Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
membuat obat


seorang anak berusia 11 tahun sedang sibuk mencampur bahan-bahan untuk membuat obat, dan seekor Rubah dengan dengan sigap membatunya.


setelah 2 jam ia berkutat dengan berbagai macam tanaman obat akhirnya hasil yang ia dapat cukup memuaskan. bibirnya lantas tersenyum memuji diri sendiri.


"tuan apa anda akan menyuntikan obat itu ke Dokter Yusuf dan Umi salamah hari ini?" tanya Rubah putih itu.


"tentu saja, aku percaya pada ucapan kakek, obat ini akan membantu mempercepat kesembuhan Oma dan Ayah." ucap Abi antusias.


"berhati-hatilah tuan entah mengapa firasat ku buruk." ucap Rubah putih mengingatkan.


"kau meragukan obat buatan ku ini?" selidik Abi.


"tentu saya tidak berani meragukan kemampuan anda Tuan, hanya saya saja, ah sudahlah tak usah dipikirkan semoga tidak terjadi apapun pada Dokter Yusuf dan Umi salamah." sahut Rubah di depan Abi.


"kau takut ada yang ingin mencelakai keluargaku?" tanya Abi penasaran.


"Anda benar tuan, Saya rasa ada orang yang sengaja ingin mencelakai anda dan keluarga Anda." ucap Rubah sambil tertunduk sedih.


"aku juga merasa demikian, Tapi kau jangan Khawatir berlebihan, hanya perlu sedikit waspada." Sahut Abi.


"ya sudah aku pergi dulu kau bersihkanlah tempat ini aku harus ke rumah sakit." ucap Abi pamit.


"baik Tuan, jika anda perlu saya panggil saya pasti akan datang." jawab Rubah itu sambil nyengir.


Abi berjalan keluar sambil membawa dua botol obat untuk Umi dan untuk Yusuf Ayahnya.


Abi memasukkan dua botol obat kedalam saku celananya ia kemudian berjalan perlahan sambil bersenandung riang.


Di ruang tamu Ratih sedang menonton televisi di kagetkan dengan suara bel bertanya ada yang berkunjung.


"Assalamualaikum" ucap ustadz Akbar dari balik pintu.


"Alaikum Salam." sahut Ratih sambil membuka pintu.


mata Ratih memandang dua orang laki-laki berpakaian serba putih dan sorban di kepalanya berdiri depannya lantas ia bertanya.


"Ada perlu apa ya pak Ustadz?" tanya Ratih ramah.


"kami berdua teman dari almarhum Marcello orlando, kami kemari hanya sekedar ingin bersilaturahmi pada istri dan anak Almarhum ." ucap Ustadz Akbar menjelaskan tujuannya.


"Oh silahkan masuk dulu pak Ustadz." ucap Ratih ramah pada dua orang tamu di depannya.


Ustadz Akbar kyai Hasan masuk duduk sofa ruang tamu.


"Mohon maaf pa Kyai jika tujuannya ingin silaturahmi dengan Umi salamah beliau sedang tidak ada di rumah saat ini begitu pula dengan putranya." ucap Ratih sopan.


"tidak ada, di rumah ini maksudnya?" tanya Ustadz Akbar sambil melihat Kyai Hasan yang belas menatap.


"Umi dan Yusuf sedang di rawat di rumah sakit jelas saat ini." ucap Ratih jujur.


"apa Umi dan Yusuf sakit?" tanya Kyai Hasan dan Ustadz Akbar terkejut


pantas saja sejak kemaren aku tak tenang memikirkan yusuf dan Salamah gumam kyai Hasan.


Abi yang baru saja selesai mandi ingin menemui Ratih melihat ada dua tamu. ia berjalan perlahan menghampiri.


"Grandma Abi sudah selesai." ucap Abi sopan sambil berjalan menghampiri Ratih yang masih mengobrol dengan Ustadz Akbar dan Kyai Hasan.


mata Ustadz Akbar melihat ke arah Abi begitu pula Kyai Hasan terlihat jelas binar kegembiraan menghiasai wajah keduanya menyambut Abi dengan senyuman ramah.


"Assalamualaikum pa ustadz pa Kyai." sapa Abi sopan sambil mencium punggung tangan keduanya


"pa Kyai hebat sekali baru ketemu udah tau nama Abi tanpa Abi perkenalkan dulu." ucap Abi polos sambil tersenyum.


