
suasana disebuah bandara internasional kairo yang awalnya tenang tiba-tiba berubah, suara derap kaki orang-orang berlarian dan suara teriakan terdengar jelas ditelinga, wajah panik dan takut menjadi pemandangan saat ini.
suara ledakan bom yang tanpa ada peringatan membuat semua berhambur menyelamatkan diri masing-masing, tapi tidak dengan para anggota kepolisian dan Adam mereka berlari kearah suara ledakan terdengar.
Ammar (seorang polisi) dan Adam sudah berada di lapangan pesawat tetapi masih menjaga jarak dari tempat terjadinya ledakan.
api dan asap masih menjadi pemandangan utama mata mereka saat ini.
pa Ammar segera menelponĀ pemadam untuk membantu memadamkan api.
seorang wanita muda belari menghapiri pa Ammar dengan terburu-buru.
"pa..... i-ni untuk bapa da-ri seseorang." tangannya bergerak menyerahkan sebuah buku kecil, wanita itu berbicara dengan terbata-bata sambil mengatur nafasnya yang terengah.
"Dari seseorang ?" pa Ammar mengulang kata yang di ucapkan wanita muda didepannya.
"aku mengejar orang yang memintaku menyerahkan buku ini pada polisi,karna harus pulang dan tak bisa membantunya, tapi orang itu berlari sangat kencang ke lapangan pesawat, dan tiba-tiba terdengar suara ledakan tepat di tempat orang yang menyerahkan buku ini padaku berdiri, aku melihat kejadian itu berlangsung sangat cepat.
pa Ammar menganggukan kepalanya mendengar penjelasan wanita muda yang berdiri didepannya.
"jadi kesimpulan dari cerita anda adalah laki-laki yang menyerahkan buku ini melakukan bom bunuh diri ?" tanya pa Ammar.
"benar pak." sahut wanita muda yang berdiri didepan pa Ammar.
"baiklah, terima kasih nona jika kami memerlukan kesaksian anda dikantor polisi kami akan memanggilmu kembali."
setelah asap dan api mualai padam Adam dan beberapa anggota kepolian mendekat ke tempat terjadinya ledakan.
bau gosong sangat menyengat memasuki indra penciuman mereka.
"sepertinya bom bunuh diri" ucap seorang polisi, setelah mencium bau yang tentu tidak asing bagi mereka
"iya bau daging manusia yang hancur terbakar akibat ledakan." sahut rekan kerjanya.
Adam hanya memdengarkan pembicaraan mereka tanpa berniat menimpali, matanya terus saja mencari petunjuk yang bisa menyakinkan dugaanya jika lelaki paruh baya itulah yang melakukan bom bunuh diri ditampat ini.
"Adam kemarilah !!" seru pa Ammar.
Adam melirik sekilas kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati pa Ammar.
"liahatlah dan bacalah tulisan ini" pa Ammar menunjukan sebuah buku catatan kecil pada Adam.
Adam membaca dengan pelan.
Maafkan saya, saya tidak bermaksud menembak anak yang melukis dipameran itu. target saya saat itu berada dekat dengan korban.
saya terpaksa melakukan ini karna anak dan istri saya menjadi sandranya.
berhati-hatilah pak.....
ada seseorang yang mengincar kedudukan anda saar ini.
ingatlah pesan saya ini !!
yang terlihat baik belum tentu baik, dan sebaliknya yang terlihat jahat belum tentu jahat.
Adam terdiam beberapa saat sambil memijat pelipisnya pusing.
lagi-lagi ada yang mengincar nyawaku. dia benar nekad merancanakan segelanya dengan matang, tapi sayang yang maha kuasa melindunggiku hingga saat ini. manalog Adam.
"apa anda tau siapa orang yang di maksud ditulisan ini ?" tanya Pa Ammar.
"sayalah orang yang seharusnya tertembak" sahut Adam.
"Anda punya musuh ?"Ammar bertanya sambil menatap Adam.
" saya tidak memiliki masalah dengan siapapun, saya menjadi ketua asusiasi seni dunia karna murni pilihan masyarakat." jawab Adam.
