Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kecewa


Gangguan demi gangguan datang tanpa henti Dewi, Abi, Zahra, dan juga Mars tetap teguh dengan janji mereka tidak membuka pintu Pondok.


Bahkan sempat terdengar oleh mereka suara orang berteriak kebakaran di dekat pondok. Zahra sempat ingin berlari begitu pula dengan Dewi namun lagi-lagi mereka mampu meyakinkan diri sendiri bila itu hanya siasat iblis untuk menggagalkan Rencana mereka.


Hingga waktu pun bergulir, terdengar suara orang mengaji di mesjid terdekat, barulah gangguan demi gangguan itu menghilang hal itu membuat ke empat orang yang mengerjakan tirakat bernafas laga. bacaan mereka juga sudah selesai, namun harus menunggu azan subuh baru boleh membuka pondok.


Beberapa saat kemudian suara Azan subuh berkumandang memanggil setiap umat muslim baik yang sedang terlelap maupun yang terjaga untuk menjalankan kewajibannya sebagai hamba.


Abi dan kawan-kawan keluar dari pondok dan segera di sambut Kyai Ahmad mereka di beri minum air putih dan di ajak sholat berjamaah. sementara itu Ustazah Halimah sudah menyiapkan makanan yang lezat mereka di meja makan.


Di lain tempat.


Risa terbangun mendengar suara putrinya memanggil-manggil namanya di depan rumah.


Dengan mata mangantuk Risa berjalan ke depan pintu utama untuk membuka pintu, sesampainya di depan pintu dan membukanya, ia tidak menemukan keberadaan sang putri. dengan rasa penasarannya Risa berjalan menuju halaman rumahnya tanpa ia tau tiba-tiba seseorang memukul punggungnya dengan sebuah balok kayu.


"Ahhhhhkkkkkk." jerit Risa menggema sampai kedalam rumah.


Mendengar suara orang menjerit Yusuf yang baru saja selesai berwudhu serkejut ia segara berlari kedepan rumah, ia tau istrinya tadi membuka pintu untuk putrinya sedang ia pergi berwudhu.


Yusuf berlari keluar dan mendapati sang istri sedang berkelahi dengan empat orang peria asing mengunakan penutup wajah.


Risa tidak pingsan saat di pukul kuat justru rasa kantuknya yang hilang kerena terkejut.


Risa yang sekarang bukan Risa yang lemah, ia sudah banyak belajar ilmu bela diri. empat orang bukanlah apa-apa baginya apa lagi di tambah bantuan Yusuf namun sepertinya hari ini dia sedikit bersandiwara begitupun Yusuf.


Risa sengaja mengalah atas perintah Yusuf dengan bahasa isyaratnya.


"Aku menengarti Mas kamu pasti ingin membantu anak-anak kita, orang ini pasti suruhan dua orang manusia barhati Iblis itu. dengan izinmu aku akan mencari informasi kelemahan para dayang-deyangnya dan seberapa kuat mereka saat ini." batin Risa tersenyum ke sedikit ke arah Yusuf.


" Aku berharap kamu berhasil istriku, mereka datang dengan sendirinya tanpa susuh kita memancingnya ini kesempatan bagimu Sayang." batin Yusuf kedua berbicara lewat tatapan mata.


Yusuf juga berpura-pura lemah dan tidak bisa menolong sang istri yang di seret paksa oleh dua lelaki berbadan kekar menjauh darinya.


Sementara dua lelaki yang lain menendang Yusuf yang sudah tersungkur di tanah.


"Kami akan melepas Istrimu bila kamu menukarnya dengan Putramu." ujar lelaki itu tegas.


Risa dibawa ke sebuah laboratorium milik William yang terletak disebuah rumah kosong dibawah rumah terbengkalai itu ternyata ada laboratorium dengan fasilitas lengkap .


" Baringkan dia disana. "perintah suara seorang lelaki tua.


" William." batin Risa wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


" Risa kau adalah istri dari Dokter Yusuf, tidak heran kulitmu begitu terawat, bentuk tubuhmu begitu Indah di tambah lagi kakimu yang tanpa cacat sedikitpun kau bangai berlian yang begitu berkilau di kota ini." Ungkap William.


Risa memutar bola matanya janggah mendengar penuturan William.


" Bila kau penasaran kenapa aku menculikmu, maka aku dengan senang hati memberimu jawaban Nona Clarissa. Aku tertarik menjadikanmu sebagai kelinci percobaanku, aku baru saja membuat sebuah Body lation dan kaulah orang pertama yang mendapatkan kesempatan langka mencoba hasilnya." senyum William begitu mengambang selesai mengucapkan kalimat itu.


