
kicau burung terdengar bersahut-sahutan mengiringi lankah Abi berjalan pelan menuju sebuah kubuk di atas bukit yang menanjak namun tidak licin sama sakali.
semanjak aku berada disini tidak seorangpun terlihat di tampat ini sedangkan semua tumbuhan disini tertata rapi jelas ada yang merawatnya gumam Abi pelan sembari memperhatikan sekitar.
Krukkkkk...... Krukkkk....
"Sudah lama aku berjalan tapi kenapa tidak sampai juga, bahkan perutku sudah berbunyi." gumam Abi pelan.
Abi kemudian duduk meluruskan kakinya ia melihat sekeliling mencari makanan yang mungkin bisa untuk menganjal perutnya.
"Di tampat ini pasti ada air aku harus mencarinya tenggorokan ku terasa kering." batinya.
"Bukankah ini sangat aneh seharusnya aku tidak merasakan lapar haus dan lelah seperti orang yang memiliki raga tempat apa ini sebenarnya." cicitnya sembari berdiri untuk mencari air.
Tanpa Abi sadari sendari tadi gerak geriknya diperhatikan seekor burung kecil.
Dari kembali berjalan ia ingin segera mendapatkan air untuknya minum.
Dari kejauhan seseorang sedang menuruni bukit ia berjalan pelan sembari membawa cangkul di pundaknya baju yang ia gunakan terlihat kotor namun wajahnya tidak menunjukan kelelahan sama sekali.
Anehnya Abi tidak melihat sama sekali orang tersebut padahal matanya menatap lurus keatas bukit.
sampai pada pertangahan jalanan lelaki yang berjalan itu bergumam sesuatu lalu meletakan tangannya keudara dan pada saat bersamaan mata Abi berbinar karena ia meliat ada seseorang yang di bukit tersebut.
dengan langkah cepat ia berjalan mendekati orang tersebut.
lelaki itu memperlihatkan wajah terkejut wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi saat matanya melihat langkah kaki seseorang semakin mendekat.
Abi tidak meliaht jelas wajah lelaki yang di datanginya kerana orang itu mengunakan topi dan berjalan menunduk memperhatikan langkahnya.
Pak.....!!! seru Abi
mendengar ada yang menyapa lelaki itu tetap tidak mengangkat wajahnya.
"maaf pak saya mau tanya dimana tempat air bersih yang bisa digunakan untuk minum...? tanya Abi sopan.
"ikuti aku.." sahutnya datar kemudian berbalik menuju ke atas bukit di ikuti oleh Abi di belakangnya.
Tidak membutuhkan waktu lama kedua sampai ke gubuk yang ingin di tuju oleh Abi sebelum.
Aneh aku berjalan berjam-jam tidak juga sampai seakan aku berjalan di tempat tapi setelah orang ini mengajakku hanya beberapa menit sampai batin Abi binggung.
"masuklah..." ucap lelaki itu acuh sembil membuka pintu.
Terimakasih pa sahut Abi sembari melihat sekeliling.
Lelaki itu mengambilkan Abi air minun dan menyerahkan padanya.
Abi menerimanya dengan sopan tanpa pikir panjang dan haus ia meminum hingga tidak tersisa.
Hanya dalam hitungan detik setelahnya kepala terasa begitu pusing pandangan matanya kabur samar-samar ia mendengar lelaki yang memberinya minum berbicara sambil lepas penutup kepalanya wajah lelaki itu begitu mirip dengan Yusuf.
"A...ayah....."cicit Abi terbata kemudian matanya tertutup dan tak sadarkan diri.
"Besar juga tekadmu anak muda tapi untuk mencapai sebuah tujuan memang harus diperlukan perjuangan." ucapnya sembari melepas penutup kepalanya.
"kau tidak bisa pergi sendiri nak tunggulah teman-temanmu sementra itu beristrahatlah dusini." Ucap lelaki itu tersenyum tipis kemudian meninggalkan Abi.
"Abi dimana kamu nak....?" seru Risa.