"tidak pak saya tidak tau." sahut Adam singkat
Bara dan Pa Ahmad datang kebendara kembali, karna beberapa menit sebelummya Amamr menelpon pa Ahmad.
"Apa yang terjadi ?" tanya Bara..
"sebuah bom bunuh diri meledak di sini" jawab Ammar.
Bara sebaiknya kita kembali kerumah sakit aku ingin memestikan keadaan anak itu baik-baik saja.
"pak Ahmad jika anda perlu kesaksian kami maka hubunggilah saya, ini kertu nama saya." ucap Adam sambil menyerahkan sebuah kartu nama.
"baiklah terima kasih atas kerja samanya hari ini." ucap Ahmad.
flasback off
Yusuf meyuapi Abi makan sambil mendengarkan cerita dari Adam dan Bara, ia menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Adam mendekati Abi yang bersandar diranjang pasen bersama Yusuf yang berada disampingnya.
"nak saya ingin mengucapkan terima kasih padamu karna menyelematkan saya." ucap Adam ramah.
"tidak perlu berterima kasih pada Abi pak, mongkin hanya kebetulan saja." sahut Abi bijak
"tetep saja anak saya meresa bersalah padamu andai saya tak mendekatimu saat itu mungkin kamu tak akan terluka." raut wajah Adam penuh penyesalan.
"ini hanya luka kecil pak kaki Abi dan tangan kanan Abi masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa, dan Abi juga senang karna Abi bisa menolong Bapa saat itu."
"menolongku? apa kamu melihat peluru itu ?" tanya Adam curiga
"entahlah Abi lupa heeee." sahut Abi sambil tertawa memperlihatkan gigi kecilnya yang tersusun rapi.
Adam tediam mendengar jawaban Abi.
Anak ini seperti menyembunyikan sesuatu apa mongkin ia sengaja berdiri tepat pada waktu peluru itu ditembakan ke Arahku, jika dia menyambut uluran tanganku tanpa berdiri mongkin peluru itu akan mengenaiku. monalog Adam
Yusuf yang melihat Adam terdiam menepuk bahu Adam sambil berucap, "sudahlah jangan dipikirkan lagi anggap saja itu adalah takdir yang sudah digariskan untuk Abi."
"bagimana dengan pamerannya setelah kejadian itu.?" tanya Yusuf mengalihkan taopik pembicaraan mereka.
"saya membatalkan acara pameran dan lomba secara sepihak, karna takut kejadian lain yang tak diharapkan terjadi." ujar Adam.
Yusuf melihat ke Arah sofa dan mendapati Bara sedang tertidur sambil bersandar.
"jadi karya yang Abi buat tidak jadi dilelang?" ucap suara cempeng Abi terlihat raut wajah penuh kekecewaan.
"karyamu sungguh luar biasa indah nak, dan saya sebagai pencinta seni sangat kagum akan kemampuan yang kamu miliki ini." ucap Adam ramah
"percuma saja bagus jika tidak ada yang mau memelinya." ucap Abi kecewa.
"Abi kita bisa ikut lagi tahun depan nak" ucap Yusuf memberi semangat sambil membelai rambut Abi dengan penuh kasih.
"saya tertarik dan akan membelinya berapa kamu akan menjualnya?" tanya Adam sambil tersenyum
"karna saya satu-satunya seniman muda yang membuat kaligrafi dalam waktu capat maka saya akan menjual karya saya dengan harga tinggi." ucap Abi berbicara seperti peria dewasa.
"sebutkanlah berapun itu mengingat kamu yang bahkan rala hampir kehilangan nyawamu, uang sebanyak apapun tak akan dapat menukar nyawa seseorang." sahut Adam bijak.
"500 juta." ucap Abi polos dengan senyuman manis tersungging dibibir munggilnya.
tanpa pikir panjang Adam bahkan mengatakan "saya beli 700 juta tapi dengan catatan kamu tidak boleh lagi membahayakan nyawamu demi menolong seseorang yang tidak kamu kenal."
"good job." Abi pekik Bara membuat ketinga orang yang mendengarnya saling lempar senyum melihat kelakuan Bara.
"om Bara apa telinga om Bara tidak ikut tidur saat om Bara tertidur?" tanya Abi penasaran.