Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
pirasat.


Ustzd Akbar melihat aktivitas yang dilakukam oleh beberapa orang melalui kursi taman rumah sakit sambil mengobrol.


"Mars adalah keturunan dari pageran Diponogoro." jelas Akbar di sela obrolannya.


"hmmmm pantas saja Auranya begitu kuat. Tanganku seperti tersengat listrik saat menyentuh pundaknya." ungkap Kyai Hasan sambil mengingat kembali saat ia menyentuk pundak Mars.


"sepertinya dia harus masuk dalam kelompok kita." gumam Kyai Hasan.


"iya kak, untuk itu kita harus meminta persetujuan kakak pertama." sahut Ustazd Akbar.


"mari kita berpamitan pada keluarga salamah." ajak Kyai Hasan sambil berdiri dari tempatnya duduk.


"Bawa serta Mars ikut dengan kalian segera." perintah Rubah putih melalui telepati membuat Kyai Hasan serta Ustazd Akbar tersentak kanget.


"Ayo Akbar sepertinya ada yang mengawasi kita." Ajak kyai Hasan sambil berbisik.


Kedua lantas melangkah pergi menemui Yusuf untuk berpamitan. Hasan dan Akbar meminta maaf tidak bisa menunggu sampai Umi membaik, Risa dan Yusuf memakluminya dan mempersilahkan Kyai serta Ustadz kembali kepadepokan.


"kami akan berkunjung kembali jika keadaan dipadepokan sudah membaik." ucap Ustazd Akbar sambil tersenyum.


"Rumah saya selalu terbuka kapan saja pak Kyai dan Ustazd ingin bersilaturahmi." Sahut Yusuf.


Defvan dan juga Mars hanya menjadi pendengar saja tak ingin ikut berbicara.


"Nak Mars apa kamu ingin ikut dengan kami." ajak Kyai Hasan.


"jika kamu ingin ikut dengan kami tak perlu ragu dipadepokan suasana pesentren yang nak Mars rindukan akan kembali nak Mars rasakan, anggap saja kamu sedang berlibur menghilangkan lelah dan melepas beban pikiran." tukas Ustazd Akbar.


"Baiklah selama cuti aku akan menginap disana." sahut Mars mantap.


Defvan hanya mendengus kesal mendengar keputusan Mars.


"kenapa orang-orang ini suka sekali menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. bukankah lebih menyenangkan berlibur keluar negri sambil menikmati pesona alam." batin Defvan.


Kyai Hasan melirik sekilas Defvan kemudian tersenyum ramah.


"Nak Defvan jika kamu penasaran kamu boleh ikut." Ucap Kyai Hasan.


"oh tidak pak, saya punya pekerjaan penting tidak bisa membuang-buang waktu untuk hal semacam itu." Tolak Defvan tegas.


"Deff.." jaga ucapanmu Ucap Mars sambil menyut Defvan pelan.


"Ayo nak Mars." ajak Kyai Hasan seraya berjalan mendekati Abi dan Yusuf.


Abi medekati Kyai Hasan dan Ustazd Akbar segera ia mencium pungung tangan keduanya. sambil berucap ."Abi akan menunggu Kyai menjemput Abi kemari."


Kyai hasan membelai puncak kepala Abi sambil berselawat ia lalu menarik nafas dan membaca doa untuk memberi pagar gaib. selasai itu ia menepuk pundak Abi sambil tersenyum.


"Nak kami pasti akan menjemputmu nanti." sahut Kyai Hasan lembut.


Sekali lagi kyai Hasan dan Ustazd Akbar pamit dan mengucap salam kemudian berlalu meninggalkan Rumah sakit.


tak lama Defvan juga pamit undur diri tinggalah Risa, Yusuf serta Abi.


tak...tak... tak...


suara langkah kaki dokter Nicolas mendakat.


Yusuf dan Risa menoleh ke asal suara sambil terseyum dalam hati keduanya sam-sama berdo'a berharap Virus yang berada di dalam badan Umi segera bisa dimusnahkan.


"Dokter Yusuf bisa kita berbicara berdua." Minta dokter Nicolas.


sesampainya di ruang kerja Yusuf segera mendaratkan pantatnya di kursi kebesarannya sedangkan Nicolas duduk di depannya.


"Yusuf. Virus yang menyerang orang tuamu adalah Virus Marburg. Virus ini mirip dengan Virus Ebola menyebar melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya maupaun hewan yang terinfeksi. seseorang yang terenfeksi virus ini memiliki gejala seperi demam berdarah dan kerusakan organ tubuh hingga kematian." terang Dokter Nicolas.


