Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
subuah tindakan


Hasan dan Akbar terkejut apa yang diucapkan oleh Ibu dari sahabatnya tersebut.


"kang ujang( tukang kebun Wiraja) melihat semua kejadiannya di balik celah pintu mintalah bantuannya untuk membebaskan Marcello." perintah Wiraja.


"tunggulah beberapa hari kang ujang masih syok melihat kejadian naas itu, bertindaklah dengan wajar jangan membuat Jiwa iblis itu bangkit dan menghabisi Ujang." ucap Raden Mas menimpali.


"sudah waktunya nak kembalilah masuklah ke dalam cahaya putih itu di sana tempatmu." ucap Raden Mas pada Wiraja dan Sintia.


keduanya mengangguk lantas berjalan menuju cahaya putih yang sudah menunggu.


Flashback of


"Salamah nanti kita sambung lagi sudah satu jam lebih saya duduk dan bercerita disini sebaiknya kamu istirahat kesehatanmu lebih penting saat ini." ucap Kyai Hasan.


"saya masih penasaran pa Kyai tapi saya juga mengantuk." sahut Umi sambil tersenyum.


"jika begitu kami pamit dulu mau menjenguk Yusuf." ucap Ustadz Akbar.


"sebelum Abi keluar Abi boleh tidak memberikan obat ini untuk Oma Kakek Raden Mas mengajari Abi membuat obat ini untuk Oma agar mempercepat proses penyembuhan." Cerita Abi.


"Lakukanlah nak Oma percaya padamu." Sahut Umi


Tanpa ragu Abi mengambil jarum suntik dan memasukan cairan obat kedalamnya ia kemudian menyuntikan pada infus yang terhubung dengan tangan Umi salamah.


Melihat itu Ustadz Akbar dan Kyai Hasan tersenyum simpul Mereka berdua semakin yakin jika memang Abi orang yang mampu menumpas kejahatan dua manusia berjiwa iblis itu.


"Abi mau jenguk Ayah juga Oma, sekalian kasih vitamin juga buat Ayah bolehkan Oma?" ucap Abi meminta ijin sekaligus bertanya pada Omanya.


melihat kepribadian Abi membaut Ustadz Akbar dan Kyai Hasan tersenyum.


"silahkan nak Oma yakin Vitamin buatanmu itu akan membuat anak Oma cepat sehat." sahut Umi sambil tersenyum lembut.


ketiganya lantas berjalan menuju pintu dan tak lupa mengucap salam pada Umi.


"Assalamualaikum." ucap ketiganya serempak.


"Alaikum salam." ucap Umi salamah, tak lama Umi memejamkan matanya yang sudah benar-benar berat.


Di kamar rawat Yusuf, kini sudah ada Abi, Kyai Hasan dan Ustadz Akbar.


Yusuf segera bagun dan bersandar pada kasur rawatnya.


"Pa Kyai pak Ustadz." sapa Yusuf Sopan.


"Assalamualaikum nak Yusuf, maafkan kami baru bisa berkunjung kemari Yusuf." ucap Kyai Hasan dengan kesedihan nampak tergambar jelas di wajahnya.


"Alaikum Salam, sampai lupa saya mengucap salam karena terlalu senang di kunjungi pak Ustadz dan Pa Kyai." jawab Yusuf.


"bagaimana keadaanmu nak?" tanya Ustadz Akbar khawatir.


"Saya baik-baik saja pa Kyai." Sahut Yusuf.


"jika ada beban yang mengganggu mu maka ceritakanlah pada kami." ucap Kyai Hasan.


Kyai Hasan tau apa yang di pikirkan oleh Yusuf karena ia bisa membaca pikiran orang Lain namu ia tak mau menunjukannya pada siapapun.


"Saya sangat menghawatirkan Anak saya Abi pa Kyai." Sahut Yusuf.


"jangan takut berlebihan nak, ia tak sendiri kami akan membatunya menyelesaikan tugasnya." tukas Kyai Hasan.


"lebih baik tingkatkan kewaspadaan kita pergerakan mereka sudah mulai terasa meski masih dilakukan secara sembunyi sembunyi." kata Ustadz Akbar menimpali.


"Pa Kyai, pa Ustadz benar. Ayah, tidak usah cemas berlebihan Abi akan baik-baik saja." celetuk Abi.


