
Willem menatap sang putra yang masih mengerakan tangannya didepan leptopnya.
"Def ayo kita makan diluar barsama." ajak sang Ayah sambil melirik anak semata wayangnya.
Defvan membuang napasnya kasar sambil menatap sang Ayah.
"Baiklah tapi aku tak ingin Deddy mengajak wanita itu." sahut Defvan.
"Def sampai kapan kamu menyalahkan dia atas kematian ibumu, itu tak ada sangkut pautnya sama sekali." ucap Willam menatap mata Defvan.
"Dia menyanggimu seperti anaknya sendiri Def, terimalah ia sebagai ibumu." lanjut Willam yang melihat Defvan tak menanggapi ucapannya.
"dia bukan ibuku." sahut Defvan ketus.
"dia memang bukan ibu kandungmu, tapi dya sudah merawatmu sejak ibumu tiada." jelas Willem.
"Aku curinga daddy memeng memiliki hubungan dengannya sebelum meninggalnya mommy. tatapan Defvan tajam satu arah yaitu bola mata sang Ayah.
"Apa maksudmu sebenernya Def?" tanya Willem takpa ekspresi.
"bukahkan otak Deddy cukup pintar memcerna semua perkertaanku."
jangan menyimpulkan sesuatu dari sudut pandangmu sediri Def
"meski aku kecil saat itu, aku bisa melihatmu memerhatikan wanita itu berbeda dari pekerja rumah lainnya. saat makanan yang ia masak enak maka kau akan memujinya dan bahkan membirikan gajih labih." cerita Defvan.
"aku melakukan itu semata agar ia lebih bersamangat lagi bekerja saat itu." sahut Willem.
"kau tau Deddy gosip kedekatanmu dangan wanita itu sampai ketelinga mommy, saat mommy bertanya pada wanita itu ia menjawab, kau pemperkejakannya dirumah agar bisa menjaga dan memperhatikannya setiap saat.
Defvan menjeda ucapannya sebentar meliahat wajah sang Ayah.
"aku hanya menolongnya saat itu, dia dikejar rentenir karena hutang untuk pengubatan ibunya. aku rasa rumah kita cukup aman untuknya besembunyi saat itu." sahut Willem datar
ibu sangat sedih setiap ayah pergi kekantor ibu menanggis dalam diam.
"aku yang masih berumur 6 tahun selalu memperhatikan sikap Marcella yang tersenyum senang ketika melihat mata bengkak dan wajah murung mommy." ucap Defvan sambil menarik nafasnya
"Marcella bahkan terang-terangan menceritan jika kau memuji setiap masakan yang ia buat. kau yang menanyakan terus kesehatan ibunya dan membiayai pengobatan ibunya." aku memperhatikan sikapmu dalam diam ungkap Defvan.
"semakin hari kondisi mommy semakin memburuk ia bahkan mengurung diri dikamar agar tidak mendengar banyak cerita dan gosip dari para pekerja ruamah."
"sampai saat dimana Marcella mengantarkan makanan kemar ibu. kejadian itu bermula." cerita Defvan
"kejadian apa maksudmu Def? tanya Willam penasaran.
"ibu menjadi aneh ia kadang suka berteriak dan tertawa sendiri kadang ia juga ketakutan seperti melihat sesuatu yang mengerikan." sahut Defvan
"tapi anehnya saat Deddy ada dirumah kajadian aneh itu tak dilami Mommy." lanjutnya
"jangan mengada ngada Def." sahut Wllem menatap tajam.
"itulah kenyataannya Dad! apa kau tak melihat kejanggalan yang terjadi saat melihat kondisi jenazah Mommy?"
"setengah kaki kiri membiru begitu pula tengkok belakangnya dan tangan kirinya matapun melotot." Ucap Defvab mengingat kembali kundisi terahur ibundanya kala itu.
"bukankah dokter sudah mengatakannya saat itu, jika ibumu digigit oleh binatang beracun hingga menyebabkannya membiru." sahut Willem.
"bagaimana bisa binatang beracun ada didalam rumah? sedangkan rumah selalu dibersihkan setiap hari" tukas Defvan.
"jadi kau menyimpulkan jika ibu sengaja dibunuh oleh seseorang?" tanya willem.
"Yes, Deddy, aku akan tetap mengungkap misteri dibalik kematian mommy."