"Tugasmu menjaga bola kristal itu jangan sampai retak apalagi pecah atau putramu tidak akan pernah kembali." ucap sebuah suara lelaki mengagetkan Risa.
Mendengar suara gaduh Kyai Ahmad baru selesai sholat bersama yang lain segara berlari kekamar Abi.
"Siapa itu...!! teriak Risa
"Bunda ada apa...?" tanya Dewi teratai emas.
Semua menatap Risa menatikan jawaban darinya.
"Abi dimana Abi...? tanya Mars semabari melihat sekeliling.
Risa masih bertiak menayakan suara siapa yang tadi ia dengar sambil menanggis namun tidak ada jawaban satu katapun dari orang itu.
"Risa tenanglah apa yang kamu dengar dan suara siapa yang kamu dengar coba caritalah...!! kyai Ahmad mencoba menenagkan.
Dewi teratai mendekati bola kritastal yang berada ditampat tidur Abi.
Ka Abi batinnya tangannya berusaha mengambil bola kristal yang masih memancarkar sinar berwarna emas.
Dengan mata seorang dawanya Dewi teratai bisa melihat dimana kakanya berada saat ini.
"Bunda jaga bola ini jangan sampai retak atau pecah bola ini jalan kaka satu-satunya untuk kembali tanag saja ka Zahra om Mars om Wijaya dan putri Laras akan menyusul Kaka bila di perlukan akupun akan ikut serta." ucap Dewi teratai mengejutkan semua orang.
"Apa maksudmu nak...?" Tanya kyai Ahmad.
Sebelum dewi menjelaskan Sebuah cahaya berwarna putih mencul dan perlahan cahaya itu mengilang terlihatlah sosok Raden mas berada disana.
"Abi telah menemukan jalannya menuju istana sang raja iblis bersiaplah kapan saja kalian bisa tersedut masuk kedalam sebuah kristal seperti Abi." jelasnya.
"Risa tenanglah nak, semua akan baik-baik saja tidak perlu menanggis hapus air matamu Percayalah padanya." ujar Raden Mas sembari tersenyum penuh karisma.
"sekarang semuanya duduklah mengelilingi membentuk lingkaran mengelilingi kristal milik Abi." lanjutnya
Tidak ada bantahan dari semua orang merika menurut seperti kerbau di cocok lubang hidungnya.
Saat semua sudah duduk reden Mas mengajak semua menutup matanya dan dilakukan semua orang hingga sebuah kejadian aneh terjadi di sana.
Tiba-tiba saja Zahra dan Dewi sekar juga duduk disana sembari memejamkan matanya mengikuti perintah tanpa suara. Tubuh milik Dewi memancarkan sinar berwana emas sangat terang, begitu pula dengan Zahra,Mars wijaya, Dewi sekar namun semua warnanya berbeda-beda. Zahra berwana biru elemannya adalah es dan air, Mars merah dengan eleman Api, wijaya hijau elemannya racun, dewi sekar berwana unggu tanah, air cahaya, Laraati berwana putih eleman angin dan cahaya. Sedangakan Dewi teratai dan Abi berwana emas karena memiliki banyak eleman didalam tubuh keduanya.
Zahra ,Mars, Dewi sekar, Dewi teratai, wijaya dan larasati semua perlahan menghilang meninggalkan bola kristal masing- masing dengan warna berbeda-beda.
"Buka mata kalian...!" perintah Redan Mas.
Risa membuka matanya terkejut melihat banyak bola kristal dan warna berbeda-beda.
Mereka yang terpilih berarti kita bertiga bertugas menjaga bola-bola kristal ini kita juga bisa menyalurkan energi kedalam bola ini untuk memberi kekuatan pada mereka saat mereka terluka jelasnya.
Bagaimana caranya tau mereka terluka atau dalam bahaya.
Bola ini sinarnya akan meredup bila sang pemilik bola kristal terluka dan bila meredup dan bargetar bersamaan artinya sang pemilik sekarat dan akan pecah saat sang pemilik tiada jelasnya panjang lebar.
"Baiklah kami mengarti" jawab Risa di angguki kyai Ahmad.