Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Zahra bertemu keluarga Abi


Willem bergegas pergi dari meninggalkan Putri Arum.ia turun keruang bawah tanah membersihan lantai kotor dan semua barang yang berserakan di sana bangkai hewan yang terakhir kali menjadi pelampiasan amarahnya dimasukan kedalam plastik sampah. Hampir dua jam ia membereskan ruangan tersebut hingga layak untuk digunakan kembali.


Willem menyiapkan semua perintah Putri Arum ruang bawah tanah itu dibuat menjadi sebuah kamar pengantin dengan semua hiasan berwarna emas dan merah sesuai keinginan putri Arum.


Willem menghela napas lega melihat hasil kerja kerasnya sambil tersenyum ia keluar dari ruang bawah tanah.


Sesampainya di dalam kamarnya ia terduduk lemas pasalnya jin yang merasuk kedalam tubuhnya tak lagi mengambil alih raga yang tertinggal hanya rasa leleh yang luar biasa Willem merasa seakan tulang-tulangnya terlepas saking sakit dan lelehnya tubuhnya saat itu.


Di rumah Yusuf tamu sudah berdatangan untuk menghadiri acara tahlil. Terlihat pula Kyai Hasan Kyai  Ahmad dan Zahra memasuki rumah Yusuf disambut oleh Gio sebagai penerima tamu.


Tak berselang lama Mars juga datang sendiri ia tersenyum sembari mengucap salam kemudian masuk setelah dipersilahkan Gio.


Mars melihat Abi melambaikan tangannya ia segera menghampiri dan duduk disampingnya ada pula Kyai Hasan dan Kyai Ahmad. Mars mencium kedua Kyai tersebut.


Zahra duduk di samping Risa setelah sebelumnya ia di antar oleh Abi menemui ibunya.


"Nak Zahra mau minum apa." kata Risa.


"Tidak usah Tante belum haus." tolak Zahra.


"benar tidak haus?"


"Ia Tante Zahra belum haus." sahut Zahra.


"Nanti kalo haus kamu bilang saja nak jangan sungkan ya anggap saja rumah sendiri." ujar Risa.


"iya Tante makasih." jawab Zahra.


Keduanya tak lagi saling mengobrol karena acara sudah dimulai.


Zahra mengikuti membaca tahlil yang dipimpin oleh kyai Ahmad begitu pula dengan Risa.


Rasa kantuk menyerang Risa secara tiba-tiba ia akhirnya tertidur bersandar. Kejadian lama terulang Rohnya melintasi ruang dan waktu hingga sampai di tempat yang begitu panas seperti sebuah lembah yang di kelilingi oleh Api.


Risa menatap sekelilingnya mencari sesuatu yang membawanya datang kemari tapi belum bisa melihatnya.


Dalam hati Risa berdoa meminta petunjuk. tak lama terdengar suara seorang bayi menangis begitu kencang.


Risa berjalan perlahan mencari asal suara. rasa penasaran semakin membuatnya berjalan. Rasa panas membuatnya berhenti dan mengawasi sekitar. Mata Risa menangkap sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan, anak bayi yang tadi ia dengar rupanya sedang berada dekat sekali dengan Api, selimut yang menutupi tubuhnya sedikit lagi terbakar itulah yang menyebabkan ia menangis kencang, didekatnya ada seorang perempuan yang terikat oleh rantai api badannya dipenuhi luka cambukan bahkan wajah terlihat sangat sedih. ia ingin menolong anak bayi didepannya tapi tak mampu melakukan hingga hanya air mata yang mengucur deras dikedua matanya.


Melihat itu jiwa keibuan Risa muncul ia berjalan maju hingga sampai didepan Api yang berkobar.


bagaimana wanita dan anak bisa bertahan jika mereka seperti dikepung olah api begini aku harus segera menyelamatkan nyawa mereka batin Risa.


Di tempat lain Zahra yang berad di samping Risa menepuk pelan tangan Risa bermaksud membangunkannya. karena kyai sudah memimpin doa.