"apa Ibu dan juga Abi akan pergi ke rumah sakit?" tanya Ustadz Akbar.


"iya Abi dan Grandma berniat kembali ke rumah sakit mengentikan Bunda menjaga Ayah dan Oma." sahut Abi sambil mendaratkan pantatnya di samping Ratih.


"Apa kami boleh ikut menjenguk Umi dan Yusuf." ucap Ustadz Akbar dengan hati-hati.


"tentu saja boleh pak Ustadz." sahut Ratih


"Ayo pak Kyai pak Ustadz kita kita berangkat sekarang." ajak Abi.


"tunggu Grandma ambil tas dulu nak." ucap Ratih.


"kami tunggu di depan ya Grandma!!" seru Abi sambil melihat Ratih beranjak dari tempat duduknya.


Ratih mengangguk lantas pergi menuju kamar mengambil tas kecil miliknya tak lupa ia membawa makanan yang sudah ia buat untuk Yusuf dan Umi salamah.


setengah jam perjalananan mereka akhirnya sampai ke rumah sakit. Dari kejauhan Ratih melihat Risa yang duduk bersandar pada Dinding sambil memijat pelipis kepalanya sambil memejamkan mata.


"Risa apa kamu baik-baik saja?" tanya Ratih khawatir.


Risa yang memejamkan matanya tersentak kaget mendengar suara Ratih. ia lalu membuka matanya perlahan melihat sang ibu sambil berkata.


"Aku baik-baik saja hanya pusing sedikit." sahut Risa mabil menegakan posisi tubuhnya.


Risa melihat dua laki-laki berumur sekitar 50 tahun lebih memakai baju koko terusan berwana putih. lantas mengernyit bingung sambil menatap sang putra.


"ini pak Ustadz dan pak Kyai teman dari Kakek Marcello Bunda ingin menjenguk Oma dan juga Ayah, apa sudah boleh di jenguk?" tanya Abi.


"Oh silahkan Pa Kyai Suami dan mertua saya di rawat di kamar yang berbeda. "Abi ayo antar Pa Kyai dan Pa Ustadz ke kamar Umi." perintah Risa.


baik Bunda sahut Abi lantas berjalan di ikuti oleh Kyai Hasan dan Ustadz Akbar.


sesampainya di kamar VIP tempat Umi Salamah dirawat ketiga lantas memberi salam pada Umi.


Umi yang masih berbaring lemah menjawab salam sambil tersenyum.


"pa Ustadz, pa Kyai." ucap Umi penuh haru. ia tak menyangka bisa kembali bertemu dua orang sahabat suaminya.


"apa yang terjadi Salamah kenapa bisa begini?' tanya Kyai Hasan.


"sepertinya orang itu, kembali lagi ingin membuat ulah." ucap Umi sendu.


"kali ini kami tidak akan tinggal diam Salamah. sudah cukup Marcello dan Kedua orang tuanya yang menjadi korban keganasan mereka." ucap Ustadz Akbar menimpali.


"Nak Abi, apa kakek buyut mu Raden Mas sudah datang menemui Mu?" tanya Kyai Hasan.


Abi terdiam mengingat kembali apa pernah ia bertemu dengan kakek bernama Raden Mas.


"Abi hanya bertemu dengan Rubah putih milik kakek." sahut Abi.


"jika kamu sudah bertemu dengan Rubah putih itu, Artinya kamu juga sudah bertemu dengan kakek buyut mu melalui Alam lain, mungkin saat kamu tidur beliau menemui Mu dalam mimpi. jelas Kyai Hasan.


"Ya seorang kakek yang memakai pakaian putih bersih seperti seorang petapa membawa sebuah tongkat berukir Naga emas." ucap Abi sambil mengingat laki-laki tua yang sering kali hadir di mimpinya.


Umi sentak kaget mendengar ucapan Abi, Ia ingat betul suaminya berkata kelak akan ada anak dari keturunanku yang mampu menghancurkan segala macam angkara murka yang di sebabkan oleh Seorang Iblis. Ucapan Marcello itu masih diingat oleh Umi.


"Apa Abi orang yang di masud Kang Mas Marcello tanya Umi pada dua sahabat suaminya?" sambil melihat kedua orang sahabat suaminya semasa hidup