
wanita paruh baya memandanggi air jernih di sungai yang tampak dalam.
rakit ini akan membawaku kesebrang disana aku busa memetik banyak buah-buahan segar ucapnya lirih.
jika kamu sampai sesebrang sana maka maku tidak lagi bisa bertemu cucu dan anakmu pikirkanlah ucap seornag laki-laki paruh baya telihat sedang berada di sebuah kapal seperti nelayan.
"Umi salamah kaget kapan laki-laki tua itu datang sendari tadi ia merasa sendirin. di atas rakit dan tak ada kapal satupun. aneh sekali tempat ini." gumamnya.
"Oma kemarilah Ayo palang terdengar kembali suara Abi." berteriak memanggilnya.
"Abi tunggu disana nak Oma akan pulang." teriak Umi lantang sambil melompat kedalam air sungai.
laki-laki paruh baya dikapalnya dampak menarik sudut bibirnya tak lama kapal serta dirinya menghilap bak ditelam ombak.
Umi tak lagi memperhatikan sekitar ia beranang untuk kembali ketempat semula.
Sesampainya didaratan ia segera naik memanggil nama cucunya.
Abi.... Abi dimana nak teriak Umi sambil memberhatikan sekitar ia berdiri dan berjalan sampuyungan kerna leleh berenang.
Abi berjalan mengahampiri Umi lantas ia segera merangkul pindak Umi dan membawanya kesuah pintu yang terlihat bercahaya menyilaukan.
Abi dimana kita tanya Umi milahat sekeliling seperti sebuah kamar yang begitu asing dimata Umi salamah.
Abi hanya tersenyum kemudian ia menuntun Umi duduk di sebuah kursi goyang.
"tananglah Uma kita berada ditempat yang Aman, oma harus menunggu disini sampai Abi menemukan bunga dan beberapa tanaman langka untuk mengobati fisik Oma yang terserang." virus jelas Abi.
"tapi ini dimana tanya Umi. diruamahku alam yang selalu disebut hidup berdampingan dengan Manusia seperti kalian." ucap Raden Mas memunggunggi dan Abi tanpa mau menunjukan wajahnya.
"Siapa kamu?" tanya Umi melihat punggumg Raden Mas.
"Tananglah Oma Kekek buyut bukan orang jahat. dulu saat Abi koma kakek buyutlah yang membawa Abi tinggal disini dan memanggil Ayah yusuf untuk membawa Abi kembali." ucap Abi sambil tersenyum.
"carilah penawar dari virus itu Nak nenekmu hanya bisa berada disini selama 40 hari tidak boleh lebih" tukas Raden Mas.
"Iya tentu saja Kek, akan Abi cari secepat mongkin lalu membuat Vaksin tersebut ungkap Abi dengan bersungguh-sungguh.
jika kamu berada dihutan itu tajamkan indra pendengaran dan penglihtanmu jagan sampai kau lengah dan berahir diterkam binatang buas. pesan Raden Mas.
"Baik kek!" sahut Abi singkat
"bagus sekarang kembalilah nak." perintah Raden Mas.
Abi berjalan ke arah sebuah pintu lalu membukanya dan menghilang seketika.
Umi yang menyaksikan itu menganga dengan mulut terbuka.
Redan Mas tersenyum simpul kemudian berlalu pergi.
"Apa yang kulihat berusan hanya hanya halusinasi." gumam Umi sambil mengucak kedua matanya untuk mestikan penglihatannya.
Di sisi lain Abi membuka matanya tak lama ia menarik sudut bibir membentuk senyum tipis.
"Aku sudah tak sabar menjalajah hutan mencari bunga itu." gumam Abi sambil menatap jam dinding.
suara ayam berkukuk terdengar membangunkan beberapa orang yang sedang terlelap dan bahkan mungkin ada yang masih didalam alam mimpi begutu pula dengan Abi ia mengerjabkan matanya perlahan hal partana yang ingin ia lihat adalah jam dinding.
Yes!! serunya senang dengan wajah berbinar layaknya anak yang beru dapat mainan baru.
"Manfaatkan dengan baik waktumu Abi cepat bersiap." tegur Rubah melalui telipatinya.