Saat kulit Risa dan Zahra bersentuhan ia merasa pusing mata indahnya terpejam untuk sesaat dapat melihat Roh Risa yang sedang berusaha menyelamatkan seorang perempuan dan juga bayinya dari kobaran api.


Zahra terperanjat ia buru-buru berbisik ditelinga Risa.


Tante jangan takut fokuslah percaya padanya Tante dikirim ke sana juga atas kehendaknya. jangan takut pasrahkan padanya. berjalanlah maju saja anggap saja yang Tante lewati hanya air ujar Zahra.


Suara Zahra terdengar jelas ditelinga Risa ia mengumpulkan keberaniannya berjalan maju matanya lurus satu pandangan yaitu tujuannya menyelamatkan bayi dan juga wanita yang terlilit rantai Api.


Zahra melilitkan tasbih pemberian Kakeknya ditangan Risa sambil berbisik ucapkan kalimat: ashadualla ilahailallah wa ashadu anna muhammadarrasulullah pukulkan kerantai yang mengikat wanita itu kata Zahra terdengar kembali di telinga Risa.


wanita itu mengangkat tasbih yang Risa pukulkan kerantai api saat tasbih itu bersentuhan dengan Api yang tadi Risa lewati Api itu padam.


setelah melewati Api Risa membawa kedua orang yang ia selamatkan ketempat semula ia muncul.


Tante berjalan kearah kanan jika Tante melihat sebuah cahaya putih yang menyilaukan masuklah ke sana perintah Zahra.


tak banyak kata Risa berjalan mengikuti petunjuk Zahra ia hingga sampai di ketempat cahaya putih yang dimaksud oleh Zahra.


Risa berjalan masuk masih mengendung Bayi dan juga Wanita yang ia tolong.tasih Zahra sudah kembali ditangan Risa dalam perjalanan melintasi waktu Risa sangat bersyukur ia dapat menolong orang lain tanpa sadari bayi dalam gendongannya menghilang masuk kedalam perutnya.


Zahra tersenyum sambil menatap purut Risa yang masih terlihat rata.


"Adik kecil terimakasih atas bantuannya aku dan ayahku memang berancana untuk menolong Tante Mawar tapi kami tak menemukan tempat rohnya di sandra."batin Zahra.


Perlahan Risa membuka matanya.


"Tante tidak apa-apa?" tegur Zahra.


"terimakasih Zahra, Tante baik-baik saja."


"Sama-sama Tante. Ayo Tante Zahra bantu bangun cuci muka dulu. makanan sudah mulai dibagikan Tante mau makan disini atau ditempat lain?" tanya Zahra.


kita makan bersama saja di dapur ajak Risa.


keduanya keluar dari kamar Abi. Risa merasa mual mencium bau berbagai makanan di dapur membalutnya terpaksa berada dikamar untungnya ada Zahra yang menemaninya.


Sesampainya di Risa menutup hidungnya dan masuk kemar mandi.


Ratih dan Umi saling pandang kedua buru-buru memasukan beberapa hidangan yang berbau menyengat.


"Nang Kamu mau makan apa?" tanya Ratih pada Zahra.


"Gak usah repot Bu samain aja dengan yang lain." jawab Zahra.


"kamu pilih sendiri aja mau danging ayam atau telur kalo mau semua juga boleh." kata Ratih sambil tersenyum.


Umi memanggil Risa.


"Nak Risa makanan kamu sudah ibu Anatar ke kamar disini masih bau nak." teriak Umi Salamah.


"makasih Bu." sahut Risa. sambil mencuci mulutnya sehabis muntah.


Risa membuka kamar mandi ia buru-buru kembali ke kamar Abi yang berbeda didekat dapur.


"Nang Siapa namanya?" tanya ibu panti duduk makan dikursi makan samping Zahra.


"Asifa Al Zahra Bu." sahut Zahra.


"namanya cantik ayo neng Asifa makan yang banyak." kata ibu panti.


"ia benar itu Nang tak perlu sungkan anggap aja keluarga sendiri mau makan berapa piringpun kami tak akan marah." ujar Umi menimpali.