"kau harus membuat Vaksinnya secepat mongkin Yusuf, kondisi ibumu yang belum pulih total menyebkan Virus itu dengan cepat menyerang organ tubuh ibumu." lanjut Dokter Nicolas sambil menatap Yusuf yang memijat pelipisnya.


Yusuf memejamkan matanya kemudian menerik napasnya dengan cepat tak lama kemudian ia menghambuskan napasnya kasar.


"kau bisa membatuku merawat ibuku sematara waktu Nicolas. Tolong kamu jaga kundisi ibu sebisa mongkin menekan Virus setidaknya sampai aku berhasil menembuat vaksinnya." Minta Yusuf dengan ekpresi serius.


"Ada baiknya jika ibumu Dirawat durumahmu bukankah Ayahmu memiliki kamar Khusus?" tanya Nicolas yang sudah tau jika Yasuf adalah anak dari Marcello orlando.


"Iya kamu benar, tetap saja aku memerlukan seseorang menjaga kundisi ibu selama aku berada dilaboratorium." tukas Yusuf meminta.


"kau tenanglah Yasuf kebetulan Aku mengembil Cuti selama satu minggu terhitung dari besok. Aku akan merawat ibumu dirumahmu." Sahut Nicolas sambil tersenyum.


"terimakasih Nicolas, aku akan segera mengurus semua keperluan ibu." ucap Yusuf sambil berdiri dari tempatnya duduk.


"Ya, juga akan memastikan Cutiku tidak dibatalkan karna pasien rumah sakit semakin banyak dan ada beberapa diantaranya terenfeksi virus yang sama." ucap Nicolas ikut beranjak dari tempatnya duduk.


kedua saling memberi semangat kemudian Nicolas segera pergi memeriksa pasiennya.


Di tempat lain Abi sedang dijemput oleh Ratih palang kerumah dan memeriksa toko Roti milik Risa.


"selamat sore tante Sinta." sapa Abi ramah.


"selamat sore juga Abi." sahut Sinta.


Ratih masuk kedalam toko untuk memeriksa semua bahan baku dan juga beberapa bahan sembaku serta sayur untuk kebutuhan karyawan toko.


Ratih memerintah Laura(karyawan toko) mencatat semua bahan baku yang sudah habis maupun yang sisa sedikit. tak lupa Ratih juga miminta Laura mencatat semua bahan sembaku yang diperlukan Cinta dan Laura sebagai persedian.


dengan Cepat Laura melaukan tugasnya tanpa membatah membuat Ratih tersenyum. Ratih berjalan menaiki tangga kelantai atas mengambil uang di brangkas untuk diberikan kepada dua karyawan toko. hari Risa meminta ibunya memberikan gajih untuk karyawannya.


Di meja kasir Abi dan Sinta sedang mengobrol.


"Tante Sinta Abi meminta tolong?" tanya Abi


"tentu saja aku berhutang budi padamu." sahut sinta sambil tersenyum.


"saat ini ada sekelompok orang yang berniat jahat pada Abi dan kelurga setelah gagal menyerang Abi sekarang Oma yang terkena Virus berbahaya segaja disuntikan pada selang inpus Oma oleh tangan yang tak bertanggung." jawab cerita Abi.


"Apa pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab atas kelalaiannya menjaga pasien?" tanya Sinta.


"Rekaman cctv di depan kamar oma segaja dirusak, dan orang itu menyamar sebagai suster rumah sakit saat itu tak ada satupun yang mencurigainya ia melakukan dengan cepat seperti orang yang sudah mahir dalam hal itu." tukas Abi.


"apa yang bisa ku bantu?" tanya Sinta.


"Abi merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi dengan keluarga Abi untuk itu Abi memita tante Sinta dan tante Laura mencari sebuah markas tempat untuk bersembunyi. sematra Abi belajar dan tinggal di padepokan tolong lindunggi Bunda,Grendma dan juga Ayah. bisakah tante melakukan itu untuk Abi?" tanya Abi.


"tentu saja aku berjanji akan melindunggi keluaramu sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri." tegas Sinta mantap.


"berhati-hatlah tante." sahut Abi sambil menyerahkan sebuah cek uang.


"banyak sekali ini Abi!!" seru Sinta sambil meliat nominal angka pada lembaran cek yang Abi berikan.


"simpalah sisanya tante kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya nanti." sahut Abi sambil tersenyum.