
Usai menghubungi pihak kepolisian Wijaya dan Dewi segera beranjak dari tempat mereka memutuskan menunggu kedatangan petugas di depan rumah perkumpulan Sakte agar bisa masuk bersama-sama.
Dewi memejamkan matanya ingin mengetahui keadaan sang Kaka yang ditinggalkan nya bebera saat lalu.
"Jika Kaka tidak bisa membebaskan diri dari wanita iblis itu maka aku orang pertama yang mengatai Si Abimanyu bodoh." batinnya
Dewi tersenyum kecut mana kala dalam penarawanagnnya ia mendapati Sang Kaka dan Oma nya tidak sadarkan diri. Benar-benar merepotkan." decak Dewi sembari menghubungi Mars dan Zahra untuk membatu sang Kaka dan Umi salamah.
"Ada apa Dewi Wijaya?" bertanya melihat Dewi mengeruntu.
"Tidak ada, hanya masalah kecil." sahutnya sembari melihat mobil posisi menuju kearah mereka.
Lima orang polisi berbeda turun dari mobil menyapa Wijaya sekedar berasa basi.
Asap mesterius entah datang dari mana membuat penglihatan mereka terganggu bahkan ada yang terbatuk kerananya.
Iblis itu benar-benar tidak mengijinkan para abdinya tertangkap rupanya gumam Dewi ia tak gentar sedikit pun meski badan nya kecil.
"Kenapa dengan mata ku aku tidak bisa melihat." teriak salah seorang polisi sambil mengucak matanya mengunakan tangannya.
"Aku juga tidak bisa melihat." balas temannya yang lain.
Jika begini percuma kita membawa mereka merepotkan umpet Dewi sambil menarik Wijaya untuk masuk.
"Tunggu Dewi tidak akan menang melawan mereka di dalam." Ujar Wijaya ia ingin melarang Dewi masuk kedalam, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dengan gadis kecil itu.
"Jangan takut Ka Wijaya, percayalah akan ada bala bantuan untuk kita, bila pun tidak ada Maka berpasrahlah hanya kepadanya jangan ada keraguan sedikitpun." kata-kata yang keluar dari mulutnya berdengar seperti orang dewasa bahkan Wijaya sering kali di buat takjub dengan cara berpikir Dewi seperti halnya saat ini.
" baiklah aku ikut denganmu setidaknya kita berdua bisa saling tolong menolong di dalam sana." bagaimana dengan para polisi buta itu tunjuk Wijaya.
"Biarkan saja mereka diluar selagi mereka tidak masuk mereka aman Aku sudah memberi dinding pembatas untuk mereka." ungkap Dewi sambil mendorong pintu gerbang yang terkunci.
Kembali lagi Wijaya dibuat terdiam, melihat dengan mata kepalanya sendiri, Dewi mendorong pelan dengan satu tangan kecilnya pintu pagar yang terkunci itu seketika terlepas dan terbuka lebar.
Tawa renyah dari seorang wanita berparas cantik dengan gaun orange yang melekat di tubuhnya yang ramping bagai seorang model. "Kau tidak mengajakku Dewi." ucapnya sambil berjalan mendekat dengan senyum manis terukir indah dari bibir ping miliknya.
Wijaya terpana akan kencantikan wanita yang berjalan mendekati Dewi. "siapa wanita ini cantik sekali." batinnya.
"Dewi Sekar Arum terimakasih bila tujuanmu datang membantu ku." Sahut Dewi sambil berjalan masuk kedalam melewati pagar yang telah ia buka.
Dewi Sekar mengikuti Dewi teratai masuk kedalam dengan dengan langkah perlahan keduanya tidak memperdulikan Wijaya yang masih terpaku ditempat tanpa bergerak satu senti pun.
" Siapa wanita cantik itu? aku tidak pernah mendengar cerita Dewi memiliki teman wanita secantik bidadari itu, tapi dari cara mereka bertegur sapa sepertinya mereka sudah saling mengenal." batin Wijaya melupakan keadaan disekitarnya asyik dengan pikirannya sendiri sampai sebuah teriakan mengetkannya.