" Berbaringlah yang manis." ujarnya sembari mengambil sebuah botol yang berisi produk kecantikan yang baru ia buat.


" Tunggu." ujar Risa membuka suara.


" Ada apa? Diamlah ini tidak akan menyakiti kamu." tukas William menengkan.


"Bukan begitu Tuan William tubuhku berdebu dan berkeringat sebaiknya aku membersihkan diri dulu agar hasilnya tidak mengecewakan Anda." kilah Risa.


"Kau Benar baiklah nunggu sebentar asestenku akan menyiapkan keperluan untukmu membersihkan Diri." ucapnya sambil berlalu dan memanggil seseorang.


Risa menarik napas lega, pasalnya ia tau kemampuan William adalah Menbuat racun untuk itulah ia mencari alasan untuk menolaknya paling tidak sementara Waktu.


William berbicara serius pada asestennya tidak lama sebuah panggilan telpon masuk. William mengangkat telpon sambil berjalan menuju sebuah kursi.


Di Kantor Devan terkejut mendapatkan laporan dari salah seorang anak buahnya.


"Kau Yakin yang membawa Risa itu orang yang bekerja dibawa perintah Daddy?" tanya Devan memastikan.


"Saya sangat yakin Tuan, ibu Risa dibawa ke laboratorium milik Ayah Anda." Sahut Ornag tersebut.


"Baiklah kau cari celah agar aku bisa masuk kedalam laboratorium itu secepatnya, aku harus menolong Risa!" perintah Devan.


"Itu terlalu berbahaya bagi anda Tuan apa anda sangat yakin ingin menolong Ibu Risa?" tanya Ornag kepercayaan Devan itu.


"Ya kita harus menolong dia, aku takut Ayah menjadikan bahan untuk percobaannya itu pasti merugikan Risa." Sahut Devan.


"Baiklah saya akan membantu anda sebisa Saya tuan." Ujar Orang tersebut ia berpamitan pada Devan segera mengerjakan tugasnya atas perintah Devan.


Di Pesantren Al Azam.


Dewi tampak begitu marah mana kala seluruh ilmu supranatural miliknya hilang usai mejalan tirakat sesuai perintah Kyai Ahmad.


" Apa maksudmu sebenarnya Kakek tua, kau ingin kami menjadi lemah dan kalah dari musuh apa itu tujuanmu." pekik Dewi.


"Tenang Nak, saya sendiri tidak Menduga hasilnya seperti ini, saya meminta kalian membersihkan diri juga atas petunjuk yang saja dapat sebelumnya." jelas Kyai.


Walau hanya Dewi yang berkoar-koar tapi Kyai tau Abi, Mars, dan Zahra juga kecewa dengan hasil yang mereka dapat.


" Bila begini sudah pasti kami akan kalah, apa kamu berada di pihak musuh?" kembali Dewi bertanya dengan nada yang tidak bersahabat.


Kyai menghela napasnya seraya menjawab.


"Saya tidak pernah berpihak pada musuh, percayalah padaku bila hasil yang kalian dapat saat ini inilah yang terbaik untuk kalian." Sahut Kyai berusaha tenang tidak terpancing emosi.


Hahhahaahah. Dewi teratai tertawa sumbang.


"enak sekali kamu berbicara, sebaiknya kamu sendri yang menghadapi kegilaan putri Arum dan antek-anteknya kami yang lemah ini sudah angkat tangan." ujar Dewi kemudian menarik Abi pergi dari sana.


Nak Abi ibu kamu di bawa oleh William ke laboratorium miliknya sontak hal itu membuat Dewi menghantikan langkahnya.


" Kenapa harus kami yang menolong? kau yang memiliki dua mustikaku yang memiliki ilmu kanuragan selamatkan ibuku." perintah Dewi


"Dewi. " kata Abi


Kembalikan mustika mereka milikku minta Dewi ia kembali mendakati Kyai Ahmad


"Kalian masih memiliki ilmu bela diri tolonglah Ibunda kalian nak." ujar Kyai mengusap kepala Dewi.


Usapan itu sekatika membuat Dewi merasa tenang dan detik berikutnya ia tiba-tiba menghilang dari pandangan mata Abi dan kawan-kawannya.


"Adikmu sudah berada di tempat ibumu." kata Kyai Hasan yang entah kapan muncul di antara mereka.