"aku tak melangmu tapi jangan kau libatkan Marcilla!!. sahut Willem tengas
Defvan tersenyum miring mendangar. larangan Willem.
"Ayo Ded bukankah kau mengajakku makan?" tanya Defvan memilih mengalihkan taupik pembucaraan
Di kediam Umi salamah.
malam ini langit berhias bintang Abi memadang langit dari jendela kamarnya, harinya terasa sepi tenpa omnya Gio sudah kemabli keluar kota untuk meneruskan pendidikannya,
Toko risa sudah dua hari ini buka mereka sangat kewalahan meski baru tiga hari kue yang di buat Abi dan Risa selalu habis di borong pembeli.tentunya keduanya sangat senang.
besok mereka harus bekerja Ekstra karena ada yang memesan untuk kue pengantin ukurannya cukup besar.
Abi mengingat perkataan Bundanya kala itu.
"nak pa Defvan ini adalah Ayah kandungm."u ucap Risa kala itu.
"kenapa ia baru datang dan hadir dihidup kami saat sudah ada Ayah yusuf." gumam Abi pelan.
"bagaimana jika dya menaggambilku dari ibu?" tanyanya dalam hati.
"Bukankah ia memiliki satu anak perempuan, dan anak itu jelas tak menyukaiku, aku tidak akan mau ikut dengannya." Batin Abi.
setelah puas melihat bintang sambil melamun Abi menutup jendela dan naik keatas kasur empuknya, tak menunggu waktu lama iapun terlelap.
Dikamar lain Umi dan Ratih saling mengobrol.
"Bagaimana bu Ratih betahkan tinggal disini?" tanya Umi.
"Ya saya suka sekali tempat yang sejuk seperti ini berasa masih ada dikampung." sahut Ratih.
"saya memang sengaja menanam banyak pohon dan bunga serta sayur agar rumah ini berasa sejuk dan nyaman selain itu hasilnya juga bisa dinikmati sendiri bahkan dijual." jelas Umi.
"ia ya kenapa dulu saya gak kepikiran bagitu, Ac dari alam justru lebih sehat dan sejuk dibanding Ac listrik." sahut Ratih.
"Yusuf berancana ingin membeli rumah di samping mushola yang rumah cat orange itu." ungkap Umi.
"Rumah tungkat dua itu?" tanya Ratih.
"ia bagamana menurut bu Ratih?"
"kalau saya sih terserah anak-anak saja Umi." sahut Ratih.
"saya maunya Mereka tetap disini kan sepi nanti rumah ini jika mereka pindah." ucap Umi dengan wajah sedih.
"benar juga nanti tak ada lagi suara ucehan dan ceramanya Abi setiap pagi." sahut Ratih.
"jika mereka bersikeras membeli rumah, lebih baik membiarkannya lagi pula ruamah tidak terlalu jauh kita bisa membawa Abi setiap hari kesini." lanjut Ratih.
"Ya kamu benar bu Ratih."
"oh ia tadi Abi mengatakan ingin membuat kue dengan berbagai bentuk menarik apa Umi setuju idenya?" tanya Ratih.
"Abi itu anak yang kreatif saya yakin hasilnya tak akan mengecewakan, ia bahkan bisa menyalurkan bakat seninya pada kue-kue olahannya." sahut Umi.
Ratih menjawab dengan anggukan kepalanya.
liatlah besok kejutan apa yang akan dia tunjukan pada kita.
"maksudmu?" tanya Ratih tak mengerti.
"Abi berani menerima pesanan kue ulang tahun yang besar pasti ia sudah memikirkan bagaimana ia akan menghias kue itu agar terlihat cantik dan menarik saat dipandang mata." jelas Umi.
Ratih diam mendengar ucapan Umi salamah.
anak itu Jenius otak kecilnya itu dapat berpikir jauh di atas kemampuan anak-anak pada umumya. gumam Umi
Jenius apa anak Jenius jaman sekarang masih ada. gumam Ratih pelan namun masih bisa di dengar Umi.
tentu saja ada, suamiku dulu juga termasuk orang yang jenius karna kepintaran itu ia menjadi seorang Ahli kimia dunia dan karna itu pula ia berkali-kali nyawanya terancam. ia juga memiliki banyak musuh yang ingin menjatuhkannya.