Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Apakah jebakan..?


Tidak ada lagi yang berani membahas setelah melihat wajah tegas Kakek Han.


Mereka di persilahkan memasuki kamar untuk beristirahat yaitu kamar nomor dua.


Pagi hari terasa sangat sejuk Abi dan yang lain kini berkumpul di depan kamar nomor dua. kamar nomor dua isinya adalah sebuah ruangan besar yang yang terdapat lima kamar didalamnya dengan fasilitas bak hotel berbintang hal itu kembali mengejutkan mereka semua tantunya.


"ini benar-benar Gila gubuk ini ah.... aku tidak tau kata apa yang pantas untuk memujinya." seru Mars.


Dewi mencibir tanpa ingin berkomentar apa pun.


Seusai sarapannya pagi mereka tidak melihat keberadaan Kakek Han dan disinilah tempat mereka menunggu saat ini.


"kemana kira-kira Kakek tua itu...?" celetuk Putri Larasati


"kita tunggu bukankah tadi sebelum kita sarapan beliau meminta kita menunggunya" sahut Abi acuh.


"meski aku sangat penasaran dengan isi-isi kamar di tempat ini aku tetap menghormati pemilik gubuk andai aku lelaki yang tidak di ajarkan etika serta kesopanan sudah pasti membuka semua kamar-kamar di tempat ini untuk memusnahkan rasa penasaran ku." ungkap Mars di anguki oleh pangeran Wijaya Kusuma.


"syukurlah jangan bertindak gegabah Kakek Han Memiliki aura tidak dapat terdeteksi oleh mata Dewi ku. mungkin saja menjadi petani hanyalah sebuah pekerjaan sampingan. lihat saja gubuk penuh misteri ini ditambah dia yang terkesan misterius saat menjawab pertanyaan dari kita." ujar Dewi yang disetujui oleh Abi.


"Apa kamu mencurigai peria tua itu kaki tangan dari Iblis..? tanya Dewi Sekar Arum yang sendiri tadi hanya menyimak saja.


"tidak ada salahnya kita Waspada iblis itu tidaklah bodoh ia pasti sudah banyak menyimpan perangkap untuk musuhnya." seru Abi.


"kami mengerti. mulai sekarang kita harus berhati-hati baik dalam menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan olehnya tau pun dalam bertindak dan jangan ada yang bepergian sendiri ." Kata Dewi Sekar menanggapi.


stttttt.... "ada yang datang!!" bisik Dewi dengan bahasa isyaratnya.


tidak lama pintu gubuk yang semula tertutup terbuka dan muncullah Kakek Han dangan wajah datarnya.


"Apa kalian sudah lama menunggu..?" tanyanya sekedar ber basa basi.


"tidak terlalu lama Kek." sahut Abi di anguki oleh yang lainnya.


"sesuai janjiku kemarin kalian harus mendapatkan bekal maka mulai hari ini kalian akan berlatih di dalam kamar nomor empat.


Di kamar itu isinya adalah hutan yang kaya akan sumber daya gunakan dengan baik untuk meningkatkan kemampuan kalian waktu kalian hanya sampai pada saat padiku Penen yaitu tiga bulan dari sekarang." jelas Kakek Han masih dalam posisi berdiri.


"Kakek Han kemudian mengeluarkan beberapa botol pil lalu membagikan secara rata. gunakan dengan semestinya pil itu saat kalian kehabisan energi Qi." ucapnya.


selanjutnya ia mengeluarkan lima buah kitab ilmu beladiri tingkat tinggi memberikan pada Abi.


"kau sebagai ketua kelompok tentu tau apa yang harus kamu lakukan..? jangan serakah" tukasnya


"pergilah dan kembalilah sesuai waktu yang sudah ku tentukan." perintahnya tegas.


"sebelum kami pergi boleh aku bertanya..? seru Abi.


"silahkan.." sahut Kakek Li datar.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang kerena aku harus melihat dulu hasil latihan kalian selama waktu yang ku tentukan itu ."