"KA Wijaya!!" panggil Dewi dengan menekan setiap kata sembari berteriak.
"OH apa yang aku fikikan tentang wanita itu." Umpetnya sambil berjalan dengan langkah lebar menhampri Dewi yang sudah berada di depan pintu.
Baru masuk mereka sudah mendapat sambutan hangat dari Desy yang tubuh sudah di rasuki oleh jin.
tiga orang yang belum siap terdorong mundur akibat serangan mendadak dari Desy.
Wijaya segera bangkit sambil memegang dada yang ditendang Desy.
"Kamu tidak apa-apa Dewi?" tanya Wijaya melihat Dewi yang wajah memerah.
"Jika kamu memang berani maka keluarlah dari tubuh wanita itu." tantang Dewi Sekar Arum.
"Kenapa kamu takut melukai wanita ini." tanyanya menyerigai.
"Bukan takut hanya saja kasihan." tukas Dewi Sekar.
"Dewi Sekar lupakan rasa balas kasihmu, mereka tidak pantas mendapatkan itu darimu kita harus bergerak cepat dan selanjutnya menolong Ka Abi." kata Dewi bergegas menendang balik Desy dengan kaki kecilnya.
Desy diam dalam pikirannya tendangan kecil Dewi tidak akan mampu membuatnya terjatuh palagi terluka, namun sayangnya ia harus kecewa mendapati kenyataan kekuatan kaki kecil Dewi membuatnya terlempar sampai dadanya terasa remuk dari dalam dan memuntahkan darah segar cukup banyak.
"jangan menganggap lawan kecilmu ini lemah Nona." Ketus Dewi ia kembali menginjak dada Desy hingga terpaksa Jin yang berada dalam tubuhnya keluar merasa tubuh yang di tempatinya terlalu lemah dan menyusahkan.
Dewi Sekar yang melihat tidak menyiakan kesempatan segera mengurung jin tersebut kedalam botol hisap yang sudah ia siapkan, berapa makhluk astral lain yang berada didekat mereka juga ikut masuk karena tidak mampu melawan saat tersedot masuk kedalam botol.
Sementara Wijaya melawan beberapa arwah penasaran dirumah tersebut.
Ayo keruag bawah tanah ajak Dewi.
"Tunggu biar saya memimpin." Sahut lelaki paruh baya yang kemarin malam menolong Wijaya tidak ada yang tau kapan ia datang.
Semara mereka dalam perjalanan menuju ruang bawah tanah berapa mahluk astral dan jin menghalangi jalannya sehingga terpaksa harus melawan terutama Lani yang menjadi pemimpin mereka.
DI tempat lain Abi masih berusaha melepaskan diri dari Wanita berparas cantik yang tidak lain adalah Putri Arum yang memakai mantra pemikat untuk menarik perhatian Abi.
"Abi kenapa kamu harus melawan aku, bagaimana jika kita bekerja sama aku akan menjadi ratu pemimpin dunia dan kau bisa menjadi fatihnya nanti." tawar Putri Arum.
"tidak." Sahut Abi tetapi suaranya tetap saja tidak bisa keluar seperti ada yang menahan di tenggorokannya.
"Aku berjanji akan membuatmu bisa leluasa bergerak dan berbicara bila kamu menyetujuinya." lagi lagi Putri Arum menawarkan sebuah kerja sama.
"Kau tau Abi semua yang kamu pelajari itu hanya akan menjadi sia-sia, kau hanya membuang waktumu sia-sia. Lihatlah sekarang ini apa ada yang menolong kamu? Tidak ada Abi, hanya aku yang bisa menolong kamu saat ini. mari bergabung dengan aku." ucapnya
"Baca saja doa terus minta saja terus bila mulut dan hati tidak sama percuma saja." tutur Putri Arum sambil meraba dada Abi yang masih mengunakan baju kaos.
"Astagfirullah." batin Abi menyadari kesalahannya. tanpa permisi air mata Abi menetes memohon ampun.
Abi menyesali kesalahannya ia merasa dirinya hebat dan kuat dan yang paling parah ia melupakan semua ilmu dan kekuatannya berasal dari Yang maha memberi.