"Ayah lihatlah ini." ucap Abi sambil menunjukan botol kecil berisi Vitamin yang dibuat sendiri oleh tangannya." ucap Abi


"Apa Ayah siap menerima ini." ucap Abi sambil menunjukan obat yang ia buat.


Abi dengan cepat menyerahkan obat dalam botol kecil itu pada Yusuf.


Yusuf membuka penutupnya. ia mencium cairan berwana kuning kehijauan itu dengan indra penciumannya. Di detik berikutnya ia tersenyum puas.


"Abi kamu semakin pinter nak, masukan saja obat cair ini kedalam infus ." perintah Yusuf.


Abi dengan cepat melaksanakan perintah sang Ayah tanpa ba bi bu.


tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat aktifitas mereka melalui kamera Cctv yang yang sudah berhasil di rantas


"kau lakukan tugasmu sesuai perintahku." ucapnya memerintah salah satu anak buah sekaligus pengikutnya.


"baik nyonya!" jawab seorang wanita yang ia perintah.


"Aku akan membuatmu tersiksa secara perlahan Anak manis agar kau jauh dari Tuhanmu dan aku basa melenyapkanmu." gumam Marcella menyeringai licik.


Hey kau bagaimana tugasmu sebaiknya kau cepat bawa pengemis itu padaku, agar ia tau berhadapan dengan siapa!!" perintah Marcella pada Anak buahnya


"baik nyonya." sahut laki-laki yang di perintah Marcella segera keluar ruagan.


tak lama ia membawa laki-laki berumur sekitar 30 Tahun kehadapan Marcella.


"Kau orang menjebak putramu masuk kedalam penjara." ucap Marcella dengan suara dingin.


"Saya hanya disuruh" sahutnya Lemah sambil tertunduk.


"siapa orang yang menyuruh dan membayarmu." bentak Marcella sambil menatap tajam.


"Aku tidak mengenalnya, orang itu memerintah laki-laki yang bernama Aron untuk menemuiku menyuruh serta memberikanku uang." jelas Laki-laki pengemis itu.


"kau jagan bohong padaku." pekik Marcella.


"saya tidak bohong, Saya memang tidak tau siapa bos besar yang meminta bantuan Aron memerintah Saya Sahut laki-laki pengemis itu bergetar.


"cepat cari laki-laki yang bernama Aron Itu Tejo." perintah Marcella pada Anak buahnya.


tanpa harus di perintah dua kali Tejo sudah meleset keluar ruangan karena Merasa Aura membunuh pada diri Marcella.


"dan kau aku akan menelpon polisi sekarang akui perbuatan dan jagan katakan apapun tentang orang yang menyuruhmu itu jika kau masih ingin anakmu selamat." ucap Marcella.


Mendengar anaknya di sebut membuat laki-laki dihadapan Marcella tak punya pilihan lain.


"Bawa Mawar kemari Bima." perintah Marcella.


beberapa menit berikutnya Mawar sudah berada di dekat sang Ayah dalam keadaan tak sadarkan diri.


"tolong lepaskan anak saya, Saya akan menyerahkan diri kepolisian sesuai keinginan Anda." ucap Pengemis itu berderai air mata.


"baiklah itu pilihan yang tepat. jika kau berkhianat dangan ucapan mu akan ku habisi dia." ucap Marcella menunjuk Mawar.


"tidak akan, anda bisa pegang ucapan saya." ucap pengemis itu sambil menatap sang putri.


"Bima kau tau apa yang sudah ku perintahkan padamu sebelumnya sekarang saat nya." ucap Marcella dengan aura membunuhnya.


"baik nyonya." sambil melangkah mendekati Sang pengemis yang semakin bergetar ketakutan.


"kau Ikut aku dan bawa belati yang sewaktu itu kau ingin gunakan membunuh Anak laki-laki di sekolahnya dan tusukan kalengan ku belati itu." perintah Bima sambil menyeret sang pengemis.


Marcella yang melihat pengemis itu pergi diseret oleh Bima tersenyum miring. "Apa ini olehmu pria tua kau pikir bisa menyembunyikan kejahatan dariku." gumam Marcella.


"Apa anda mencurigai Bos besar Aron itu orang terdekat anda." ucap Toni tangan kanan Marcella.


"Ya Ayahnya sendiri yang menjebak anaknya masuk kedalam penjara agar Aku bisa mencari simpati dan mendapatkan tempat di hati sang patra." ucap Marcella.