalan mendekat ke tempat hermawan yang berdiri didepan pintu.


"kau apa yang kamu lakukan." bentak Hermawan.


"ya aku Dimas Erlangga." sahut Dimas.


"bagimana mongkin Dimas masih hidup, aku sudah memastikan dia meninggal saat di tabrak mobil." ucap Hermawan.


"oh biar ku jelaskan padamu Hermawan orang yang di tabrak itu memanglah aku tapi orang yang di kubur itu bukanlah aku. aku yang saat itu mencurigamu segaja menabrakku karna takut harta kekayaan yang Om nikmati kembali padaku. meminta dokter pribadi almarhum papa bekerja sama membantuku. dengan cara menukar tempat perawatan dan menggati namaku."


Dimas menatap lurus kedapan kemudian melanjutkan ceritanya.


untuk melanjutkan hudupku tanpa diganngu olehmu, aku terpaksa mengganti nama belangku menjadi Dimas Aggara.


"tujanku kemari untuk mengambil kembali hakku om Hermawan." ungkap Dimas.


"Tidak bisa rumah ini sudah menjadi milikku begitu pula dengan perusahan sudah berpindahnama menjadi milikku." jelas Hermawan ketus.


"oh ya. coba Om baca baik-baik ini." ucap Dimas sambil memperlihatkan surat kepemilikan rumah yang sudah ia balik namakan atas namanya.


Hermawan membuka matanya lebar hingga terlihat seperti melotot tak percaya akan apa yang ia lihat didepan matanya.


bagaimana mongkin, Dimas bisa mengambil surat rumahku yang sudah kusimpan di tempat yang tersembunyi. batin Hermawan.


"kau tak percaya jika surat ini Asli. kau boleh masuk kekamarmu dan mencari surat rumah yang kau simpan." ucap Dimas sambil menyerigai.


tanpa mengucapkan sepatah kata. hermawan berjalan cepat menuju kamarnya guna mencari sertipikat rumah.


ia membuka tempat ia menyimpat sertipikat berhaga itu, Hermawan harus menelan kekecewaan tak kala mendapati tempat penyimpanan sertipikat rumah itu kosong.


"kurang ajar siapa yang berani-beraninya mengambil surat rumahku." teriak Hermawan marah.


"siapa? harusnya otakmu itu berpikir siapa saja orang yang bebas keluar masuk dikamar ini, tanpa di curigai oleh siapapun." ucap Dimas santai.


"Vania!" ucap Hermawan pelan seakan tak percaya jika wanita yang dinikahinya itu melakukan semua itu padanya.


"Istri mudamu itu sudah pergi dari pagi." ucap Dimas.


"kau membayarnya untuk mengambil rumah dan perusahanku?" tanya Hermawan dengan nada suara lantang.


dua orang anggota kepolisian datang membawa surat penagkapan atas nama Hermawan.


Hermawan yang masih saja berteriak marah pada Dimas tidak menyadari kedua polisi itu datang dan berdiri di belangnya.


Dimas membarikan isyarat pada dua orang polisi itu diam ditemapat karna ia ingin mengorek keterangan tetang kematian kedua orang tuanya.


"istri pertamamu sudah mengatakan padaku, jika kau menghabisi dua nyawa yang dulu bekerja dirumah ini sebagai pembantu dan Saptam." pancing Dimas


"jangan asal bicara kau anak ingusan, mereka tewas di tangan perampok, aku tidak ada hubungannya dengan itu." ucap Hermawan marah.


"tapi aku memiliki bukti teterlibatanmu Hermawan." ucap Dimas sambil menyerigai.


Dimas mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sakunya sambil menatap Hermawan yang mulai mengeluarkan keringat dingin melihat ponsel lama miliknya.


"hahhahaha, ponsel itu sudah rusak" ucap Hermawan tertawa sumbang.


Dimas membuka ponsel itu lalu memperlihatkan sebauh vidio yang dikirimkan seseorang diri nomor yang tak dikenal.


Sebuah Vidio berisi tentang membunuhan yang dilakukan oleh dua laki-laki berpakaian serba hitam serta memakai topeng jelas sekali terlihat dari remakan tersebut.


Vidio dikirim beserta dengan sebuah pesan yang melaporkan pekerjaan mereka beres. dan meminta bayarannya.


Hermawan yang melihat itu mengelingkan kepalanya tak percaya jika ponselnya bisa hidup kembali.


Om berani membunuh dua orang itu agar tak ada orang lain yang mengatahui kejahatanmu mengambil harta orang tuaku.


melihat keberanian Om bertidak untuk mengapai keinginan Om membuatku berpikir, jika om segaja membunuh Papa dan juga Mama. ucap Dimas sambil menatap laki-laki paruh baya di hadapannya tajam.