"baiklah bila begitu kami permisi." pamit Abi


Kakek Han mengangguk seraya mempersilahkan dengan bahasa isyaratnya.


Abi dan yang lain segera berjalan dan menuju pintu nomor empat sesampainya di depan pintu itu terbuka dengan sendirinya. Abi melihat Mars seraya mengangguk pasti mereka memasuki kamar nomor empat sesuai semua melewati pintu Abi berbalik pintu itu sudah tidak pagi ada.


"Apa kita di jebak Kakek itu sengaja mengurung kita di hutan ini..? kata Mars seraya melihat sekeliling yang terlihat hanya hutan gelap yang nampak menyeramkan.


"kita sudah masuk kesini tidak ada yang tau jalan keluar dari sini kecuali si sang pemilik tempat ini sebaiknya kita ikuti saja hingga sampai pada waktu yang di tentukan kita kembali lagi kesini." sahut Abi sembari melihat sang adik yang terlihat santai.


"Kak Abi benar ayo masuk kedalam hutan apa ada sesuatu yang menarik perhatian kita di sana." cicit gadis berusia delapan tahun itu kemudian berjalan mendahului sang Kaka.


"tunggu Dewi berhati-hati lah kita tidak tau bahaya apa yang tersembunyi di dalam hutan itu." Abi mencoba memberi peringatan melihat sang adik menganggap apa yang ada di hutan adalah sebuah yang bisa dimainkan.


bukan mendengar gadis kecil itu justru berlari sesekali ia melompat-lompat sembari bersenandung kecil.


Abi dan yang lain segera menyusul tidak ingin jika gadis kecil itu tersesat.


"kenapa hutan ini semakin kedalam semakin berkabut." batin Abi.


"Om Mars kamu dimana...? tanya Abi menyadari Mars menghilang.


Zahra tiba-tiba terseret oleh benda tak kasat mata tanpa di sadari ia sudah terpisah dari temannya bagitu juga Mars.


"Dewi cepat kembali kakak tidak bisa melihatmu lagi.." teriak Abi.


"payah gunakan indra penglihatan Kaka dengan benar..!!" seru suara Dewi dari yang tidak terlihat di mana dia saat ini.


Abi melihat kebelakang baru ia sadar tidak hanya Mars yang tidak ada tetapi semua temannya menghilang entah kemana.


"kemana mereka gumamnya." pelan Abi mencoba memanggil semua temannya tapi tidak ada satu pun yang menyahut seruannya.


"Bagaimana aku mencari di hutan berkabut ini jarak pandangku sangat terbatas. Apa yang sebenarnya di rencanakan Kakek Han...?" batin Abi bertanya. sembari melangkah maju mulutnya kembali memanggil nama sang Adik berharap suaranya mendapat sahutan namun harapannya tidaklah terkabul.


Mengingat sang Adik memintanya untuk mengunakan indra penghilahtan dengan benar Abi menarik napas perlahan sembari duduk di atas rerumputan yang tumbuh subuh.


Abi duduk bersila seraya berdoa meminta pertolongan mulutnya tak hentinya mengucap zikir sembari memejamkan matanya.


Di sisi lain Dewi mengunakan energi Qi untuk melihat di dalam kabut sesampainya di sebuah pohon besar kembar ia menepuk pohon dengan tangan tangan kecilnya.


pohon ini sangat aneh ada lubang di tengah-tengah pohon siapa orang yang mau tinggal di dalam hutan berkabut ini gumamnya pelan.


Ia mencoba melihat dengan indra Dewinya mencari tau mahluk apa yang bersembunyi di dalam pohon kembar tersebut.


"Hah...ada farmasi berlindung di pohon ini jika aku memaksa untuk melihat itu pasti harus mengunakan energi Qi yang besar sedang aku harus menghemat energi Qi ku untuk tetap bisa melihat di hutan kabut ini" Gumamnya pelan sembari duduk di bawah pohon kembar tersebut.