"Astaga apa rubah itu selalu nebgawasiku selama 24 jam." ucap Abi berbicara aendiri.
selesai mandi Abi segera turun untuk sarapan bersama.
selamat pagi Bunda. Abi mencium aroma nasi goreng masakan ibunya segera duduk di kursi meja makan.
tak lama yusuf ikut bergabung duduk di kursi dan menyantap nasi goreng buatan sang istri.
"Abi nanti kamu Ayah antar ya." ucap Yusuf sambari meminum air putih.
"terimaksih Ayah." sahut Abi sembil meletakan senduk dan garfu kepiring yang sudah tak tersisa satu butirpun nasi.
"Abi kamu tidak ingin nambah?" tanya Risa melirik sekilas sang putra.
"sudah Bunda ditambah minum susu Abi kenyang." ucapnya.
"Abi mau kemar dulu Yah mau cek perlengkapan yang harus Abi bawa." ungkap Abi.
"iya nak, nanti Ayah tunggu dibawah saja nak." sahut Yusuf tersenyum simpul.
Di tempat lain Ratih baru saja terbagun dari mimpi buruk yang di alaminya.
"ahhhh kenapa aku bisa bermimpi seperti itu. apa kamu baik-baik saja Mas Hermawan." gumam Ratih sambil mengingat kembali ayah dari anak-anaknya.
Ratih melihat jam diatas nakas ia tesetak kangat melihat jam sudah munujukan angka sembilan. "kenapa Risa tak membagunkanku."
keluhnya beranjak bergi kekamar mandi.
Di sisi lain Abi yang di antar Yusuf kesokah sedang turun dari mobil sang Ayah.
"Ayah, Abi titip jagain Bunda." ucap Abi tulus.
"tanpa kamu minta Ayah selalu menjaga Bunda nak. ingat pesan Ayah kemaren." sahut Yusuf.
"tentu Yah meski sibuk Abi tidak akan melupakan makan." jawab Abi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah ayah Bantu membawa tasmu itu teman-temanmu sebagian sudah masuk Bus." tukas Yusuf sambil melihat beberapa anak masuk kedalam Bus yang sudah di siapkan pihak sekolah.
"terimakasih Ayah." sahut Abi sambari berjlan mengikuti Yusuf menuju Bus yang akan membawa ia beserta teman-teman sekolahnya ke gunung ijo.
setelah memastikan putranya masuk dan duduk di tempat Aman yusuf segera berpamitan pulang tak lupa ia meminta pihak sekolah yang mengadakan acara kemah, mengawasi anaknya.
sepenjang perjalan Abi dan teman-temannya bercanda gurau ada pula yang bernyanyi riang. sesekali Abi tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya.
"Abi aku dengar tak kita yang berkemah disana ada juga dari sekolah lain?" ucap Raja(teman sekolah) disela obrolanmya bersama Abi.
"Ya Abi dengar dari kak jenny(kakak kelas sekaligus pembina paramuka disekolah Abi) juga begitu." sahut Abi sambil menatap keluar melaui jendela Bus.
"bagus dong kita jadi bisa kenalan sama banyak cewe cantik." ucap Boy menimpali.
"Boy jagan kamu jadikan anak cewe sekolah lain sebagai korbanmu." ucap Caca ikut menimpali.
"emang apa yang kulakukan mereka yang menyukaiku jadi aku mengunakan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan dari mereka." sergah Boy dengan mencibirkan bibirnya.
"Caca benar Boy kasihan cewe-cewe itu mereka masih meminta uang dari orang tuanya jangan kamu minta lagi hanya untuk memenuhi semua inginanmu." ucap Abi menesihati.
"Hey Abi aku tidak pernah memaksa mereka mereka sendri yang mau." pekik Boy sewot tak mau disalahkan.
"Intinya apa yang kamu lakukan tidak baik boy berhentilah sebelum wali murid yang kau manfaatkan itu mendatanggi dan memerahimu." ucap Caca (teman sekelas Abi).
"Adik-adik kaka mohon perhatiannya sebentar." ucap kak Jenny di kursi depan dengan mengunakan pengeras suara.